Nonton Divergent di XXI

Oke, di Jogja sembari menanti tes wawancara kerja, tentu tidak ada salahnya menonton film di bioskop. Dengan menyisihkan uang bulanan tentunya, saya memilih menonton Divergent bersama sang kekasih. Nah, sebenarnya sih pengen nonton 300: Rise of an Empire atau non-stop atau robocop. Berhubung sama pacar jadinya ya tidak bisa deh yang action berdarah-darah. Pilihan Divergent akhirnya untuk nonton di bioskop XXI.

Ratingnya sih bagus, diangka 7,6 saat artikel ini dibuat. Ratingnya saya ambil dari IMDB. Alur ceritanya bagus, ada beberapa hal yang menarik dan dalam. Seperti tentang kelima faksi yang saya pikir adalah kepribadian manusia secara umum. Dimana tentu Divergent artinya kelainan kepribadian. Maksudnya begini, manusia pada dasarnya memiliki kelima faksi yang disebutkan dalam film. Namun seiring perkembangan waktu manusia harus memilih salah satu faksi yang menonjol atau kepribadian yang menonjol. Kenapa? Diyakini manusia yang memiliki kehendak bebas terhadap kepribadiannya adalah faktor utama penyebab terjadinya peperangan di masa lalu.

Divergent

Oke, skip, nanti malah kebanyakan spoilernya. Hehe, ceritanya sih menarik, sayangnya dari kelima faksi hanya 3 faksi yang diceritakan mendalam. Sisanya? Cuma dikenalkan diawal, selesai. Jadi kuranglah, mending dibuat 3 faksi aja diceritain semua itu malah lebih greget. Kemudian, terlalu mendalamnya cerita 3 faksi dimana faksi divergent yang merupakan kelainan tidaklah spesial. Sehingga agak aneh dan membingungkan. Jika ingin membuat faksi divergent unggul, maka harus diceritakan lebih dalam disana. Tidak di 3 faksi. Sehingga kita terpana di 3 faksi tapi merasa biasa saja dengan faksi divergent yang dimiliki tokoh utama.

Lebihnya sih, ya, ada suspense dan surprisenya. Ada ketegangan yang tidak bisa ditebak, ada kejutan dalam film yang tidak sekali-dua kali, tapi hingga akhir film menggantung. Entah menang tapi kabur dari komunitas masyarakat faksi lalu pergi ke negeri seberang dimana divergent menetap. Namun terlalu menggantung hingga kesimpulannya tidak jelas. Menang atau kalah? Menang kemudian lari terus bagaimana? Sistem faksi berhasil dirusak kembali ke divergent atau tetap? Ah, hampir di akhir film saya terkantuk-kantuk.

Film ini cocok untuk wanita, remaja perempuan, yang gemar sama romance. Laki-laki? Siap-siap mengantuk karena suspensenya masih dinalar dan tidak dibuat sadis. Sehingga hanya bermain konflik. Tidak kuat ya ngantuk atau membosankan. Pernah lihat film “The Host”? Nah, mirip seperti itu. Sayangnya kalau dibandingkan dengan film twiligt masih sangat jauh dari harapan. Ya, semoga semakin banyak juga nantinya film-film science fiction yang sebaik twilight atau harry potter.

Bagi yang belum nonton Divergent, nonton saja, ambil jam siang atau sore yang lebih sepi dibandingkan jam malam. Ok? Next mau nonton Captain Amerika yang baru jika sudah ada, terus The Raid 2. Hehehe,

nb: setelah saya cari gambar tentang divergent, ternyata diangkat dari novel sekuel. Semoga film kedua lebih baik garapannya. :D

12 Comments

  1. cumilebay.com 27/03/2014
  2. giewahyudi 28/03/2014
    • Hanif Mahaldi 30/03/2014
  3. Zizy Damanik 28/03/2014
    • Hanif Mahaldi 30/03/2014
  4. Indra 29/03/2014
    • Hanif Mahaldi 30/03/2014
  5. Sunandar 31/03/2014
  6. risa 20/04/2014
    • Hanif Mahaldi 20/04/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *