Selara Musikku Tetap Melankolis

musik melankolis

Akhir-akhir ini sering galau, gak papa, kita sama, tidak ada manusia yang gak galau. Galau karena gaji gak kunjung naik? Galau karena kekasih? Galau karena belajar mati-matian gak juga pinter? Galau tidak perlu disempitkan maknanya, luas sekali. Jadi biarlah rasa resah, gelisah, kemarahan kita masukkan saja dalam kegalauan. Hehe, oke. Bukan galau yang ingin dibahas di panjangnya hibernasi tidak karuan dari blog saya ini. Padahal sudah sejak tahun 2013 dan hanya 63 artikel yang berhasil saya tulis (termasuk artikel ini). Oke, bukan itu juga yang akan saya bahas.

Sudah sejak lama, musik mempengaruhi masa perkembangan remaja yang saya alami. Radio adalah wahana satu-satunya kala itu, berkirim pesan, atau request lagu. Hingga radio punah begitu saja, terganti dengan Mp3 dan iPod, ya, mau bagaimana lagi, musik akhirnya kandas juga dari hidup saya. Memasuki dunia kuliah, di pagi hari kalau tidak ada kuliah, biasanya di SCTV ada inbox yang menampilkan band-band yang dulu pernah saya dengar di radio. Live lagi. Lumayan kan walau cuma dari tipi. Tapi itu juga akhirnya kandas. Setelah banyaknya band baru yang lagunya cuma ngikutin pasar, dan fokus pada acara seru-seruan (yang saya pikir gak seru juga tuh diadain di tipi). Tapi ya sudahlah, kandas lagi.

Kuping ini akhirnya dimanjakan kembali, setelah sekian lama, musik yang kandas bisa bangkit lagi dalam diri. Sheila On 7 akhirnya meluncurkan single terbaru lapang dada yang membuat hati getir lantaran pengalaman pribadi. Selidik punya selidik, saya nonton vidio clipnya di youtube. Jadi, pasti ada recommended atau related vidio lainnya yang berhasil membawa saya ke Payung Teduh. Sayapun mulai suka dengan musik lagi, terutama dengan genre melankolis-melankolis yang orang bilang genre folk, genre jazz, atau apapun itu. Saya mulai suka bukan cuma karena nadanya. Tapi liriknya, tidak standar. AntiMainstream!

Lagu payung teduh yang paling favorit tentu cuma dua. Yaitu berdua saja, dan untuk perempuan yang sedang dalam pelukan. Teringat jaman kuliah dulu sering banget ke Jazz Ben Senen (bener apa gak ya tulisannya? Hm… Ntahlah) yang sering diadakan oleh pihak kompas Jogjakarta di pelataran kantornya di selatan Gramedia. Setiap senin malam, pasti kesana, lumayan loh, bayar parkir, bertiga motoran sama teman kampus dari jam 9 malam, sampai jam 12 malam, dengertin musik Jazz. Dari band yang pemainnya semua pegang gitar bass. Dari yang duet saksofon, keren-keren deh. Namun tidak dilanjutkan lagi karena sudah tidak ada teman nongkrong. Hehe. Sempat loh berpapasan sama Butet Kartarajasa (bener lagi gak ya tulisannya? Hm… Ntahlah) pas nonton itu. Jadi ya nuansa banget deh.

Beralih dari payung teduh lalu ke beberapa band Indie yang melankolis, sampai mas tulus. Dari sewindu, baru, jangan cintai aku apa adanya dan gajah. Yah, aku mulai menikmati lagi musik-musik tidak standar yang sekali dua kali dengar juga bingung. Tapi jujur ini menyenangkan sekali. Musikku beralih. Tidak sekedar pop jaman SMP-SMA yang serba nangis bombai. Jadi yang lebih mendewasakan. Jadi yang lebih memahami hidup tidak sekedar rasa galau tanpa solusi.

Oke, bagaimana denganmu? Sekarang sih, saya lagi dengerin lagu Payung Teduh yang rahasia. Ah. Pas banget mereka munculnya di usia saya yang baru lewat 25 ini. Jadi lebih berasa kalau kita harus segera melahirkan karya kembali. Maaf agak gak nyambung. So, enjoy the music, cari yang liriknya dalam, nikmati, hayati, dalam hening, secangkir teh atau kopi, dengan rokok atau tanpa rokok, sendiri atau berdua, untuk sejenak mengukur kembali rencana dan syukur atas yang kita dapati.

Nb: gambar diambil dari berbagai sumber dan digabungin secara paksa. Hehe.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

32 Replies to “Selara Musikku Tetap Melankolis

  1. Kalau saya sih musiknya ga dibatesin. Kadang suka lagu-lagu melow, tapi kadang juga suka dengerin musik cadas. Tergantung mood dan moment saja sih.

  2. Sama kaya mas Gie, saya lagu apa aja mas yang penting enak didengernya :) tapi udah ga terlalu sering dengerin musik si kalau sekarang mah :)

  3. UDah jarang banget denger radio sama nonton tipi. APalagi acara musik di tipi sekarang yang ngga banget.
    Palingan suka liat youtube aja. Itu pun paling video-video cover akustikan lagu-lagu hits jaman sekarang

    1. Iya, sekarang banyak youtubers, banyak yg cover2 lagu. Saya sih kurang suka sama cover lagu kalau membanjiri timeline youtube. Jadi bingung nyari vidio clip musisi aslinya.

    1. Masih dong mas helga. :D haha, walau jarang ngepost di blog ini, tapi di blog lain ada sih. Iya, pertama denger emang musiknya agak gak biasa, lama2, nyaman juga di dengerin.

  4. tak sempatkan mampir kesini nip,
    waktu itu aku main ke house of coffee-nya mas agus di daerah err lupa dimana haha..
    kata mas agus, cara menikmati waktu ala orang jawa adalah dengan kopi dan rokok.
    mungkin tak tambahi. sebagai sesama perantauan jawa – kalimantan.
    cara kita menikmati perjuangan ala perantauan adalah kopi, rokok dan satu lagu melankolis pilihan. ahahaha..

    1. Haha, aku lagi galau neh, tapi ya sudahlah, hidup kita emang berkisar masalah kegalauan semata. Tapi yakin kita sukses bareng. Thanks sob udah mampir. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *