Novel Rumah Kertas Karya Carlos Maria Domininguez

Novel Rumah Kertas Karya Carlos Maria DominguezHalo teman-teman. Saya lama tidak update di sini ya. Bukan berarti tidak update sama sekali. Cuma menyadarkan diri lagi, blog ini mau dibawa kemana. Jadi inilah dia. Blog ini akan banyak berisi review novel yang sudah saya baca. Karena tidak mungkin bertarung dengan blog-blog besar yang sampai sekarang masih ada atau melawan portal berita, jadi inilah blog saya. Yuk langsung saja.

Novel ini saya baca dan saya anggap sebagai novel mini. Terbitan Marjin Kiri yang mana merupakan terjemahan dari seorang penulis Argentina. Jadi ini merupakan novel sastra dan berjudul “Rumah Kertas”.

Jujur ada beberapa poin yang saya kecewa dari terjemahan ini. Entah pihak editor menginginkannya seperti itu atau tidak tapi bagi saya yang berulang kali baca novel terjemahan terbitan Gramedia akan terasa nyata. Yaitu pemilihan kata atau diksi yang seakan dipaksakan harus sesastra itu.

Misal nih. Kata “RADA” yang bagi saya cukup terganggu dan bisa diganti saja dengan kata “AGAK”. Artinya sama saja kan hanya saja memang tampak lebih sastra kalau memakai diksi yang jarang ditemui oleh pembaca di banyak buku. Tapi bagi saya mau tidak mau harus membaca novel mini ini dua kali agar paham sepaham-pahamnya maksud dari penulis.

Langsung aja ke soal ceritanya. Bagi kamu yang mau belajar membaca novel terjemahan, novel ini bukan buat kamu. Selain diksi tadi yang saya beri poin penting, tapi gaya penulisan Carlos ini jelas bikin pusing. Pertama adalah dialog panjang satu orang. Memang dalam kehidupan nyata kita juga akan menemui hal seperti ini. Orang yang menjadi pusat perhatian dan bicara terus menerus tanpa henti. Akhirnya lelah dan jenuh. Begitu juga dialog antara tokoh utama dan Delgado cukup intens dan panjang sekali. Nanti kamu akan menemui dialog tag yang agak ganjil.

Lalu sudut pandang penulisan ini merupakan sudut pandang orang pertama yang hampir atau mungkin sudah masuk sebagian pada sudut pandang orang kedua. Jadi tokoh utama bukanlah petualang murni dalam kisah pengembalisan salah satu novel milik pengoleksi novel puluhan ribu buku. Tapi dia menceritakan orang yang mengoleksi novel-novel itu dalam dialognya bersama Delgado yang menceritakan Brauer yang terobsesi dengan novel, buku, dan memboyongnya ke salah satu pantai dan membangunnya rumah dan menjadi cikal bakal cerita dalam novel “Rumah Kertas”.

Gak ada yang menarik dari novel ini?

Justru penjelasan panjang, berbelit dari Delgado inilah yang menciptakan sosok Brauer dan kematian Bluma menjadi sosok yang mencintai buku, novel, lebih dari hidupnya sendiri. Obsesi dan belenggu kecintaan yang aneh seperti hobi yang terlalu jauh diceritakan di novel ini. Bahwa saya pun merasa sebagai kutu buku yang bisa saja menjadi seperti Brauer. Hanya saja tidak karena tidak punya banyak uang. Bayangkan deh membuat rumah kertas dari tumpukan buku dengan jumlah 20.000 itu kalau dibayangkan gila sekali. Jadi silahkan dibaca untuk kamu yang tertantang membacanya.

Uniknya, nama tokoh utama yaitu Carlos Brauer dengan nama penulisnya Carlos Maria Dominguez seperti menceritakan tentang dirinya sendiri. Ya, ini asumsi saya saja sih. Memang benar kutipan New York Times yang ada di blurb belakang buku ini yaitu, “buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” Dan ya, membuat saya merasa sangat ingin membaca buku lagi dan lagi. Semoga sih ada uangnya. Haha.

Oke, mungkin itu ulasan singkat atau review novel singkat berjudul “Rumah Kertas” karya Carlos Maria Dominguez ini ya. Semoga bisa memberikanmu pencerahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.