Novel The Metamorphosis Karya Franz Kafka

The Metamorphosis Karya Franz Kafka

Oke, kali ini kita ke cerita-cerita klasik. Karena cerita klasik pasti lebih punya cita rasanya sendiri. Apalagi karya terjemahan. Dan, buku karya Franz Kafka yaitu The Metamorphosis ini adalah terbitan dari Immortal Publishing. Kesan pertama saya? Duh, kacau. Haha. Saya merasa penata letak buku ini atau kita bisa bilang layouternya tidak belajar apa ya dari terbitan Gramedia. Kenapa? Sulit dibaca. Ini jujur ya. Karena beberapa dialog antara tokohnya itu menjadi satu garis. Saya contohkan seperti ini.

“Kamu kenapa?” “Sakit.”

Duh, lelah abang baca model beginian. Terlebih kalau dua tokoh saling membicarakan itu sebisa mungkin ada jeda spasinya atau satu enter begitu. Lebih enak dibaca lebih bisa saya rekomendasikan. Sayangnya, buatmu yang penasaran bisa dibaca dan dibeli, bagi yang tidak juga gak masalah. Cukup pusing sih. Lalu yang kedua yaitu sinonim kata.

Banyak penerbit yang mencoba menerjemahkan dengan padanan kata yang tepat, sama persis, tapi mau tidak mau pembaca umum menjadi sulit membacanya. Seakan-akan buku karya Franz Kafka ini hanya boleh dibaca untuk mereka yang memang belajar karya sastra lama terjemahan. Atau mungkin mau menjaga keasliannya. Bisa jadi sih yang kedua ya. Sehingga padanan kata, struktur kata, memang bikin kamu gak bisa baca cepat-cepat. Jujur untuk buku ini saya butuh waktu hampir dua minggu untuk menghabiskannya. Padahal cuma 270-an kata.

Oke, lanjut ya. Sekarang nih, kita bahas cerita yang unik di buku ini. Sayangnya buku ini merupakan kumpulan cerpen. Lalu cerita The Metamorphosis yang digadang-gadang mengerikan malah membuat saya bersimpati pada tokoh utamanya. Spoiler ya, bayangkan, tokoh utama bangun jadi kecoa besar, dikurung oleh keluarganya berbulan-bulan agar tetangga tidak melihatnya, sampai dia mati di dalam kamarnya dan keluarganya melalui seperti tokoh utamanya itu tidak pernah ada. Berlalu begitu saja. Padahal dia anak pertama. Dan momen aneh menjadi kecoa itu seperti metafora. Masa iya, menjadi kecoa tidak dilaporkan agar bisa mendapatkan tindakan khusus dari pemerintah. Tapi ya itu tadi, ini sastra klasik dan cerpen. Jadi akan memberikan kita banyak sekali tanda tanya saat ceritanya selesai. Jadi apakah cerita ini horor? Malah horornya bukan yang ini tapi yang judulnya di Koloni Hukuman.

Tapi saya gak mau bahas itu. Kalau bahasa Inggrisnya itu, GORE. Menjijikkan, bikin mual, karena memang dijelaskan rinci sebuah alat pada zaman gelap di Eropa yaitu alat untuk menyiksa manusia sampai mati. Jadi ya begitulah. Lanjut. Cerita menarik yaitu di bagian pertama Pesan Kaisar dan bagian terakhir yaitu Di Hadapan Hukum. Kenapa? Karena metaforanya baru saya baca di sini. Memang saya mulai jarang membaca, tapi keren sekali. Ada twist atau adegan dan narasi tidak terduga di akhir cerita. Jadi merasa, oia ya, bisa begitu juga akhri cerita ini. Jujur, bagi saya yang berkesan itu. Bagian cerita pertama dan cerita terakhirnya sungguh greget. Layak dibaca bagi kamu yang pengen belajar buat cerita pendek, flash fiction dan ya, belajar twist.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.