Saat Ibu-ibu Akhirnya Memilih Jualan Dari Rumah

ibu jago jualan

Kalau kamu mencoba mencari judul diatas, apa yang bisa kamu temukan? Benar! Segala macam ide usaha rumahan. Paling tidak adalah ide bisnis untuk ibu tangga yang modalnya kecil. Padahal banyak ibu-ibu, dan mungkin termasuk kamu yang sebenarnya tidak kesulitan mengenai idenya. Tapi kesulitan mengenai cara menjalankannya.

Ibu-ibu terlalu dipusingkan dengan ide memulai bisnis, bisnis yang cocok, padahal ya semuanya cocok. Ketidak cocokan kita dengan suatu bisnis adalah masalah sistemnya, ketidak pahaman kita dengan produknya, dan salah membangun tim yang mengerjakannya. Bagaimana kalau akhirnya para ibu ini memilih harus berjualan dari rumah. Offline atau online?

Di sini saya akan membahas yang online ya. Yang offline berarti tidak menggunakan internet sebagai sarana promosinya. Jadi rumah Ibu kebetulan ada di pinggir jalan yang sering dilalui orang dan cukup ramai. Jadi mungkin tidak memilih dionlinekan. Dan itu tidak masalah. Saya akan membahas yang online.

Kalau dipikirkan, apa yang para ibu khawatirkan soal bisnis online?

  1. Tidak laris, rugi bahkan sampai bangkrut. Padahal tujuannya untuk membantu ekonomi suami.
  2. Uang yang hilang entah kemana. Karena manajemen keuangan juga butuh ilmu. Rekrut karyawan akuntansi juga tidak murah.
  3. Banyak pelanggan akhirnya komplen, malah bingung kok pada komplen. Ternya ada triknya juga untuk membuat pelanggan puas.
  4. Waktunya gak ada. Merasa kalau ngurus anak, pekerjaan rumah, ngurus suami itu juga butuh waktu yang banyak.
  5. Mengenal hal-hal yang juga bisa membuat jualan jadi gagal.
  6. Sudah jualan di toped, bukalapak, facebook, instagram, tetep gak ada hasilnya. Butuh pelajaran khusus soal jualan di sosial media, ya kan?
  7. Ternyata yang jualan produk seperti ibu sekarang ini banyak, lalu mengalahkan kompetitor jadi kepikiran, karena kalau gak ya produk kita gak akan dilirik kan?
  8. Kalau sudah jualan, berapa nih perbulannya produk yang berhasil dijual? Bukannya pengen jualannya ditingkatin?

Berbagai kekhawatiran itu sebenarnya sudah ada jawabannya. Tapi setelah mendapatkan semua jawaban itu, apa lagi yang paling bisa membuat ibu khawatir soal jualan dari rumah?

Bingung Cari yang Mau Ngajarin

Jujur saya belajar ngeblog itu otodidak. Dari internet ke internet, artikel bahasa inggris, buku-buku, dan begitu juga ilmu soal bisnis online. Masalahnya adalah semua itu butuh waktu tahunan. Setidaknya saya benar-benar bisa ngeblog, paham menulis yang baik, paham juga sistem jualan online dan trik serta cara yang tepat butuh waktu minimal 3 tahun. Waduh, kalau ibu semua gimana? Masak iya mau menjalani masa proses yang sama dengan saya sampai 3 tahun? Bahkan bisa lebih loh Bu.

Maka dari itu, saya bisa menekan biaya yang dikeluarkan untuk membuat website, ikut program reseller, atau mencari agen-agen yang bisa memberi harga miring. Ada hal lain yang tidak bisa saya dapati adalah perlunya mentor atau guru yang tepat. Guru inilah yang punya pengalaman, merupakan praktisi di bidangnya, dan berhasil. Bahkan masih memiliki bisnis dan menjalakannya.

Bagaimana dengan mentor jualan ala ibu-ibu? Berarti mentornya juga ibu-ibu kan? Tentu. Apalagi target konsumennya ya juga kaum perempuan. Akan terasa lebih cepat tersalurkan ilmunya kalau ibu diajari oleh seorang ibu juga yang merupakan praktisi jualan online yang mana juga berkecimpung di bisnis yang target konsumennya adalah kaum perempuan. Jadi sudahkah mencari mentor?

