The Brain Machine, Hope City, Harapan dan Kemungkinan part 2

Berlanjut ke kisah sebelumnya, tentang beberapa gejolak disebuah negara, Hope city, kota harapan bagi mereka yang memiliki kuasa dan uang, serta pengaruh militer serta politik. Aku, Nova, dan seorang teman, Zaigo, berusaha berpikir dalam pikiran yang kreatif, bagaimana mengatasi kesenjangan ekonomi dan kebebasan memilih dan mendapatkan. Di Hope City, dibatasi dinding tinggi seperti mencegah dari serangan zombie atau monster godzilla, tapi kita tidak menghadapi itu. Kita menghadapi manusia, mereka yang berusaha bertahan hidup dengan cara mereka yang di kota ini dianggap liar. Menghalau itu semua? Apakah benar diluar dinding itu semua manusia menjadi bringas? Pemangsa? Atau bagaimana sebanarnya?

Hope City – Harapan dan Kemungkinan part 2

Udara pagi begitu kental segar ku hirup dalam-dalam. Sejak kemarin, Zaigo tidak biso ku hubungi. Aku yakin dirinya masih berkutat dengan pikirannya yang ingin mengubah sesuatu tentang negeri ini. Ah, biarlah. Biarlah dirinya berpikir sejenak. Konyol ku pikir, karena kita bukan siapa-siapa.

Udara pagi yang masuk ke kamarku di lantai 2, dari jendela besar yang berfungsi sebagai pintu menuju balkon dengan kaca anti peluru ini. Entah sejak kapan Ayah yang seorang kontraktor harus membangun dinding besar melingkari kota ini. Tentu juga rumah yang benar-benar seperti benteng ini. Masih berdiri di balkon lantai dua, pandanganku hanya sebatas dinding besar itu. Rindu rasanya melihat jauh keluar sana. Jauh ke luar kota, pemandangan indah, gunung menjulang, serta hiruk pikuk kota ini.

Kring, kring, kring, tok, tok, tok

“Nov, Zaigo telpon tuh, kamu terima tidak?” sahut Ibu dari luar kamarku.

“Iya, bu, bilang tunggu sebentar.” Berlalu dari balkon, ku biarkan jendela besar itu itu ku buka. Menuju keluar kamar, ku buka pintu kamar, dan menuruni tangga perlahan. Dengan langkah yang tegas, segera ku hampiri telpon rumah di ruang keluarga. Ku lihat Ayah masih sibuk melihat berita pagi ini dengan secangkir kopi hitamnya.

“Halo, Zaigo, ada apa? Ku telpon dari tadi tidak diangkat, kemana orang-orang rumahmu?” Tanyaku padanya dengan nada sedikit kesal. Di 2024, menemukan gadget modern adalah hal mudah. Hanya saja fungsi komunikasi tidak disediakan. Semua diatur dari telpon rumah. Komunikasi hanya bisa oleh aparat keamanan. Seperti Zaigo, Ayahnya seorang yang berpangkat di kepolisian. Hanya dia yang punya gadget yang ku tahu bisa menelpon diantara teman-temanku.

“Oh, sorry mas bro. Haha, Tadi Ayahku lagi genting mau tugas lagi, belum baca berita pagi ya? Orang-orang berotot besar itu kembali berulah merampok. Kini di bank dekat dengan sekitar dinding besar. Walau masih diluar, Ayah dan satuannya akan menindaknya. Maklum takut mengancam keamanan dinding.” Jelasnya panjang lebar.

“Belum sih, lalu apa?” Jawabku dingin. “Jangan begitu dong, aku mau mengajakmu ke kantor Ayahku, kita cari tahu tentang komplotan orang-orang besar karena obat seperti doping itu.” Sejenak aku menimbang ajakan Zaigo. “Ayo Nov, jangan kelamaan mikir deh.” Sahur Zaigo yang kudiamkan sejenak itu. “Sebentar, nanti ku telpon lagi, biasa izin sama Tuan Rumah dulu.” Telpon pun ku tutup.

Aku menghampiri Ayah yang sedang asyik dari tadi menonton televisi itu. Duduk disampingnya dan menemaninya menonton. “Ada apa? Pasti Zaigo lagi. Kali ini mengajakmu kemana? Kan sudah ayah bilang, jangan jadi sok pahlawan, dunia sudah kritis sejak 2 tahun lalu, jangan mencari resiko.” Sepertinya Ayah sudah tahu aku kali ini merajuknya. Tapi seperti biasa, aku tetap meminta izinnya. “Boleh ya Yah, boleh ya…” Ayah mematikan televisinya. “Boleh, lebih hati-hati, jangan sok pahlawan, jangan seperti yang sudah-sudah, Ayah malas berurusan dengan Ayahnya Zaigo yang polisi itu sejak kamu ketahuan beberapa kali bersama Zaigo mencoba keluar dinding itu tanpa pengawasan. Ok?” Aku hanya mengangguk cepat.

Bergegas sarapan, mandi, lalu berangkat ke rumah Zaigo. Tentu setelah menelponnya bahwa aku siap ikut ke kantor Ayahnya. Berita di televisi tidak lebih hanyalah polesan. Datang ke kantor Ayah Zaigo malah mendapatkan informasi secara jelas. Dengan kaos bergambar iron man dibalut kemeja lengan panjang yang tidak ku kancing, celana jeans biru pudar, sepatu sneaker, jam tangan, serta gadget siap menemaniku. Lalu berpamitan dengan Ayah dan Ibu, segera menuju halte bus terdekat. Di 2024, penggunaan kendaraan pribadi juga dibatasi dan diawasi. Lagi-lagi karena pemerintah ingin mengontrol semua gejolak dari dalam kota yang berada didalam dinding besar ini. Rumah Zaigo kurang lebih 5 kilometer jaraknya dari rumahku.

“Lama sekali, izinnya susah dari Ayahmu?” Ledek Zaigo.

“Tidak, bus penuh hari ini, entah kenapa.” Jawabku sekenanya. “Kamu belum tahu kalau orang-orang pada bepergian dan pindah ke negara lain yang lebih stabil? Ada diberita kok, ah, kamu saja yang tidak pernah suka lihat berita.”

Ayah Zaigo dengan seragam lengkap kepolisiannya sudah siap. Tidak dengan seragam kepolisian di tahun-tahun sebelumnya, seragam kepolisian kini lebih mirip agen rahasia pemerintah, serba gelap, serba berompi anti peluru. Kami pun mengikuti Ayah Zaigo untuk segera naik ke dalam mobil yang juga seperti tank itu. Oia, rumah Zaigo tidak sama denganku, walau Ayahku dan teamnya yang mendesainnya, rumah Zaigo lebih banyak persenjataan baik senapan maupun pisau. Tidak jarang kami meminjamnya tanpa izin untuk sekedar menghabiskan ratusan selonsong peluru di hutan kota. Tidak jarang juga kami beberapa kali ditangkap karena dilaporkan oleh orang-orang sekitar.

“Bagaimana kabar keluargamu Va? Baik? Apa Ayahmu masih marah pada Om?” Tanya basa-basi Ayah Zaigo yang penuh senyum. Keramahannya bertolak belakang dengan kebanyakan anggota aparat lain yang cenderung lebih dingin sikapnya. “Baik kok om, oia, terima kasih sudah diizinkan ikut Zaigo ke kantor.” Ayah Zaigo hanya tersenyum.

Sesampainya di kantor kepolisian, kantor Ayah Zaigo, aku dan Zaigo hanya diijinkan memasuki ruang kerja terbatas. Ya, hanya untuk pengunjung saja. Tapi sudah cukup bagi kami karena berita tentang orang-orang berbadan besar itu sedang dibicarakan oleh banyak anggota kepolisian disini. Kami bisa mencuri dengar.

“Yah, apa orang-orang berbadan besar itu seperti cerita Hulk itu?” Tanya Zaigo pada Ayahnya yang telah selesai rapat dengan petinggi kepolisian lainnya. “Hahaha, tidak, itu hanya mitos dan kartun semata, data yang didapat mereka hanya lebih besar hingga 50% dari sebelumnya. Wajah sudah berhasil diketahui dan diidentifikasi. Itu karena mereka mengembangkan obat seperti doping. Tapi kemampuan fisik mereka naik sejauh itu. Satu orang yang berhasil ditangkap kemarin sudah masuk uji lab. Semoga tidak semakin parah untuk yang belum kita tangkap.”

Aku mendengar hal itu cukup terkejut. Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang ingin ku tanyakan. “Om, lalu apa mereka tidak bergerak cepat ya? Lalu bagaimana kok bisa tertangkap?” Ayah Zaigo menjawabnya dengan antusias. “Wah, kamu memikirkannya juga. Ya, orang-orang itu berbadan besar, sayang mungkin obat mereka belum sempurna. Otot dan tulang mereka kokoh, itu laporan sementaranya, tapi gerakan mereka tidak selincah sebelum menggunakan obat. Walau beberapa kali peluru tidak mempan menembus kulit mereka, tapi jika ditembakkan beberapa kali ditempat yang sama, tembus juga kan, lalu penggunaan obat itu mengurangi kemampuan otak. Sayang mereka tidak sehebat kami dalam berorganisasi. Kami unggul dalam penyergapan dan penyerangan.”

Aku dan Zaigo saling berpandangan. Ini menarik. Sangat menarik. Walau kami tidak bisa lebih lama disana karena Ayah Zaigo akan rapat lagi dan jam kerja pengunjung ke kantor kepolisian sudah hampir habis. Atau memang akan ada informasi khusus yang tentu orang seperti kami tidak bisa mendapatkannya. Aku dan Zaigo akhirnya beranjak pulang, keluar dari kantor polisi, namun ada seseorang yang memanggil kami dari seberang jalan. Berbaju polisi juga. Mungkin teman Ayah Zaigo. Zaigo tidak mengenalnya, tapi apa salahnya menghampirinya. Toh, masih disekitar kantor polisi juga.

“Ada apa ya pak?” Tanyaku. “Oh, tidak, saya lihat tadi didalam, kalian tertarik dengan kasus ini, saya punya info lebih apalagi uptodate, tentu Ayahmu juga pasti tidak memberi tahu.” Sambil menunjuk ke arah Zaigo. “Apa akurat?” Tanya Zaigo penasaran. “Tentu, bahkan besok kalian bisa mengklarifikasi informasi ini besok di kantor.” Mendengar hal itu, kami begitu antuasias. “Kalau mau ikut saya.” Tanpa basa-basi lagi, seorang anggota polisi ini pergi berlalu meninggalkan kami. Tanpa pikir panjang lagi, kami mengikutinya.

Duh, capek juga nulisnya. Hehe, semoga masih penasaran ya. Masih ada bagian-bagian selanjutnya yang bisa bikin penasaran. Masih belum baca yang pertama silahkan ke bagian menu diatas “Fiksiku” untuk melihat keseluruhan.

22 Comments

  1. ronal 03/01/2014
    • Hanif Mahaldi 04/01/2014
  2. Gusti 'ajo' Ramli 03/01/2014
  3. Blogs Of Hariyanto 03/01/2014
  4. Naufal 03/01/2014
  5. kang haris 04/01/2014
  6. Ongki 04/01/2014
    • Hanif Mahaldi 04/01/2014
  7. Budi Majid 04/01/2014
    • Hanif Mahaldi 04/01/2014
  8. indobrad 04/01/2014
    • Hanif Mahaldi 04/01/2014
  9. ndop 05/01/2014
    • Hanif Mahaldi 06/01/2014
  10. ello aris 06/01/2014
    • Hanif Mahaldi 06/01/2014
  11. farizalfa 06/01/2014
    • Hanif Mahaldi 06/01/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge