Tukang Jok Motor yang Nrimo

Nrimo adalah bahasa jawa yang berarti menerima. Kalau dibahasa Indonesiakan, nrimo berarti ikhlas menerima keadaan, ikhlas menjalani hidup, yang penting ikhlas. Hehe. Tulisan saya kali ini membahas tentang tukang Jok Motor di daerah Pandega Marta. Karena jok motor rusak akibat kecelakaan di kostan salah satu anak kost terpeleset memundurkan motor dan menyenggol motor lainnya, lalu motor itu menjatuhi motor saya (hiks), jok motor jadi sobek. Akhirnya muter-muter jogja cari tukang reparasi jok motor yang deket saja.

Singkat cerita, akhirnya nemu. Sempat bertanya berapa harganya, Rp 50.000 untuk kulit jok yang bagus. Ok. Saya ke atm dan ambil uang sebesar Rp 100.000. Pas balik, ternyata orangnya ganti. Tadi temannya sekarang tukang aslinya. Saya tanya lagi, ternyata kulit jok motor yang harga Rp 50.000 itu yang paling rendah kualitasnya (tobat…). Jadi yang bagus harganya Rp 70.000. Itu sudah termasuk jasa. Oke deh, daripada cari-cari dan bingung, saya ambil saja yang Rp 70.000 karena tanggung kalau pilih yang murah sobek lagi.

Humoris, Jawani, dan Nrimo

Ya. Itulah yang saya tangkap dari ngobrol ngalur ngidul gak jelas sama tukang jok ini. Masih muda, tapi ngobrolnya kemana-mana. Agar tidak canggung dan melawan rasa introvet saya, saya pun bertanya beberapa pajangan jok motor yang sudah dimodifikasi.

Yang saya tanyakan seputar berapa harga modifikasi sampai sebagus yang dipajang? Dengan jawaban yang tidak nyambung, dirinya menjawab, “Mas, kalau saya yang penting bukan laku tidaknya dagangan saya.” (kok malah curhat?). “Tapi menjelaskan ke konsumen kurang lebihnya dagangan saya. Jok yang dipajang itu kan banyak jahitan. Perawatannya susah. Makin banyak jahitan makin sering rembes air. Kena hujan atau masuk cucian motor. Pas panas juga gak bisa dijemur lama-lama. Jahitan bisa lepas karena kulit joknya melar.”

Ok, saya angguk-angguk saja tanda setuju. Dengan artian memang dirinya ingin menjelaskan bahwa hidupnya nrimo. “Dari pada nanti jenengan (anda) kecewa sudah modif jok mahal-mahal ternyata cepat rusak. Mending tidak usah saja.” Makin yakin saya kalau orang ini adalah orang penikmat hidupnya. Ikhlas menerima pekerjaannya. Ikhlas menjalaninya.

Akhir cerita, jok saya pun jadi. Bisa dilihat digambar, tanda panah merah itu tanda tempat sobeknya jok motor dan sudah mulus didandani. “Terima kasih loh mas sudah diperbaiki.” Tahu apa jawaban si tukang reparasi jok yang tidak saya tahu namanya ini? “Wah, saya dong yang terima kasih, sudah dikasih sarapan pagi-pagi.” Dengan tertawa lepas dirinya menyudai pekerjaannya. Saya pun diam sejenak dan berpikir, oh maksudnya sudah kasih dia rezeki kali ya pagi-pagi dengan reparasi disini.

Kesimpulannya, saya belajar nrimo tidak harus dari orang yang hebat dulu. Orang yang kaya. Atau orang yang sukses. Bahkan dari si mas-mas tukang reparasi jok ini, saya belajar bahwa dia menikmati hidupnya dengan santai. Bisa makan pagi enak ya makan, tidak ya tidak. Nrimo sajalah… Hehehe. :)

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

32 Replies to “Tukang Jok Motor yang Nrimo

  1. Tukang jok yang keren. Kita perlu banyak belajar nrimo, perlu belajar ikhlas dari dia. Pastinya rejekinya berkah.
    Thanks sudah berbagi.
    Salam!

    1. hehe, itu cuma tulisan corat-coret saja om ibrahim. Cuma kadang nulis terlalu puitis. Sudah kebiasaan sejak sekolah. Kebetulan saja. Hehehe.

    1. kadang berucap memang mudah mas fariz. Prakteknya tidak semua begitu. Hanya mereka yg sudah menjalani hidup dengan menerima ikhlas biasanya mudah untuk berucap dan melakukannya.

  2. Belajar nrimo pada orang yang termarginalkan justru lebih makjleb. kalau dari orang yang sukses mah, wajar dia nrimo dengan kesuksesannya ^^

    1. Wah, bener sekali mbak Ika. Setuju. Kadang memang yang sudah sukses sudah bisa lebih nrimo daripada yang tidak. Sedangkan yang belum sukses sudah bisa nrimo itu jauh lebih berharga.

  3. Saya dulu juga pernah diajak ngobrol beini, pas nambal ban. Bapaknya ngelihat saya sebagai prospek kali ya, banyak dibilingi berbagai hal tentang oli dan onderdil motor :D

    1. wah, saya malah gak kepikiran om tiyo kalau itu bisa jadi cara prospek mereka. Hehehe. Semoga benar2 nrimo dan bukan calon prospek (seperti mlm saja).

  4. Benar mas hanif, untuk belajar nrimo gak harus kaya dulu, justru dsaat kita berada di bawah, nrimo menjadi obat ampuh untuk selalu mengucap syukur.

    1. Iya mas ibnu. Syukur jadi jalan akhir dalam menjalani hidup agar lebih tenang. Dari ucapan sampai tindakan harus mencerminkan nrimo itu sendiri.

    1. Bener mas, bagi temen-temen yg belum tahu maksud mas arif itu,
      “Nrimo ing pandum
      Arti yang mendalam menunjukan pada sikap Kejujuran, keiklasan, ringan dalam bekerja dan ketidakinginan untuk korupsi. Inti filosofi ini adalah Orang harus iklas menerima hasil dari usaha yang sudah dia kerjakan.”

  5. Pelajaran hidup, kadang memang bisa kita terima dari siapa saja dan dari apa saja ^^
    Hidup nrimo itu indah, nrimo bukan berarti tidak giat berusaha ^^

  6. wah iya mas ya… yen nrimo opo onone iku mesthi luwih becik..

    cuman terkadang manusia penasaran nyoba yang aneh2 dulu .. pas tau rasanya gimana .. we lahdalak.. “jebule ngono”

    1. Iya, kadang yang lebih punya lebih mau coba yg aneh2. sedangkan yang tidak berpunya lebih suka nrimo saja. Yang penting hidup tenang. hehehe.

  7. salut juga dengan orang kecil dengan kerjaan sederhana bisa bersyukur dengan apa yang ia dapat dan dia kerjakan. makanya orang itu jadi nrimo dalam hidupnya.

  8. Apakah yg mas hnif certakan di atas itu nama usha nya doktorjok?..di pedega marta?..

    1. wah, kurang tau namanya dokterjok apa bukan, yg pasti pandega marta ya cuma itu setahu saya. Mungkin kiki tahu ya? sekarang usaha beliau sudah tampak ramai.

Comments are closed.