Novel Annihilation Karya Jeff Vandermeer

Novel Annihilation Karya Jeff Vandermeer

Halo semua, kembali lagi di sini ya. Kali ini saya akan mengulas sedikit dari novel karya Jeff Vandermeer yang berjudul Annihilation. Apakah novel ini baik atau buruk? Bagi kamu yang tidak suka thriller yang aneh, maka novel ini tidak cocok untukmu. Sedikit saja, novel ini menceritakan seorang perempuan yang kehilangan suaminya karena sang suami pergi ke daerah yang bernama Area X. Lantas dia pun ikut menjadi relawan untuk mengunjungi Area X juga karena dia merasa harus ke sana. Mencari jawaban dari prilaku suaminya yang berubah akibat pulang dari Area X dan juga mati terkena kanker. Jadi istilahnya, Area X ini muncul dan banyak anggapan kalau ini adalah daerah radiasi.

Cerita yang menarik karena kita akan dihadapkan bertahan hidupnya tokoh utama akibat menemukan salah satu makhluk hidup seperti cacing besar atau mulut seekor hewan yang juga tidak dijelaskan di novel ini. Karena novel ini adalah trilogi jadi saya kurang menyukainya lantaran harus membeli sisa novel lainnya untuk melengkapi ceritanya. Tapi novel pertama ini sudah cukup bagi saya.

Perubahan tokoh utama yang ingin mati, lalu mendapatkan paparan radiasi spora atau serbuk sari dan membuatnya menjadi lebih peka indranya, benar-benar seperti cerita superhero hanya saja kurang aksi. Maksudnya memang novel ini novel bertahan hidup atau survival. Sehingga pergerakan alurnya hanya ada di satu tempat yaitu Area X. Sangat lambat dan sesekali saja diselingi dengan tokoh utama mengingat kembali masa-masa romantis saat bersama sang suami.

Oke, kekurangannya? Alurnya lambat. Bagi kamu yang pernah nonton film tentang bertahan hidup tapi cuma di satu tempat. Ya model-model seperti itu. Kelebihannya? Banyak sekali jeda seperti tanda bintang tiga (***) untuk memisahkan adegan satu dengan lainnya. Sehingga pembaca tidak terlalu bosan karena narasi yang terlalu panjang. Saya menyukainya karena penulis tidak memaksakan membuat novel ini menjadi puluhan bab atau bahkan ratusan bab.

Ada lagi? Novel ini tidak cocok bagi kamu yang tidak nyaman dengan gaya penulisan tokoh utama yang rumit dengan keadaan dirinya. Contohnya, kalau kita menuliskan “saya mual” itu saja cukup. Tapi penulis menceritakan kondisi fisik tokoh utama yang terpapar radiasi itu jadi panjang sekali. Seperti ini misalnya saya beri contoh, “perutku terlilit, terbakar dan isinya ingin keluar dengan segera. Pandangan mata kabur, melihat ke atas seakan jauh tidak berujung, dindin seakan bergerak jika kusentuh, mirip dengan dalam perut suatu hewan buas yang besar.” Model cerita seperti ini tidak cocok untuk kamu yang ingin membaca novel dengan adegan cepat.

Terakhir nih pendapat saya? Bagi kamu yang ingin menulis, model cerita yang ada dalam novel ini kamu jadikan referensi. Kenapa? Karena menciptakan kengerian dalam suatu cerita itu sulit. Sungguh. Tapi di novel ini kamu akan paham dan membayangkan dengan perlahan apa itu “menara” yang akhirnya berbentuk monster. Lalu akan paham “halusinasi” yang menyerang para relawan di “mercusuar”, serta beragam kondisi lokasi seperti rawa-rawa yang hidup, berbagai jenis hewan yang bermutasi dengan sikap dan tindakan mereka yang tidak seperti hewan pada umumnya.

Dan mungkin saja ya. Semoga review ini membantu. Soal harga, saya tidak pernah membahasnya karena bisa saja kamu mendapatkan harga termurah di Tokopedia atau Bukalapak. Tapi kalau beli di Gramedia jelas harganya bisa berbeda. Suka sain-fiksi atau science fiction? Baca novel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.