The Brain Machine, Hope City, Harapan dan Kemungkinan part 4

Sebelumnya, di The Brain Machine. Aku dan Zaigo tersungkur disisi jalan. Meminta pertolongan. Karena kejadian yang membuatku bingung. Penarasan mencari informasi tentang mereka, perampok bank bertubuh besar membuat kami berdua harus menerima akibatnya. Akibat dari mereka yang mencoba eksperimen kepada kami. Tepat di tengkuk leher belakang, tepat dimana chip ditanamkan. Berjalan tertatih meminta pertolongan, kami pun mendapatkannya.

Hope City – Harapan dan Kemungkinan part 4

Terbaring di rumah sakit, aku dan Zaigo terpisah kamar perawatan. Ini jam berapa? Mataku sekelebat menatap lampu benderang kamar rumah sakit. “Sudah sadar kamu nak?” Sapa Ibuku.

“Ini jam berapa? Kapan? Dimana?” Tanyaku tergesa sambil mencoba bangkit, namun badanku menolaknya.

“Sudah, tidur saja dulu. Kamu sudah 2 hari tidak sadar, dokter bilang ada trauma di bagian kepalamu, begitu juga dengan Zaigo. Dia ada di kamar sebelah. Ini di rumah sakit nak. Demammu tinggi kemarin, dokter belum mengijinkan untuk pulang.” Ibu menjelaskan padaku. Bajunya lusut, mungkin belum pulang sejak kemarin.

Aku mencoba mengingat kembali, mengangkat sedikit kepalaku, dan meraba tengkuk. Apa yang sudah terjadi? Dengan tubuhku? “Ibu, apa dokter bilang, soal kepalaku?” Tanyaku yang masih takut dan penasaran akan kejadian malam itu.

“Tidak ada apa-apa. Dokter cuma bilang kepalamu dan Zaigo mengalami benturan. Tidak sampai trauma berat kok. Dalam waktu seminggu akan sembuh, sedikit memar saja.”

“Ibu sudah berapa lama disini? Mana Ayah?”

“Dia masih mengurusi masalahmu dengan Ayah Zaigo. Nanti pihak kepolisian akan menanyakanmu tentang hal itu.” Ibu mencoba menjelaskan padaku, mencoba menenangkanku. Aku melihatnya dalam-dalam, dirinya hanya tersenyum. Seperti menyembunyikan sesuatu.

Aku kembali mengingat, jika benar tidak ada masalah dengan kami, lalu apa yang kami lalui itu nyata? Tentang chip itu? Tentang tengkuk kami? Tentang orang-orang yang telah menculik kami itu? Kenapa kuraba tengkuk ini tidak kurasakan bekas jahitan?

Aku tertidur kembali.

***

Aku masih memikirkan Nova. Ibu berceloteh akan keadaanku. Kecemasannya beralasan. Memang kami tergolong nekad saat itu, tapi inilah bukti bahwa kami tidak bisa diam dan menua tanpa mengusahakan apapun, tentang keadaan negeri ini yang semakin memburuk. Nova berada di sebelah persis kamar rumah sakit yang aku tempati. Tengkuk harusnya luka. Harusnya ada bekas sayatan dan jahitan, harusnya ada yang bisa ku garuk untuk membuka bekasnya. Tapi nihil. Dokterpun mengatakan bahwa aku dan Nova hanya mengalami trauma kecil, dimana ada benturan kecil yang kami derita, di kepala. Hanya memar. Tidak lebih dan hanya dalam beberapa minggu akan sembuh.

Sayangnya, aku masih tidak percaya akan hal itu.

“Mana Ayah, Bu?” Tanyaku yang masih menyusun ingatan malam itu.

“Sedang mengurus kasusmu, cerita yang kamu katakan pada Ayah, tentang Alex itu benar. Buronan yang selama ini dicari polisi. Ciri-ciri yang kamu berikan juga benar nak. Ayahmu dan teman-teman polisinya sedang mencari di tempat kamu ditemukan bersama Zaigo. Berharap Ayah menemukan sesuatu dan apa yang kamu katakan pada Ayah tentang dokter yang sudah menaruh chip di belakang kepalamu. Walau Ibu dan Ibu Zaigo sudah berkali-kali meminta dokter memeriksamu dan Zaigo, tapi tidak ada sayatan, bekas luka ataupun chip yang kamu maksudkan.”

Apa maksudnya ini? Aku mendengar semua penjelasan Ibu, namun aku merasa ingin menyangkal semua penjelasan itu. Lantas, apa maksudnya jika bukan chip itu benar adanya? Aku sudah mengingat sedikit demi sedikit mengapa Zaigo menyeretku ditepi jalan, untuk meminta pertolongan. Dia berusaha memegang tengkukku beberapa kali, dan aku yakin ada yang aneh dengan tengkukku. Apa ini hanya halusinasi? Uji coba pikiran antara aku dan Zaigo? Yang dilakukan oleh Alex sang buronan beserta komplotan dokternya.

Ah… Kepalaku berat. Aku tertidur kembali.

***

Di kantor kepolisian. Ayah Zaigo masih sibuk melihat berkas dan data dari komputernya. Seorang polisi memberikan laporannya.

“Pak, kami sudah menyisir tempat anak bapak dan temannya ditemukan. Memang benar disekitar situ ditemukan bekas lokasi penelitian, sayangnya, tidak kami temukan tanda-tanda keberadaan target pak.”

Menghela nafas panjang, “ya sudah, kamu coba cari informasi lagi, saya akan mencoba juga mencari informasi di tempat lain.”

Hari semakin sore, sebagai ayah dari Zaigo, saya mencari bukti baru keterkaitan gembong komplotan Alex dan dokter-dokternya, serta penelitiannya, tentu juga pada orang-orang komplotan berbadan besar itu. Di halaman central park, di tengah kota, taman kota ini, saya menunggu seseorang yang saya anggap mampu memberikan jawaban atas semua pertanyaan saya.

Sosok wanita setengah baya menghampiri saya. Rambutnya yang ikal terurai, sedikit keperakan, wajahnya yang sudah berkerut menandakan pengalaman panjang hidupnya, duduk tepat di samping saya dan tersenyum.

“Sudah lama sekali, sejak dirimu ingin bertanya sesuatu kepadaku, apa yang mengharuskanku datang kali ini?” Tanyanya pada saya, tegas, lugas, namun tetap tenang.

“Ah, ya, soal Zaigo, soal temannya, anakku bertemu Alex, dirinya menceritakan, Alex telah membuatnya berubah, dengan dokternya, dia menjadikan anakku subjek penelitian. Entah apa yang sudah dilakukannya.” Saya mencoba menjelaskannya.

“Begitu, aku takut ini soal N-9.”

Saya terkejut dengan jawaban itu, lalu sontak berdiri.

“Benarkah!? Bukankah program penelitian itu sudah lama dihentikan?”

“Duduklah, kamu tidak ingin ada yang tahu pertemuan kita ini bukan? Ingat, kita termasuk pencetus dan penelitian itu, sejak tragedi beberapa tahun yang lalu dan dinding besar seperti benteng ini mengelilingi kota ini didirikan, saat itu juga penelitian kita hentikan.”

“Apa mungkin ada kaitannya dengan komplotan perampokan mereka yang berbadan besar?”

“Ya, jika ternyata dokter yang kita rekrut dulu berpihak pada Alex, berarti bisa dipastikan, Alex mencoba mencari subjek baru. Efek sampingnya terhadap tubuh tentu kamu tahu sendiri kan, bahwa proyek itu untuk menciptakan super human.”

Saya terdiam sejenak. Merenung cukup dalam. Jika benar, apa yang akan terjadi pada Zaigo dan temannya. Ah, ini memusingkan.

“Pulanglah segera, awasi anakmu, jika dirinya menunjukkan tanda dari efek penelitian itu, pastilah dirinya menjadi salah satu super human yang kita maksud dan kamu tentu tahu konsekuensinya bukan? Dirinya harus dikarantina seumur hidupnya.”

Saya terdiam, dirinya meninggalkanku sendiri, berpikir. Huff, begitu sulit, bagamana keputusanku jika benar Zaigo menjadi salah satu super human itu? Harus dipastikan, saya tidak ingin darah daging saya sendiri mengalami kejadian buruk di depan hari.

Oke, segini dulu ya, biar tidak kepanjangan. Tidak pusing juga baca panjang-panjang ceritanya. Ada yang lebih dibuat padat ceritanya. Mohon kritik dan sarannya ya. Seperti yang sudah-sudah, silahkan ya, kritik sarannya, agar cerita bisa menjadi lebih menarik. Atau jika ingin, kekuatan super human apa nih untuk Zaigo dan temannya? :D hehe.

10 Comments

  1. giewahyudi 10/02/2014
    • Hanif Mahaldi 11/02/2014
  2. Yos Beda 12/02/2014
    • Hanif Mahaldi 12/02/2014
  3. Ririn 12/02/2014
  4. ronal 13/02/2014
  5. Bang Oi 14/02/2014
    • Hanif Mahaldi 15/02/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *