Selamat Tinggal Gigi Gerahamku

Seperti artikel anak-anak kuliahan lainnya, (cie… kan udah lulus sob), saya sekarang mau menceritakan tentang pengalaman OD atau Odontectomy. Operasi gigi geraham bunggu yang tak jelas apa maksudnya. Ya, tak jelas, ada yang aneh. Karena gigi itu diciptakan untuk tumbuh sebagaimana mestinya. Tapi hampir disetiap orang, gigi bungsu geraham ini mengalami kasus tidak tumbuh seperti gigi-gigi yang lain. Sedih? Sekali. Operasi itu terjadi senin kemarin tanggal 3 Maret 2014.

Jika tidak operasi bagaimana? Bisa sih, asal tidak pusing kepala aja. Saya sendiri operasi gigi bungsu geraham bawah kanan. Ya ampun bentuknya tidur gitu. Bisa dilihat di tampilan gambar yang sudah saya berikan. Kasus gigi saya yang cukup rumit. Yaitu horizontal. Weleh-weleh, operasi membutuhkan waktu 3 jam untuk dokter residen (bukan yang spesialis loh, beda harga soalnya). Pilih yg murah tapi gak murahan kan. Soalnya rekomendasi ke dokter gigi mulut UGM di fakultas kedokteran gigi.

3 Jam dan hampir 3 dokter yang menangani. Bagaimana tidak. Gigi itu dihancurkan jadi dua. Jadi diambil satu persatu. Agar tidak ada beban tumpuan pada rahang. Jujur dipotong menjadi dua itupun rasanya sangat sakit, padahal udah di bius. Dua kali juga biusnya. Sehabis di cabut yang melelahkan karena cuma bius lokal dan disuruh mangap terus, nah, dijahitnya apalagi.

Ya sudahlah, sudah mau hari ke tiga juga pasca operasi. Akibatnya operasi selain pendarahan, saya mengalami bengkak gusi hebat. Susah makan, mangap, mau gak mau buburan terus, sama eskrim. Haha, saya suka jus dan eskrim. Cepat sekali membantu mengecilkan bagian gusi yang bengkak pasca dicabut giginya.

Ada yang punya pengalaman sama gak nih soal gigi-gigian? Saya pernah iseng tanya ke dokter, “dok, tulang kita kan berhenti tumbuh usia 20-25 tahun, kok ya giginya numbuh terus sih?” dokter tertawa dan bilang, “rahang kita yang semakin lama semakin mengikuti usia, tidak sebesar dan dapat menampung semua gigi. Makanya semakin tua masalah gigi semakin menjadi-jadi ntar.” Awalnya saya tidak percaya, tapi ada pasien usia 50 tahunan duduk bersama saya, sayapun langsung percaya. Benar juga ya, mending sakit diusia 20 tahunan daripada usia 50 tahunan susah makan. Hadeh… Tobat deh.

26 Comments

  1. ysalma 05/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  2. dimycorner 05/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  3. dafhy 05/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  4. Prapto Sragen 06/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  5. Fazri 06/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  6. Ongki 07/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  7. udafanz 07/03/2014
    • Hanif Mahaldi 07/03/2014
  8. ndop 08/03/2014
    • Hanif Mahaldi 08/03/2014
  9. hlga 08/03/2014
    • Hanif Mahaldi 09/03/2014
  10. ronal 10/03/2014
    • Hanif Mahaldi 10/03/2014
  11. Zizy Damanik 10/03/2014
    • Hanif Mahaldi 12/03/2014
  12. Darin 16/03/2014
    • Hanif Mahaldi 16/03/2014
  13. kirana 07/04/2014
    • Hanif Mahaldi 07/04/2014