Tidak Tahu Adanya Komunitas yang Saling Bantu

Sudah merupakan fakta kalau suatu hal dikerjakan bersama-sama, itu akan terasa jauh lebih ringan dibandingkan dikerjakan sendirian. Nah, mindset atau cara berpikir Ibu untuk berjualan online dari rumah juga sudah harus diubah. Tidak lagi berjuang sendirian dari awal hingga akhir. Layaknya sekolah, jika kita memasukkan anak ke sekolah jelas si anak bisa jauh lebih berkembang dibandingkan kita ajari sendirian. Karena banyak guru yang bisa mengajarinya, teman-teman yang bisa diajaknya diskusi, dan lingkungan yang baik membantu memacu semangatnya.

Jika Ibu memilih berjualan di tokopedia atau bukalapak, maka apakah Ibu akan berjuang sendirian? Karena biasanya produk yang kita jual untuk mencoba pertama kali memang produk yang akan kita kerjakan sendiri sampai akhir. Untuk itu, carilah produk dengan komunitas yang sudah terbentuk di dalamnya.

Komunitas ngapain aja sih? Komunitas ini tempatnya berbagi banyak hal. Dari lokasi yang sama dekat dengan rumah Ibu misalnya. Atau berbagi info produk yang lagi laris apa. Atau sama-sama sharing tentang membuat website, membuat promosi untuk marketingnya, atau yang lebih teknis seperti berbagi info seputar rekrutmen karyawan seperti apa, dan lain sebagainya.

Komunitas dalam produk itulah yang bisa menjadi sarana agar kita tidak sendirian berjuang dalam bisnis online. Dan Ibu tidak lagi membuang waktu percuma dan mulai mencoba mencari penghasilan yang tepat dari rumah.

Emak-emak Jago Jualan New Version, Beres-beres Rumah Sambil Kebanjiran Rupiah

 Nah, masih ragu itu wajar Bu. Tidak wajar jika keraguan hilang tapi tidak segera mencoba. Modal uang bukanlah modal utama dalam menjalankan bisnis online bahkan dari rumah. Tidak percaya? Begini. Jika Ibu membeli jilbab grosir dengan modal uang 5 juta rupiah dan berhasil membeli puluhan jilbab, pertanyaannya, mau dijual seperti apa? Karena tidak mungkin selama setahun penuh jilbab itu dibiarkan nganggur begitu saja kan?

Itulah mengapa modal besar tidak selalu menjadi modal utama. Apalagi untuk jualan online. Kalau Ibu berhasil menjual 1-10 pcs jilbab, maka selanjutnya barulah menaikkan modal uang untuk menyetok barang. Bukan sebaliknya menyetok barang dulu baru jualan. Karena kalau puluhan jilbab itu tidak laku satu pun, mau tidak mau Ibu harus menguras semua gudang dan menjual jilbab itu dengan harga sangat murah. Syukur setidaknya rugi. Kalau benar-benar tidak laku sampai digratiskan? Wah, itu sudah salah kaprah.

Untuk itu, Ibu bisa mengikuti jejak Muri Handayani. Seorang owner produsen jilbab yang sudah punya agen sampai 600 di 10 negara, pemenang Small Medium Entreprise 2013 Telkom – ITB 2013, Inspiring Women Preneur Competition 2013, telah 7 kali ganti bisnis sehingga pengalaman beliau lebih nyata dan aktual. Mentor yang bisa Ibu ikuti untuk memulai bisnis online dari rumah. Beliau juga seorang Ibu rumah tangga yang gigih berjuang membantu perekonomian keluarga dengan memulai karirnya dari rumah.

Cob silahkan di cek dulu. Karena pengalaman jatuh bangun bertahun-tahun itu tidak perlu kita alami juga kesalahan yang sama kan Bu? Kita hanya perlu mencobanya setelah benar-benar mengerti langkah pertama dan kedua memulai jualan online dari rumah. Bahkan tidak terbatas pada jenis produk apa yang akan Ibu jual jika sudah paham bagaimana alur jualan online itu dilakukan. Tidak lagi terkurung dalam cara berpikir kalau uang adalah modal satu-satunya untuk bisa memulai bisnis online. Tapi guru yang benar, komunitas yang baik, serta kemauan yang besar bisa membuat Ibu lancar berjualan dari rumah. Tidak lagi harus meninggalkan anak di rumah dan kehilangan kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama anak. Selamat mencoba!

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

One Reply to “Saat Ibu-ibu Akhirnya Memilih Jualan Dari Rumah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *