Musim Ke Tiga Part 2

MendadakNgeblog adalah gerakan ngeblog yang sangat mendadak. Apa sih? Haha, karena seorang teman yang traveller blogger ngajakin untuk ikut bergabung dalam gerakan ini melalui WhatsApp, maka saya pun ikut. Tanpa pikir panjang karena tentu akan menarik. Membaca tulisan orang lain dalam blog mereka yang mana setiap minggunya akan ada topik-topik tertentu. Topik itu sendiri digilir oleh para anggota setiap minggu. Sehingga tulisan akan sangat berbeda-beda walau dengan topik yang sama. Rata-rata digerakan ini banyak sekali mereka yang pernah atau masih berkecimpung di dunia tulis menulis media massa (wartawan atau ex-wartawan). Lah, saya sendiri bukan keduanya. Ya sudah, mau tidak mau saya tidak bisa menuliskan banyak tentang topik dalam bentuk liputan atau ulasan. Sehingga, saya mendedikasikan diri untuk menulis dalam bentuk fiksi saja. Topik ke dua tidak sanggup saya tulis karena tidak sempat dan cukup sulit untuk dijadikan fiksi. Namun topik ke tiga ini saya rasa masih bisa untuk dibuat fiksi terutama melanjutkan kisah cerpen berjudul, “musim ke tiga” kemarin. Bagi yang belum baca, silahkan ke artikel sebelum ini ya. Mari-mari.. Silahkan baca cerpen singkat dengan topik “selamatkanMusikIndonesia”.

Musim Ke Tiga Part 2

Musim Ke Tiga Part 2

 “Bagaimana kencanmu?”

Menoleh kearahku dengan tatapan dan senyuman yang membuatku ingin memukulnya. Andy tertawa tergelak. Aku hanya mendengus kesal. Bu Sandra ikut tertawa bersama suaminya mendengar pertengkaran kecil kami yang sudah sering terjadi.

“Nih, kubawakan oleh-oleh,” aku menatapnya nyinyir. Meraih bungkusan plastik putih berisi Buggeopang.

“Kenapa cemilan? Kamu pikir aku anak-anak? Kenapa gak baju atau kaos gitu? Lagi pula aku sudah kenyang dengan aroma-aroma masakan di sini.” Tetap saja semua cemilan itu masuk ke mulutku tanpa komando.

“Bersyukur, setidaknya oleh-olehku masih ada aroma-aroma romantisnya.” Sambil menaikkan kedua alisnya dengan bangga berkali-kali, tersenyum nyinyir dan segera duduk disebelahku lalu membuka satu botol soju.

Aku menolak. Sejak kedatangan di Korea ini, aku selalu menolak hal itu. Andy selalu giat menyarankan padaku untuk minum barang sekali dua kali. “Bisa melepaskan beban pikiranmu.” Tetap saja aku tak mau.

Di Ansan semakin larut semakin sepi. Besok sudah senin, masyarakat yang kebanyakan pekerja asal Indonesia ini jelas saja sudah merapat dalam-dalam. Menyelimuti diri dan nyenyak dalam mimpi. Walau tidak seketat Jepang dalam urusan jam kerja, tetap saja amukan majikan-majikan Korea ini bisa bikin darah naik. Semua serba tergesa-gesa.

Angin berdesir. Silih berganti, layaknya ribuan aliran yang mengalir mencoba mengisi sepi. Andy yang sudah sejak tadi tenggelam dalam nostalgia-nostalgia, wajah yang kemerahan karena mabuk, ucapan-ucapan asal yang meluncur dari mulutnya.

“Bagai.. Mana.. So.. Al.. Menyanyimu itu Ru..?” Percuma. Jika kujawab, dirinya hanya akan semakin melantur. Kuluruskan kaki. Menatap angkasa, dan kenangan datang begitu saja.

“Entahlah, aku ingin pulang saja ke Indonesia. Tapi buat apa juga. Tidak ada bedanya disana.” Sesak. Ingin kudiam saja sejak tadi, mendengarkan Andy bercerita kekasihnya yang cantik seperti idol girl band atau apa pun yang menarik dari Istana Deoksugung. Tapi sesak. Sudah sejak dulu aku memang sulit mendapatkan seorang teman dan kini di sini, hanya Andy saja yang kuanggap bisa menjadi tempat curhat.

“Ja.. Ngan.. Me.. Nyerah begitu dong. Menyanyi di sini saja kan juga sama baiknya.” Andy menguap, bersendawa berkali-kali.

“Di sana, aku jelas kalah sama pujangga. Di sini, aku kalah dengan yang lebih fasih berbahasa Korea. Gimana sih Ndy?” Percuma. Andy akhirnya tertidur dalam posisi duduknya. Aku menghela nafas panjang kesekian kali, dan membopong tubuhnya masuk ke dalam toko.

“Ru… Cepat, bantu tutup restoran.” Pinta majikanku orang Korea. Cuma di akhir pekan saja suaranya tidak meninggi saat meminta atau menyuruh. Aku mengangguk cepat. Sedikit berlari dan mengangkat kursi ke atas meja. Lalu kembali menikmati malam sendiri.

“Masuklah ke dalam, sebelum masuk angin.” Suruh Bu Sandra. Aku tersenyum kilat. Bermaksud mengiyakan walau enggan. “Jangan berwajah keras begitu. Andy memang seperti itu. Semaunya, seenaknya, hidupnya memang datar-datar saja.” Aku tertawa kecil menanggapinya.

