Ternyata Ini Bukan Pantofel

Oke, kembali lagi salah arti dan penggunaan bahasa dan kata. Pantofel itu ternyata sepatu tanpa tali. Identik dengan sepatu kerja. Tapi bagaimana dengan sepatu yang bertali tapi mirip dengan sepatu kerja? Sama ternyata, setelah ngubek-ngubek simbak google, sepatu yang bertali di berbagai toko online khusus orang kerja ternyata namanya juga pantofel. Lalu ada penggunaan kata pantovel. Tidak memakai F tapi memakai V. Kesalahan eja ini sudah membumi. Jadi ya sudah, yang benar adalah pantofel dan bukan pantovel.

Bahas apa sih ini mas hanif? Hehehe, karena besok adalah hari sakral saya yang akhirnya lulus juga dari kampus kerakyatan (katanya sih gitu) yaitu Universitas Gadjah Mada, tentu mencari sepatu pantofel adalah keharusan (mau wisuda). Sudah kesana-kemari ternyata minjem pun tidak ada yang cocok dengan ukuran kaki yang berukuran 33 atau 8 ini. Akhirnya mau tidak mau beli juga deh.

Karena sudah mendesak, sepatu yang dipilih haruslah berkualitas, nyaman, dan murah meriah. Hore… Akhirnya dapat juga di BATA. Ini adalah salah satu dari perusahaan nasional yang sudah lama bersegmen sasaran sepatu lokal. Dulu sih kenal BATA dari jaman bocah. Sepatu untuk anak-anak. Eh, sekarang transformasinya sungguh mengagumkan. Dulu modelnya old school atau ketiggalan zaman. Sekarang model populer yang juga diproduksi produsen sepatu kelas internasional, BATA juga memproduksinya juga. Walau tidak sama persis, tapi setidaknya mirip lah. Rasa nasional aja. Hehehe.

Masak Sih BATA punya orang Indonesia?

Ternyata salah. Hahaha, akhirnya rasa nasional tidak jadi deh. Rasa Internasional tapi harga lokal yang benar. Perusahaan BATA sudah ada sejak tahun 1894 dan didirikan di Zlin, Cekoslowakia. Kenapa banyak beranggapan ini buatan Indonesia? Saya analisis setelah beli sepatunya ya. Pertama karena packagingnya tidak berkesan. Bayangkan kardusnya warna hijau muda pudar dan dibungkus menggunakan plastik kresek hitam. WHATS!!! (agak lebay).

Oke, yang kedua, harganya tidak menunjukkan kelasnya. Bayangkan anda beli sepatu pantofel kelas impor. Apapun mereknya, walaupun desainnya standar, harganya pasti selangit. Rp 200.000 belum tentu dapat. Kemarin saya beli, harga di etalasi dicantumkan Rp 350.000 sekianlah. Eh, pas dibayar, harganya malah sampai Rp 260.000an. Padahal tidak lagi diskon. Ini salah masukin kode barcode, atau emang harganya segitu?

Ketiga, banyaknya sepatu bata emang berkualitas untuk anak-anak. Entah banyak yang memilih sepatu remaja itu merek distro. Atau sepatu dewasa merek yang lebih impor. Tetapi sepatu anak merek apa? Inilah mengapa BATA menyediakan sepatu anak yang lebih trendi. Jadinya BATA kental dengan merek sepatu anak-anak dibandingkan orang dewasa. Persepsinya sih begitu. Entah dipandangan teman-teman bagaimana.

Nb: Ini bukan artikel review kok. :D cuma emang kebetulan belinya itu, dan moment besok moment yang membahagiakan :D

23 Comments

    • Hanif Mahaldi 23/11/2013
  1. papapz 19/11/2013
    • Hanif Mahaldi 23/11/2013
  2. indobrad 21/11/2013
  3. hlga 21/11/2013
    • Hanif Mahaldi 23/11/2013
  4. yudi 21/11/2013
    • Hanif Mahaldi 23/11/2013
      • kopisusu 05/12/2013
        • Hanif Mahaldi 06/12/2013
  5. giewahyudi 22/11/2013
    • Hanif Mahaldi 23/11/2013
  6. Nurul Imam 23/11/2013
    • Hanif Mahaldi 23/11/2013
  7. kopisusu 05/12/2013
    • Hanif Mahaldi 06/12/2013
  8. Missplus 18/10/2015
    • Hanif Mahaldi 20/03/2016
  9. HargaHP 25/02/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge