Merasa Kalah dengan yang Lain

Ada hal yang cukup menganggu dalam hidup kita diluar dari diri kita sendiri. Ya, pikiran. Pikiran adalah hal yang cukup mengganggu hidup jika tidak kita sadari dengan cepat. Di masyarakat dinamakan kegalauan hidup atau tidak bisa move on. Dalam tulisan kali ini saya mencoba merangkum apapun yang saya dapatkan dari internet dan pengalaman pribadi. Serta dari dialog bersama mereka, teman-teman yang juga memikirkan tentang kebimbangan hidup untuk melangkah.

Kita sering merasa kalah. Ini sudah sistem. Dalam dunia sekolah, baik dari SD hingga kuliah, kita merasa kalah. Lihat saja di sekolah, rangking terbaik terbatasi dari rangking 1 hingga 10. Bagi yang sudah mendapatkan rangking 10, merasa kalah dengan yang rangking 9. Begitu seterusnya. Masalahnya, apakah yang berada di rangking 30 (dalam satu kelas ada 30 anak) adalah yang terburuk? Belum tentu.

Saya pernah mengalaminya. Semasa SMA merasa kalah dengan yang lain. Masuk kelas internasional dengan metode bilingual, saya mendapatkan rangking 20 dari 21 anak (kalau tidak salah, seingat saya saya kedua dari bawah). Apa yang terjadi sebenarnya? Ternyata, teman-teman saya yang lain nilainya mirip-mirip. Sama-sama tingginya. Nilai matematika intervalnya adalah 100 sampai 90. Lalu apakah saya termasuk yang kalah? Terburuk? Tidak mampu bersaing? Tidak juga nyatanya. Namun kondisi psikologis memaksa saya menyerah lebih awal, dan mengundurkan diri ke kelas regular biasa. Tidak sanggup menghadapi psikologis saya yang merasa selalu kalah.

Kita akan mengalaminya. Semua orang. Belum lagi saat beranjak dewasa, kuliah, bekerja, dan menikah. Sebagian orang menganggap biasa saja. Pasti terjadi. Tapi mengabaikan perasaannya sendiri. Saat semasa kuliah bisa berkumpul bersama teman-teman kampus, setelah kuliah, mulai sibuk bekerja atau berbisnis. Bagi yang belum mendapatkannya, masih mencari kerja, jatuh bangun bisnisnya, akan merasa “tertinggal” bahkan akan merasa, “kalah dengan yang lain”

Bagaimana Membantu Diri Kita Sendiri?

Tidak ada cara efektif. Tapi selalu ada saran dan kritik. Seorang teman mengatakan, dia pernah mendengar dari seseorang yang inspiratif bahwa kita akan menjadi diri kita sendiri, setelah mencoba melakukan apa yang kita yakini benar sebanyak 10.000 jam kehidupan. Oke, saya tidak menyangsikan benar atau salah. Sebelum sampai ke angka 10.000 jam, apakah kita masih bisa bertahan untuk terus mencoba?

Salah satu cara adalah berdoa. Itu efektif. Sangat efektif. Bahkan di Indonesia beragama bukanlah hal yang tabu dan bebas untuk dilakukan. Berdoa, beribadah bebas kita lakukan. Masalahnya, apa yang kita lakukan setelah berdoa? Banyak dari kita telah benar mengadu padaNYA, berdoa siang dan malam, untuk meminta dikabulkan apa yang kita inginkan. Hingga seringnya berdoa, kita merasa bahwa Tuhan belum mengabulkan apa yang kita inginkan. Lalu dari doa menjadi keluhan. Sepanjang berdoa hingga berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tak kunjung dapat, kita mengeluh dan menyalahkan.

Merasa Kalah dengan yang lain

Lalu kita merasa, “apa yang berbeda orang lain dan saya?” atau “kenapa mereka bisa begitu terlihat bahagia, menang, mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi kenapa saya tidak? Padahal saya yakin saya lebih religius.” dan dialog dalam hati sejenisnya. Kita lupa untuk tetap konsisten menanamkan keyakinan kita berdoa dalam upaya kita. Kita cenderung memisahkan berdoa dan berusaha.

Dua hal yang aktifitasnya berbeda belum tentu tujuannya berbeda dan tidak bisa disatukan. Saya ambil contoh, banyak yang cenderung malas-malasan, tidak semangat saat bekerja di pagi hari sebelum jam makan siang. Kemudian atasannya, si bos, menilai sikapnya sebagai nilai buruk di kantor. Beberapa tahun kemudian dia tidak dinaikkan pangkatnya, sedangkan teman-temannya sudah naik pangkat. Lalu berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Apa pangkal masalahnya? Ternyata dia lupa sarapan bertahun-tahun. Sedangkan teman-temannya sarapan. Semangat hadir pada diri teman-temannya di pagi hari, tidak bermalas-malasan. Dia memisahkan aktifitas lain yang dirasa sepele. Akibatnya ternyata dikemudian hari.

Berdoa Cukup? Atau Butuh Pelatihan Motivasi Tertentu?

Silahkan, tidak ada yang salah. Namun perlu diperhatikan bahwa dalam setiap kekalahan dengan orang lain, kita sudah mengambil peran kemenangan diri kita sendiri. Hanya saja, nilai ukurnya menggunakan ukuran manusia. Ada hitungan, ada batasan. Jika melihat dari sisi agama, religius, tidak ada. Kita menang kok dalam hidup kita sendiri. Tapi selalu membandingkan kemenangan kita dengan kemenangan orang lain yang lebih besar. Selalu melampiaskan kekalahan dengan doa (kemana kita saat kita berhasil menang dari yang lain? apakah masih berdoa yang sama?). Selalu merasa Tuhan tidak adil. Atau selalu merasa diri adalah kegagalan seumur hidup.

Yakinkan saja, berdoa yang kita lakukan telah mendukung upaya yang kita kerjakan. Kekalahan dan kemenangan dengan yang lain hanyalah masalah waktu dan kualitasnya. Saat diri berpikir terus kalah, diri menutup dari peluang perubahan hidup yang lebih baik.

Kesimpulannya, berdoa perlu, motivasi perlu, lebih perlu, jangan pisahkan antara doa dan usaha. Itu satu kesatuan nyata yang utuh. Dalam kondisi depresi di tempat kerja, ingatlah bahwa kita sudah berdoa untuk kelancaran di tempat kerja. Paksa diri melihat semangat yang bisa dibangkitkan dari mengingat doa-doa kita. Itu jauh lebih baik. Lebih menikmati hidup, tidak sekedar merasa menang dan kalah.

Ya, saya juga masih merasa begitu kok, masih merasa hidup dan pencapaian terlalu lambat diraih dari teman-teman lain. Tapi dinikmati saja. Toh, hidup ini, Tuhan sudah beri jalan. Cukupkan berdoa, membaca buku inspirasi, dan tanamkan dalam usaha meraihnya.

17 Comments

  1. ibnu ch 07/04/2014
    • Hanif Mahaldi 07/04/2014
  2. duniaely 08/04/2014
    • Hanif Mahaldi 10/04/2014
    • Hanif Mahaldi 10/04/2014
  3. Tiyo Kamtiyono 12/04/2014
    • Hanif Mahaldi 15/04/2014
  4. hlga 16/04/2014
    • Hanif Mahaldi 16/04/2014
  5. Voucher pendidikan 16/04/2014
  6. Dodi priyanto 18/09/2015
    • Hanif Mahaldi 25/09/2015
  7. Yudha 08/11/2016
    • Hanif Mahaldi 08/11/2016
  8. Dewi 11/12/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge