Mereka yang Tak diberi Kepercayaan

Ada cerita unik tapi cukup mengenaskan. Ini terjadi di tahun 2013-2014. Fenomena ini mulai banyak, entah bagaimana akar masalahnya. Tapi ya sudahlah, saya mencoba menceritakan saja. Mungkin rekan-rekan punya pendapat atau pengalaman yang bisa menjadi masukan bagi kehidupan kita bersama. (berasa ngomong politik, hahay)

Di tahun ini, banyak mahasiswa baru, maaf tepatnya mahasiswa baru. Penghuni kost saya, maksudnya sekost dengan saya. Saya angkatan lama, sudah lulus juga, tapi fenomena aneh ini membuat hati gelisah, serta merasa prihatin. Fenomena itu adalah mereka yang tidak mampu naik sepeda motor. What!?

Emang salah tidak bisa naik sepeda motor? Oke, halo… Ini sudah tahun 2014. Naik sepeda motor bagi laki-laki itu musti bisa. Nantinya akan sangat berguna jika ternyata tidak ada lagi angkot, tidak ada lagi kendaraan umum yang melintas yang mampu mengantarkan kita ke tempat tujuan. Beberapa saat saya acuh dengan fenomena ini, tapi ya itu tadi, bapak kost sempat mengeluh ternyata ada salah satu orang tua anak kost meminta bapak kost untuk mengajari anaknya naik sepeda motor. (Tepok jidat, emang bapaknya sendiri ngapain? Sibuk sama bisnisnya, atau lupa punya anak? *ups).

Ada yang lain lagi, malah tidak bisa naik sepeda sama sekali. Kemana-mana minta antar bapak kost. Huff… Saya geleng-geleng kepala saja. Oke, ternyata masalahnya mengakar ke satu hal.

Mereka yang Tak diberi Kepercayaan

Ini yang banyak terjadi. Silahkan baca di internet, browsing, teman-teman akan menemukan bahwa ekonomi indonesia masuk pada kelas “menengah baru“. Apa artinya? Ya, banyak orang indonesia menjadi kaya dimana dulu kekayaan seperti sekarang sulit diraih. Dinilai dari banyaknya orang yang memesan dan membeli mobil buatan industri jepang, amerika dan eropa disaat seharusnya pembelian mobil itu memang khusus untuk mereka yang kaya.

Fenomena ekonomi menengah baru, dimana banyak orang kaya dari segi karyawan ataupun pebisnis yang berlomba-lomba mencari uang. Lupa untuk bisa mendidik anak mereka dalam hal-hal teknis. Apalagi anak mereka laki-laki. Aneh jika saya melihat di usia mereka yang hampir 20 tahun naik sepeda saja tidak mampu, naik motor saja badannya gemetar.

Mungkin karena trauma pernah jatuh?

Itu tidak bisa jadi alasan. Sebagai bapak, ayah, orang tua, wajib mendorong anak mereka untuk dapat hidup mandiri sebelum masuk proses kemandirian dalam kehidupannya. Anak tidak bisa terus meneruh hingga berkeluarga tidak bisa hal-hal yang dilakukan laki-laki pada umumnya, terutama yang teknis. Apa iya, mau dikasih supir mobil sampai dia punya anak (berarti ayahnya jadi kakek dan punya cucu). Tidak kan. Bahkan hal ini jadi pembicaraan anak-anak kost yang lain.

Ternyata, mereka tidak diberi kepercayaan itu. Ada orang tua anak kost, ayahnya mendatangi kami yang sedang ngumpul di balkon lantai 2 kost-kostan. Lalu berkata,

“Ini salah saya juga, tidak pernah mengajarinya naik sepeda.” saya sampai tersenyum kecut. Lalu si bapak ngapain selama ini?

Berilah kepercayaan pada anak itu penting, mengajari anak mengendari sepeda, sepeda motor, mobil itu penting. Walau tidak harus juga diberikan itu semua dalam satu waktu. Tapi pengalaman dasar itu yang membantu setiap anak memiliki kepercayaan dirinya.

Mereka yang Selalu Dimanjakan

Manja banyak kategorinya. Tapi secara umum, manja berarti apapun permintaan anak dipenuhi sang Ayah tanpa memberikan nasihat hidup apapun. Sehingga saat kondisi sang Ayah tidak mampu memberikan apa yang dia minta lagi, dia tidak mampu bertahan sendiri mengatasi kesulitan hidupnya sendiri.

Karena semakin dewasa, anak akan bersinggungan dengan kehidupan orang lain dimana orang tua akan benar-benar harus melepasnya. Tidak bisa lagi melindungi mereka secara mental atau fisik. Harus mereka jalani sendiri kehidupan yang menurut mereka baik.

Ya, rasa prihatin ini muncul lagi karena ternyata setelah masa liburan semester anak-anak kost dari ujian akhir semester mereka di januari 2014, ada anak kost yang datang ke kostan dan ditemani ibunya. Ibunya menginap beberapa hari. Hm… Mungkin ibunya takut anaknya kurang makan. Ya sudahlah, yang penting ini bisa jadi pelajaran buat kita semua bagaimana nanti memperlakukan anak-anak kita semestinya.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

18 Replies to “Mereka yang Tak diberi Kepercayaan

  1. hahaha….mengingatkan saya pada awal-awal kuliah dulu sekitar tahun 98…pinter naik motor ya gara2 nabrakin motor temen ke tembok jalan, terus di kerubutin banyak orang. ah, malu rasanya…

    tp sejak itu, malah jadi ingin dan ingin lagi naik motor dan nyetir sendiri.

    jadi jika masih ada yg blm bs nyetir motor di tahun 2014 ini, sy kira faktor kemanjaan, jika dia anak orang kaya, Mas?

  2. Huahahaha.. aku maaas, aku gak bisa nyetir motorrr!!! Tapi pas jaman kuliah dulu bawa sepeda ontel sih. Ke mall, ke kampus, ya naik sepeda ontel. Untungnya aku gak manja. Jadi ya oke oke aja gak bisa nyetir motor.

    1. nah, itu dia mas ndop, faktor manja mengakibatkan tidak bisa naik motor yg jadi poinnya. Kalau tidak manja berarti kan mau berusaha mencari jalan keluar kalau tidak ada yang mengantar. hehe. :D

  3. Setidaknya ya belajar bawa motor matic lah, kan gampang banget tuh.. Soal anak-anak yang tidak diberi kepercayaan, orangtuanya minta dikeplak tuh..

  4. bener Mas kadang malahan ada yang punya motor tapi ngak boleh pakai takut jatuh atau apalah..akhirnya sampai kuliah mereka ngak bisa nyetir motor sendiri..
    Dan maaf ngomong, ngebonceng orang yg tidak bisa nyetir motor apalagi nyetir sepeda itu pantatnya lebih berat dari yg bisa nyetir..:D

    1. haha, lebih grogi mas, saya lihat beberapa kali mereka kaku sekali di gonceng. Kasihan yg nyetir. musti sabar sekali menjalani proses antar jemputnya.

  5. Kalau mengendarai motor sih kayaknya laki2 bagusnya bisa. Tapi kalau nyetir mobil gak perlu juga, kan bisa gunakan jasa supir. Kalau motor masa gunakan jasa ojek :)

    1. iya kang, jasa ojek gak masalah juga menurut saya, karena dia berusaha bayar untuk ketidakbisaannya. Tapi kalau hampir tiap hari minta antar ke kampus sama bapak kost itu rasanya… bener2 deh. hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *