Novel Fahrenheit 451 Karya Ray Bradbury

Novel Fahrenheit 451 Karya Ray Bradbury

Kembali lagi, setelah lama tidak posting di blog ini, kali ini saya akan mengulas sedikit novel yang sangat singkat plus bikin bingung yaitu, Fahrenheit 451. Satu karya Ray Bradbury yang saya pikir mungkin cocok untuk saya beli karena masuk dalam kategori karya thriller di togamas. Ternyata… Saya sih kurang puas. Kenapa? Mari saya jelaskan sedikit.

Novel ini cuma 200 halaman lebih sedikit. Bayangkan dengan cerita yang cukup rumit, dunia 2020-an dan dijelaskan sedikit sekali itu rasanya gatal. Belum endingnya yang menggantung sekali. Bikin pening pokoknya novel ini. Bisa dalam arti buruk atau baik ya. Misalnya nih, dalam arti buruk, ternyata, novel ini mirip dengan karya sastra. Atau sebaliknya, ini adalah karya sastra. Banyak sekali kata yang diulang-ulang atau redundan dalam satu kalimat. Sesak bacanya. Apakah mungkin penulisnya memang begitu cara menulisnya? Saya sih untuk ke depannya bakalan skip untuk beli karyanya dia. Benar-benar tidak nyaman untuk kategori thriller.

Tema keren tapi serasa dipaksakan dan kurang mulus aja gitu. Seperti adanya tokoh remaja putri yang hadir dengan banyak dialog. Saya rasa bisa diganti adegan lain yang menceritakan dunia aneh tentang 2020-an itu. Dimana tokoh utamanya bernama Guy Montag adalah petugas kebakaran. Kerjaannya adalah membakar rumah sehingga harusnya bawa selang isi air tapi bawa selang isi bensin. Kemudian kondisi perang masih berkecamuk itu keren. Adanya penjelasan bahwa masyarakat akan dibakar rumahnya kalau nekat menyimpan buku itu juga keren. Jadi kategori ceritanya sastra banget. Kurang nyaman dan tidak siap apalagi ada penggalan sastra dalam buku ini sebagai adegan perdebatan tokoh utama dengan antagonis yang saya gak tahu itu karyanya siapa. Ya, saya emang kurang membaca tapi duh, jadi tidak siap membaca cerita seperti ini.

Katanya, dalam bahasa inggrisnya sih bagus buku ini. Mungkin memang begitu ya, terjemahannya jadi sulit. Hal lain adalah bagi saya yang cukup buang-buang waktu dan sangat kurang adegannya adalah kondisi trhiller saat seseorang menyimpan buku. Seharusnya ada adegan pembakaran yang dilakukan Guy Montag ini lebih sering dengan beragam situasi korbannya. Tapi sayangnya tidak. Dan dialognya dia sendiri dengan pikirannya cukup melelahkan bagi saya. Syukur 200 halaman. Kalau lebih, keburu berhenti baca deh. Sehingga novel ini tidak cocok untuk kamu yang tidak pernah menyentuh novel kelas sastra. Pusing beneran.

Adanya konsep menarik perpindahan isi buku pada manusia. Ini keren sih menurutku. Karena, masyarakat yang cinta dengan buku berkumpul di pinggiran kota, di suatu desa, jauh dari kota dan mereka membagi tugas. Yaitu untuk menghafal buku. Jadi ada yang menghafal kitab suci, karya sastra lama, sejarah, dan dikelompokkan dalam satu desa misalnya, mereka para penghafal sejarah Yunani. Nah ini keren. Tapi muncul diakhir dan sebentar saja. Mungkin novel berseri? Tapi duh, tetap malas bacanya. Haha. Ini selera saja jadi ya? Saya berharap bisa merinding dan masuk ke dalam pikiran tokoh utama dan kengeriannya tapi gagal. Jadi lebih gagal lagi, imajinasi sedikit rumit untuk menggambarkan rumah Guy Montag ini katanya berupa dinding abu-abu kelam. Yang mana dinding itu akan memancarkan tayangan televisi. Bingungnya, mereka membeli dinding itu. Aneh karena kalau membeli berarti bisa tidak membeli. Artinya, kalau tidak membeli maka masyarakat akan mencari cara untuk hiburan lain. Sayangnya, di buku ini dijelaskan seperti tayangan televisi itu seperti dijejalkan begitu saja pada masyarakat. Tapi tayangannya disuruh beli. Lah? Hehehe.

Kamu sudah baca? Mungkin kamu kurang setuju? Silahkan komentarmu di kotak di bawah ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.