“Ibu mendengar obrolanmu dan Andy tadi. Masih belum kau putuskan untuk ikut kontes menyanyi? Ikut saja, aku akan kasih ijin untukmu pergi ke Seoul.”

“Soal restoran bagaimana?”

“Haizzz… Kau sudah kuanggap anak sendiri. Sama seperti Andy. Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan soal restoran.”

“Ah… Entahlah. Aku masih ragu. Takut jika hanya membuang-buang waktu saja.”

“Hehhh… Semua orang itu membuang-buang waktunya. Hanya saja, ada yang kebetulan berhasil, ada yang harus mencoba lagi. Suaramu bagus Ru… Kau ini pengecut sekali. Belum memulai sudah menyerah.”

Hanya di sini, yang kebiasaan cepat marah dan menghina menyebar seperti virus. Walau tak semua dan tentu hanya untuk mengakrabkan diri saja. Aku mengerti Bu Sandra cuma ingin mendukungku. Tapi entah hati dan pikiran ini serasa maju mundur.

“Aku hanya ragu Bu. Apakah menyanyi bisa untuk hidup. Di Indonesia saja susah. Semua dibajak. Semua dicuri. Mendapatkan penghasilan harus manggung.”

“Berpikirlah cerdas.. Aku tak tahu persis sekarang seperti apa. Toh sudah ada internet kan?”

“Maksudnya?”

“Pakai otakmu pemalas! Lihat restoran suamiku ini? Dulu tidak dibuka di sini sebelum ada kalian. Suamiku selalu bersikeras memilih tempat sendiri. Gagal terus. Sekarang lihat dari Youtube, atau apalah itu namanya. Dan sukses! Kenapa kau tidak coba pakai itu saja kalau masih belum percaya diri untuk ikut audisi.”

“Dan menyanyikan lagu-lagu Korea? Ah.. Sudah pasti tidak terkenal Bu.” Selorohku dan akhirnya Bu Sandra memukul kepalaku.

“Lihatlah gambaran besarnya. Apa namanya lagi itu? Ah.. Lihat secara luas, perluas penglihatanmu. Kamu bisa menyanyikan lagu-lagu korea di Internet dan yang menonton orang Indonesia kan? Kau bisa terkenal dengan sebutan, ‘orang indonesia yang fasih menyanyikan lagu korea’.”

Aku berpikir sejenak. Ada benarnya yang dikatakan Bu Sandra. Hingga ide gila itu pun muncul kepermukaan.

“Atau aku nyanyikan saja lagu-lagu Indonesia dalam bahasa Korea?” Tepuk tangan diiringi senyuman. Bu Sandra selalu menyemangati anak-anak asuhan yang bekerja dengannya. Mungkin ini juga yang membuat restorannya selalu ramai dikunjungi.

“Nah, kau tahu.. Band Mocca asal Indonesia juga terkenal di sini kan? Lagu mereka sudah resmi digunakan oleh orang Korea, diubah dalam bahasa Korea. Bukankah itu bagus? Banyak lagu-lagu Indonesia yang bagus. Pilihlah yang mana saja dan nyanyikan dalam bahasa Korea.”

“Soal royalti?”

“Haizzz… Prinsipnya seperti berdagang. Kalau kena razia baru bayar.” Tawa Bu Sandra meledak. Aku menyipitkan mata karena tak setuju. “Setidaknya, kau juga ikut mengenalkan hebatnya lagu-lagu Indonesia ke orang Korea, karena kau sebutkan bahwa itu bukan lagumu, tapi lagu asal Indonesia. Toh jika populer, mereka bisa dipanggil untuk manggung di sini kan? Apa kau tidak punya pikiran salah satu dari penyanyi-penyanyi di Indonesia itu membuatkan lagu untukmu?”

“Hm… Begitu? Jadi aku perkenalkan saja ya ciri khas Indonesia di sini?”

“Ya, tidak perlu takut soal bayaran, royalti, atau apa pun itu. Selagi kau benar masih menyebut nama mereka dan lagu itu dari mereka. Satu lagi Ru.. Orang Korea sangat cinta pada idolanya.”

“Lalu?”

“Ah, otak pemalasmu belum sembuh juga. Artinya, kalau kau berhasil membuat lagu-lagu Indonesia populer, kau juga ikut memajukan bangsa. Orang Korea tidak tanggung-tanggung untuk beli hal-hal berkaitan dengan Idolanya. Tidak ada bajak membajak. Pelan tapi pasti, kau juga membantu penyanyi Indonesia terkenal di sini. Kau juga akan sering muncul ditelevisi nanti.”

“Menarik juga. Ah, tapi aku ingin punya lagu sendiri.”

Bu Sandra tersenyum senang mendengar tanggapanku. Lalu memukul kepalaku lagi.

“Sudahlah masuk, tidur, besok harus kerja lagi. Setelah kau berhasil, cobalah nyanyikan lagu Indonesia dengan bahasa Jepang. Perluas pikiran sempitmu itu!”

Bu Sandra meninggalkanku sendiri dalam tanda tanya besar. Yang dikatakannya tidaklah mudah untuk dilakukan. Tapi membuatku bersemangat untuk mencobanya. Yah, kuputuskan untuk menunda kepulanganku ke Indonesia.

9 Comments

  1. Hening Swastika 13/11/2016
    • Hanif Mahaldi 13/11/2016
  2. Roidatul Ula A'izah 14/11/2016
    • Hanif Mahaldi 14/11/2016
  3. Ami Mulyadi 20/11/2016
  4. Ami Mulyadi 20/11/2016
  5. Ananda 21/05/2017
  6. fauzi 21/07/2017
  7. fauzi 21/07/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *