The Brain Machine, Hope City, Harapan dan Kemungkinan part 3

Sebelumnya, di The Brain Machine. Dalam rencana mengetahui informasi terbaru dari kepolisian, mengikuti salah satu anggota polisi untuk mendapatkan informasi itu. Aku, Nova, dan Zaigo, berjalan keluar dari kantor polisi dan berjalan mengikutinya. Di taman tidak jauh dari kantor polisi, tempat yang penuh dengan pohon rindang besar berjajar dan setapak jalan berpafing blok, ada sebuah mobil tepat persis di parkir di ujung taman.

Hope City – Harapan dan Kemungkinan part 3

“Ayo, ikut saya ke dulu, naik mobil, nanti saya berikan informasinya.” Kata anggota polisi yang tidak kita kenal namanya hingga sekarang.

“Kemana Pak?” Tanya Zaigo merasa curiga.

“Ah, jangan takut, tidak perlu curiga, karena informasi ini penting, saya tidak ingin salah bicara disini. Terlalu banyak telinga disini.” Sambil mengisyaratkan dengan tangan pada telinganya, menunjukkan arti akan banyak yang mendengar.

Dengan menghilangkan perasaan curiga yang sudah berapa kali mencoba mengganggu, aku dan Zaigo masuk ke dalam mobil. Optimisme mengalahkan kami. Jika dilihat sejenak, ini bukan mobil kepolisian. Sedan hitam mengkilat, plat mobil pribadi, pikirku, mungkin karena tidak ingin terlihat curiga dengan anggota lainnya bahwa seseorang inilah yang nantinya membocorkan rahasia pada kami. Suatu rahasia yang ingin kami ketahui.

Memasuki mobil, aku dan Zaigo duduk dibelakang. Anggota kepolisian itu menyetir, menjauh dari kantor polisi. Entah kemana, tapi sudah 15 menit berlalu kami tidak mendapatkan jawaban apapun. Sadar kami curiga, anggota kepolisian itu menyerahkan berkas yang sejak tadi ada di kursi penumpang depan. “Ini, berkas rahasia yang ingin kalian baca. Tentang komplotan perampok orang berbadan besar karena obat tertentu itu. Sebelumnya, maaf, nama saya Alex.” lalu menyudahi basa-basinya dan tetap meneruskan menyetir.

Zaigo tampak penasaran, kami sudah membaca-baca berkas ini sejak tadi, seperti berkas ini tidak lebih dari informasi biasa, apa hebatnya. “Pak Alex, dimana persisnya rahasianya berkas ini?” Sayangnya Pak Alex tidak menjawab.

“Go, jangan-jangan kita ingin dijebak, entah, maksudku, berkas apa ini? Informasinya sekedar berita biasa.” Bisikku dengan badan agak menyondong pada Zaigo.

Zaigo tampak terkejut, pikirannya melesat pada beberapa tahun sebelum ini. Jika benar Alex yang mengendarai mobil ini adalah buronan yang diceritakan sang ayah, maka benar ini sebuah jebakan. Sebuah senyuman kecil dari kaca spion dalam mobil tampak seperti jawaban bagi Zaigo yang masih terkejut.

“Benar nak, jika kalian pikir aku adalah buronan itu.” Alex, tiba-tiba menutup hidung dan mulutnya dengan masker. Udara dari AC mobil itu tiba-tiba berubah. Menjadi lebih dingin dan mengeluarkan senyawa kimia yang memusingkan. Aku dan Zaigo berusaha melawan rasa kantuk hebat tiba-tiba ini. Sayang aku dan Zaigo pun tertidur seketika.

***

Mataku nanar. Memandang kesekeliling sesaat dan masih buram. Beberapa detik lalu aku sadar. Tangan dan kakiku tidak bisa digerakkan. Kakiku diikat, tanganku diikat. Apa ini!?

Ku lihat dengan jelas, jarak 2 meter disebelah sisi kananku, tempatku berbaring diatas tempat tidur seperti ruang operasi ini, Zaigo disana, dalam keadaan tidak sadar. Aku mencoba berteriak beberapa kali membangunkannya. Tapi dirinya tidak bergeming. Panik. Bingung. Kenapa ini!?

“Sudah sadar kau rupanya.” Logat Alex terngiang di telingaku.

“Dimana ini!? Kenapa kami di ikat!?” Tanyaku buru-buru dan membentak. Aku sungguh merasa ketakutan. Mataku melihat cepat ke penjuru ruangan. Kumuh, banyak tetesan air, hanya ada alat-alat operasi, tapi ini bukan ruang operasi. Dinding tanpa cat. Apa ini sebenarnya.

“Tenanglah, nasibmu akan sama seperti temanmu ini. Ini bukan masalah pribadi. Aku mengambil kalian karena memang kami mencari subjek yang tepat untuk proyek kami. Ya, kami memilih asal. Kalian pilihannya.” Jelas Alex yang didampingi seseorang memakai kacamata dan berpaikan seperti dokter itu.

“Kenapa Zaigo? Kalian apakah dia? Kenapa dia tidak sadarkan diri?” Dokter itu mendekati tubuh Zaigo, lalu membalikkannya, terlihat bagian tengkuk lehernya ada bekas darah. Ya, darah yang banyak sekali. Ada sebuah goresan berukuran 1×1 cm disana. Apa itu? Aku mulai semakin ketakutan.

“Ini, ini adalah chip komputer tekhnologi terbaru yang tidak diijinkan lagi proyeknya. Berfungsi menjembatani kekuatan pikiran manusia dan robot. Chip ini memudahkan manusia melakukan tugasnya. Tapi, kami membuatnya dengan kemampuan lebih dari itu. Sayangnya, subjek yang sudah kami berikan, tidak bertahan lama hingga satu minggu, mereka sudah gila dan bunuh diri. Ini yang sudah tertanam di leher temanmu. Nasibmu juga akan seperti itu.” Sambil menunjukkan chip itu tepat di depan mataku. Aku menggelepar hebat. Meronta, kakiku ku gerakkan sebisanya. Tanganku ku paksa agar lepas dari ikatan tempat tidur ini.

“Cukup, hentikan. Aku tidak mau. Akan ku laporkan kalian pada kepolisian…” Tiba-tiba aku mengantuk lagi, selang infus itu disuntikkan suatu cairan, entah apa, tubuhku lemas. Aku mengantuk. Semua tampak gelap. Gelap sekali. Siapa yang mematikan lampu? Aku tertidur.

***

Mataku pelan-pelan terbuka. Perlahan melihat sekeliling. Ini dimana? Tanyaku dalam hati dan disampingku sudah ada Zaigo. Kami berada di sudut suatu jalan sepi, malam hari, gerimis menghujam tubuh kami hingga basah tidak terkira. Aku berusaha mengingat hal sebelum ini yang sudah terjadi. Ku coba lihat tengkuk leher Zaigo. Tidak ada tanda bekas sayatan atau jahitan. Lalu dimana chip itu? Yang sudah ditanam pada diri kami?

Belum habis ku pikirkan, buru-buru aku mencari bantuan. Zaigo masih tergeletak tidak sadarkan diri. Pening rasanya kepala ini. Beberapa mobil melewati kami, cuma ada beberapa saja, pikirku ini jam berapa malam? Apa memang sudah selarut ini sampai sesepi ini? Aku membobong tubuh Zaigo sambil menyeretnya mencari keramaian.

“Go, bangun, ayo, sadar dong.” Usahaku percuma, Zaigo masih tidak sadarkan diri.

“Kenapa ini? Ada apa?” Seorang wanita setengah baya menghampiri aku dan Zaigo.

“Tolong bantu, kami tergeletak dipinggir jalan, bisa tolong telponkan nomer ini,” aku memberikan no.telp rumahku. “Suruh jemput kami, ini dimana ya? Tolong suruh kesini.” Jelasku yang bingung harus berkata apa.

“Dari pakaian kalian, kalian pasti mengalami masalah yang rumit, apa harus ku telpon saja rumah sakit terdekat?” Coba Ibu itu menawarkan solusi.

“Tidak usah, tolong telp saja ke nomer ini.” Aku bersikeras memintanya. Akhirnya dia mengangguk dan menelpon nomer itu. Setelah berbincang, wanita itu memberikan kejelasannya.

“Seseorang akan menjemput kalian, aku sudah memberikan koordinat kalian disini, tunggulah disini.” Sambil memberikan payung yang bisa ku pegang sambil menyandarkan Zaigo ke tubuhku.

“Apa yang terjadi dengan kalian? Sampai bisa seperti ini?” Tanyanya yang penasaran sambil memberikan beberapa potong roti yang sudah dibelinya. “Ini roti, untuk mengganjal perut. Pasti kalian lapar kan?”

“Aku tidak tahu harus menceritakannya dari mana. Aku sendiri bingung.” Sambil terus mencoba membangunkan Zaigo, aku memakan roti pemberiannya dan merasa sangat lelah. “Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana.” Sambil mengusap air hujan yang membasahi wajahku dan Zaigo.

Sungguh kejadian ini membingungkanku. Apa maksudnya. Lalu apa chip itu sebenarnya? Apa aku sedang berhalusinasi. Terlalu lelah untuk memikirkan hal ini. Mobil yang sudah menjemput kami pun datang. Akhirnya Ayahku sendiri dan Ayah Zaigo yang menjemput kami. Masuk ke dalam mobil, dan membawa kami pulang.

Oke, segini dulu ya, biar tidak kepanjangan. Tidak pusing juga baca panjang-panjang ceritanya. Ada yang lebih dibuat padat ceritanya. Mohon kritik dan sarannya ya.

16 Comments

  1. fajar 07/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
  2. kang haris 07/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
  3. ndop 07/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
  4. dedekusn 08/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
  5. Pondokgue 08/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
  6. Bang Oi 09/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
  7. ibrahim sukman 09/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014
    • Hanif Mahaldi 11/01/2014