SciFi Karyaku, Iseng dan Coba-coba

Ok, karena blog ingin dibuat lebih pribadi lagi, berarti selain menulis non-fiksi, pasti ada keinginan juga nulis fiksi. Kebanyakan berbentuk novel atau cerpen. Hm… Kita sebut saja ini cerbung atau cerita bersambung. Topiknya saya ambilkan scifi. Hehe, karena kerajingan nonton film serial amerika seperti arrow (bertopik dari superhero hawkeye), lalu ada almost human (polisi yang bekerja sama dengan humanoid atau robot manusia), lalu ada heroes (cerita tentang sekumpulan orang berkekuatan super seperti mutan), lalu ada smallvile (mirip seperti heroes tapi latarnya diambil dari superman), lalu terakhir ada supernatural (ini tentang pencarian ayahnya dan berburu hantu ala amerika).

Nah, karena itu, disini mau dicoba nih, siapa tahu teman-teman suka. Soalnya scifi masuk penerbitan rada susah. Kurang pasarnya. Jadi dicoba gratis saja. Toh, fiksi tentang ini kreatifitasnya banyak. Cenderung lebih menghayal, cenderung lebih suka-suka penulis. Kadang tidak peduli tentang hal-hal yang dianggap mustahil. Duh, jadi merinding pengen nulis nih. Jadi kritikan tentang cerita yang ngawur lebih banyak masuk ke dalam scifi karena benar-benar hampir sulit ada didunia nyata. Contohnya seperti novel harry potter, hunger game, sama twilight. Oke, langsung saja yuk.

The Brain Machine – Hope City, Harapan dan Kemungkinan part 1

Siapa yang tidak ingin, kembali pada masa-masa damai dulu. Pasti semua ingin. Termasuk diriku. Hidup dalam kebahagiaan, canda tawa, bersama teman atau saudara. Waktu itu, tahun 2014. Keadaan masih sangat indah dinikmati dengan secangkir kopi di hujan rintik sore hari. Tapi sekarang, di tahun 2024, semua begitu berubah. Semua begitu berbeda.

Keadaan ekonomi merosot hebat, sejak 2 tahun lalu. Di negaraku, satu wilayah dengan yang lain menjadi menegangkan. Setidaknya dua kota yang bersebalahan saja, bisa berbeda keadaan ekonominya. Si kaya dan si miskin. Begitu kental terasa hampir disetiap hari. Hingga pemerintah daerah mencoba membentengi kota-kota mereka, daerah-daerah mereka. Dengan dinding-dinding tinggi. Pikirku, ini seperti benteng dari serangan monster setinggi 24 lantai, konyol.

Aku, Nova, laki-laki berusia 28 tahun, bersama seorang teman, Zaigo, laki-laki berusia 26 tahun, telah hidup ditengah-tengah kepenatan ini. Peraturan yang melarang kami keluar dari Hope City, dibatasi benteng-benteng ini, isu bahwa diluar sana lebih mengerikan dari bayangan kami, dan kami pikir, ini tidak hanya terjadi di sini, di Affluent Country.

“Sudah baca berita tadi pagi?” Zaigo, membuka pembicaraan, disaat aku tak ingin membicarakan apapun.

“Sudah, tentang demonstrasi dan bentrokan di bibir tembok besi itu kan maksudmu?” Jawabku sekenanya.

“Ya, terjebak disini memang membosankan Va, aku sendiri memikirkan, adakah harapan kita untuk keluar dari sini? Berpetualang mungkin.” Pandang Zaigo keluar jendela, ya, ini dikamarku, di lantai 2, perumahan yang dulu ramai orang mudah berinteraksi, kini menjadi mencekam karena kecurigaan dan ketidakpastian.

“Haha, jangan bercanda, untuk apa kita keluar dari sini? Cari mati? Disana lebih mengerikan Go,” tawaku lepas menimpali jawaban dan pertanyaanya.

“Ya, kamu sama saja Va, lihat yang kita pakai, baju bagus ini, celana, sepatu, fasilitas ini, rambut yang rata-rata sama, kita seperti robot. Tidak lebih dari sekedar menikmati fasilitas tanpa merasakannya.” Aku hanya melihatnya heran.

“Kenapa jadi serius gini Go? Santai masbro…” tepukku pada pundak tegasnya dia. Ya, Zaigo orangnya meledak-ledak. Emosi positifnya, ingin mengubah sesuatu yang dia rasa tidak semestinya.

“Aku tidak bisa santai. Pasti ada yang salah, pasti ada yang bisa kita ubah.” Aku tersenyum menandakan pemahaman tentang sikapnya.

“Ya, ada benarnya pasti ada yang salah Go, Tapi kamu juga tahu, ini sudah kebijakan pemerintah. Ini bukanlah hal yang bisa diselesaikan oleh 2 orang dewasa seperti kita ini. Apa untungnya? Bagaimana caranya? Atau bisa jadi ini tidak hanya di Indonesia, dengan arti, ini terlalu rumit buat kita, sudahlah, buang jauh pikiranmu itu, tetaplah disini.” Aku meninggalkan Zaigo yang masih menatap keluar jendela. Tatapan penuh arti ke dinding-dinding besi raksasa itu. Aku yakin dia tidak mendengarku tadi.

Di tahun 2024, dimana ekonomi menggerus karena korupsi semakin berkurang, tapi ekonomi dunia semakin terpuruk. Negeri ini tidak bisa berdiri sendiri, selalu ada negara lain yang mempengaruhi ekonomi di negeri ini. Hope City, Affluent Country, saat orang lain masih menaruh harapan. Tentang bahagia mereka. Berlomba-lomba menciptakan sesuatu yang bisa mereka gunakan. Untuk Kehidupan diri sendiri. Tidak jarang, temuan mereka malah digunakan untuk berbuat jahat pada orang lain.

Harapan memang masih bisa ada disini, tapi entah, sampai kapan. Zaigo yang sejak tadi memandang ke luar jendela saja tidak beranjak. Aku hanya memikirkan banyaknya berita yang ku lihat di televisi tadi pagi. Orang berlomba-lomba menciptakan kemampuan diri diluar batas mereka. Diwilayah timur kota ini ditemukan kejahatan perampokan dimana pelaku adalah mereka berbadan besar. Polisi mengidentifikasi bahwa mereka menggunakan obat tertentu untuk menciptakan badan besar itu. Tidak berhasil tertangkap. Sungguh ironi. Itu dari sekian berita yang ku lihat. Karena masih banyak hal aneh di tahun ini.

oke berlanjut ya, maaf kalau judul masih seperti itu, karena baru belajar buat novel. Belajar kembali maksudnya.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

21 Replies to “SciFi Karyaku, Iseng dan Coba-coba

  1. Wow, kayaknya aku harus ke tahun 2024 deh, mau mencoba ramuan yg bisa bikin badan jadi besar ituuuh.. lalu coba menghancurkan temboknya

  2. Keren tu ceritanya.
    Kalau aku lebih seneng cerita di masa lalu.
    tapi cerita SciFi yang ini emang keren banget.
    lanjutin terus mas.

  3. ngebaca sekilas kebayang kalo lanjutannya mereka bakal perang ngelawan pemerintah affluent :p

    btw di tahun 2024 masih jaman ya manggil masbro? hahahaha

  4. sama sekali gak ada maksud menggurui mas
    tapi alangkah lebih baik klo memperbanyak unsur indonesia, misal nama tempat atau nama tokoh figuran atau nama belakang tokoh utamanya

    siapa tau suatu saat cerita ini go internasional

    1. cuma iseng mas angga, kalau serius dijadiin novel, ya pakai nama2 yg asli indonesia aja. Jadi kalaupun banyak yg suka, saya juga enggan menawarkan ke penerbit, :D
      tapi terima kasih kritiknya, saya masih terkendala menggunakan kota mana atau nama siapa yg asli indonesia.

      1. klo saya kan sering bacanya komik (dan beberapa light novel jepang)

        mereka pake nama daerah yang ke jepang2an walaupun sebetulnya di sono gak ada daerah itu
        siapa tau bisa nambah ide hehe..

        1. begitu ya mas, wah, saya baru tahu, saya kira, fiksi murni dunia khayalan, jadi tidak berdasar hal2 fakta. Walau begitu, saya juga baru tahu ternyata hal2 fakta seperti untuk riset bisa dijadikan fiksi. :D terima kasih infonya mas.

  5. Ah jadi inget sama proyek fiksi “Megapolitan Bandung” saya. Thriller-suspense berlatar futuristik.
    Gimana nih kalau bikin barengan, omnibus gitu bang? Kayanya seru. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *