Oh, Pak Habibie dan Mata Najwa

Semalam tepat jam 8 WIB, saya menyempatkan diri untuk bisa menonton mata najwa. Karena ulasannya pasti menarik karena tokoh yang dihadirkan adalah B.J. Habibie. Dari situ juga saya baru tahu kalau nama B.J. itu singkatan dari Baharudin Jusuf (semoga tidak salah tulis). Dari situ juga saya baru mengetahui jika, dari nama itu, tidak terkandung satu jenis apapun nama gelar kependidikan. Dengan melihat sekarang ini banyak orang bangga menyandang gelarnya di belakang nama, tapi sehebat pak Habibie ini, tidak menggunakannya. Oke, bukan itu yang akan saya bahas dan ceritakan. Tapi ingin memberikan opini atas tontonan semalam itu.

Beliau Adalah Negarawan yang Jenius

Ya, itu tanggapan pertama saya. Bayangkan, saat orang lain menjatuhkannya setelah alm presiden kita Pak Suharto, dengan tanggapan miring sana-sini, dengan banyaknya yang ingin beliau turun segera dan menyelenggarakan reformasi, beliau telah memiliki pendirian yang teguh, jawaban yang sangat benar, untuk kemajuan bangsa negara. Bahkan, disaat tanggapan miring itu beliau tetap meminta pendapat alm Ibu Ainun serta pendapat Alm Pak Suharto. Walaupun semua orang menanggap ini adalah kesalahan alm Pak Suharto, tapi beliau bisa menceritakan kejelasan tentang keluhuran budi alm Pak Suharto. Sungguh ironi, saat bangsa sendiri melihat alm presiden kedua itu hanya sebelah mata.

Beliau tidak banyak bicara disaat gonjang-ganjing dirinya harus turun. Bahkan di Mata Najwa sendiri, beliau menceritakan hal-hal yang jarang di dengar orang lain. Tentang pelepasan timor-timor, pembebasan tahanan perang, serta pembuatan undang-undang baru dalam waktu 500 hari kepemimpinannya, ah, terlalu luhur beliau, hingga mantan perdana menteri malaysia menyebutnya, “negarawan yang tulus bicaranya.” tidak hanya berdasarkan kecerdasan beliau, tapi hati nurani untuk orang banyak juga beliau pikirkan.

Tentang Sosok Presiden Berikutnya di tahun 2014

Selain ulasan mengapa beliau tidak melanjutkan proyek pesawat N250 (kalau tidak salah juga), beliau sempat dimintai pendapat siapakah yang cocok menjadi sosok presiden berikutnya. Mata Najwa memberikan beberapa foto. Dari sosok foto dimana adalah para calon pemimpin bangsa. Dari foto pak jokowi, aburizal bakrie, wiranto, sampai ke roma irama. Beliau sendiri mengatakan, “kriteria saya adalah 40-60”. Saya sendiri bingung apa maksudnya, jika ternyata yang beliau sebutkan ditebak oleh mata najwa adalah usia dari para calon presiden itu, maka dari semua yang ditunjukkan dengan foto di Mata Najwa, memiliki kriteria itu. Ternyata beliau sungguh cerdas memoles jawaban agar tidak memihak salah satu calon presiden.

Beliau cuma mengakatan, “di Indonesia itu ada 3 generasi pejuang. Pertama pejuang angkatan 45, mereka adalah pendiri bangsa, usianya sekarang sudah sampai 90 tahun. Itu kita lewati. Kedua adalah pejuang angkatan peralihan. Seperti saya ini. Tentu tidak seperti angkatan pendiri bangsa, tapi kami bekerja erat bersama mereka pendiri bangsa. Nah, saya pikir angkatan peralihan inilah, yang bekerja erat dengan para pendiri bangsa dan mengerti generasi ke3 yaitu generasi penerus yang cocok untuk meneruskan di kepemimpinan 2014. Tentu, kriteria lain tanyakan DPR.” gelak tawa pun pecah disana.

Jenius yang Menorehkan Keteguhan Jiwa

Beliau jenius, teknokrat, dimana pesawat N250 adalah karya terbesar dan tentu karya bangsanya. Jelas-jelas beliau mengatakan, “kita ini tidak ada bedanya sama orang jerman, sama orang amerika. Dengan bukti membuat pesawat itulah, derajat kita sama dengan mereka. Jadi kenapa harus menjadi dibawah mereka jika bisa setara mereka.” kira-kira begitu apa yang dibicarakan beliau tentang pesawat N250 di Mata Najwa.

Keteguhan hatinya tinggi sekali. Egonya dapat dikendalikannya. Bahkan saat beliau menjadi presiden dan bisa saja beliau mempopulerkan pesawat N250 menjadi pesawat nasional, tapi beliau lebih memikirkan bangsa, mengalah untuk menang. Lebih memilih menstabilkan kembali nilai tukar rupiah yang hapir menembus Rp 20.000 dengan dollar. Lebih memilih mempertahankan kesatuan bangsa yang hampir diambang kebubarannya.

Ah, tidak habis jika dibahas tentang beliau. Bagi saya sendiri, sosok teknokrat, dimana beliau adalah seorang insinyur sukses, tapi telah membuktikan kenegarawannya, dengan arti, semua orang, apapun pekerjaannya, apapun latar pendidikannya, jika dia mampu menyisihkan lengan untuk kepentingan bangsa dan negara, maka dirinya patut untuk menjadi orang hebat. Tentu sifat dasar ketulusan beliaulah yang saya ambil pelajaran. Tanpa ketulusan hati dalam melakukan sesuatu, wajah dan tubuh serta pikiran hanya akan lelah menghadapi semua ini.

4 Comments

  1. Sunandar 06/02/2014
  2. udafanz 09/02/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge