Mengenal Tere-Liye dari Novelnya

Ya, lama tidak baca novel. Terakhir baca novelnya dewi “dee” lestari mengenai “madre”. Benar-benar menarik. Apalagi tidak sebatas novel cinta biasa, karena cinta dalam novel itu mendewasakan. Kok bisa? Ya, aku anggap novel karya dee itu cintanya bukan cinta remaja. Tapi cintanya orang dewasa dimana butuh “mikir” dan menghayal lebih mengenai cinta dan kehidupan. Lalu nama Tere-Liye juga sebenarnya saya tahu dari facebook. Banyak teman-teman perempuan yang share dari fanpagenya. Entah dari nama sih beliau perempuan. Atau laki-laki? Penasaran, saya beli novelnya yang berjudul “Ayahku (Bukan) Pembohong”.

Oke, sebenarnya ingin menulis sci-fi yang sudah ditulis sampai part 3 topiknya “The Brain Machine”. Tapi mau mengulas ini dulu, refresing, cari ide, cari jalan cerita cari konflik. Penasaran saya akan novelis terkenal Indonesia, pasti mereka punya ciri khasnya sendiri. Setelah membaca novel karya Dewi Dee Lestari, saya mengambil kesimpulan jika beliau mampu menggambarkan situasi keadaan tokoh dan lingkungan lebih kompleks dibandingkan karya Tere Liye. Begitu juga riset akan suatu topiknya mendalam. Malahan lebih seperti petualangan.

Karya Tere-Liye yang berhasil saya tuntaskan yaitu Ayahku (bukan) Pembohong juga menarik. Terutama konflik tokoh utamanya yang tidak mampu saya tebak. Ini lebih pada pemahaman akan perjalanan hidup diri sendiri. Tere Liye berhasil mengaduk-aduk emosi perasaan dan mencoba pembaca menjadi tokoh utamanya. Dengan cara menyembunyikan maksud penting isi novel tepat di akhir cerita.

[learn_more caption=”Ayahku Bukan Pembohong”] Novel Tere Liye, Ayahku Bukan Pembohong[/learn_more]

Belajar menulis fiksi dari karya-karya mereka memang tidak mudah. Jika saya melakukan persis seperti karya Dee, pastilah mejiplakan, walau ide tidak menjiplak, tapi alur dan gaya bercerita akan terlihat. Jika meniru karya Tere, maka sama juga hasilnya. Tapi menggabungkan keduanya bagaimana? Menarik kan? Apalagi jika mencoba menggabungkannya, malah menjadi hal baru, gaya penulisan baru, penceritaan baru, alur baru, inilah mengapa sci-fi saya coba buat. Ya, walaupun nantinya akan terlihat seperti menjiplak karya orang lain, tapi mencoba dulu dan teman-teman blogger bisa menilainya, barulah saya berani membuat karya sesungguhnya untuk kalangan luas.

Kapan?

Masih lama, ini saja masih mandeg (berhenti) sebentar untuk mencari inspirasi baru dan gaya menulis baru. Setelah beberapa teman blogger mengkritik sana-sini tentang gaya penulisan saya, alhasil saya belajar banyak hal. Dari konsep, ide, alur, konflik tokoh, gaya menulis, tanda baca, duh… banyak ya yang harus dikoreksi. Untung bukan karya deadline siap cetak, jadi saya bisa belajar pelan-pelan sambil memahami agar kedepan tidak salah di tempat yang sama.

Bagi teman-teman blogger yang menunggu part ke-4 karya saya, “The Brain Machine” mohon bersabar ya, saya sedang memikirkan ide apa yang tidak mudah ditebak, tapi tetap menarik untuk diceritakan. :) Maaf untuk kabar yang lama ini. Hehe.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

30 Replies to “Mengenal Tere-Liye dari Novelnya

    1. iya mas angga, saya juga suka komik kok. Tapi karena gak bisa gambar, jadi pilih novel dan sejenisnya untuk membantu mendapatkan ide dan inspirasi.

  1. Sama, lama juga ga baca Fiksi (Novel atau Cerpen). Biasanya kalo udah baca muncul juga banyak macam ide menulis.

    Saya rasa bukan menjiplak mas, tapi belajar lebih banyak orang lain. Seperti kata banyak orang : Ngga ada yang ‘orisinil’ di dunia ini. Terlepas setuju atau tidak

    1. bener banget bang, kita hanya menemukan yg sudah ada di dunia, kadang menemukan kembali apa yg sudah lama dilupakan. :D ya, walaupun konsep itu tidak semua setuju dan banyak yg bilang kemiripan adalah penjiplakan. Sulit memang.

  2. Oh, saya baru tau kalau mas Hanif ini mulai menulis fiksi juga. Sip mas, saya dukung.
    Btw, mungkin saya agak telat infonya karena kelamaan hiatus, jadi saya baca2 dulu posting brain machine itu :)
    Mengenai gaya tulisan, lanjut saja mas, nanti saya yakin akan muncul karakter tulisan unik dari mas sendiri.
    Sip!

    1. iya mas darin, masih suka ikut2an gaya nulis dan alur ceritanya, ya, maklum memang tidak benar2 belajar fiksi, jadi sedikit lebih rumit sebenarnya. Tidak ada hal yg terlalu baku di fiksi. Oke, tunggu tulisan selanjutnya tentang The Brain Machine ya.

  3. Pernah baca bukunya benabook gak mas? Itu buku laris banget. Padahal isinya kosong gak ada bobotnya sama sekali. Gaya bahasa sangat rendah kayak anak sd yg belajar mengarang haha.

    Aku jengkel sama bena soale, di saat aku berhasil memenangkan game (di bukunya ada game yg harus konek internet ngono lah) tapi ora direspon blas. Padahal jarang sing iso membuka kunci level itu (yg berhasil aku pecahkan dan hadiahnya harusnya 20 juta! Atau 2 juta ya? Lupa)

    So, hilanglah respekku sama bena. Sudah aku mention tapi gak ada jawaban hihihi..

    Nah, maksudku, tulisan yg kosong gak ada bobotnya wae iso laris manis, opomaneh tulisane sampean.. Yuk semangat mas!

    1. haha, ngerti aku mas benakribo itu, malahan aku memang gak suka dari temen2 cewek baca bukunya, dan dari ku baca ada yg bukaan di gramedia. Bukan menyudutkan sih, tapi jujur penting branding pertama kali.

      setahuku, bena itu punya distro mas ndop, jadi yo koyoke ra begitu fokus ke tulisane, nah dadine koyo aji mumpung, iso gawe buku, distro, wah, opo meneh, yo jenenge artis yo ngono. :D haha.

      aamiin mas ndop… :D

  4. wah, saya malah belum pernah baca novel karua tere liye ini, mas hanif. salut deh bacaannya. konon, inspirasi menulis bisa diperoleh dengan banyak membaca.

  5. Udah penasaran sama yang part 4 nya.
    tadi ngunjungin kesini emang niat mau baca lanjutan the brain machine nya.
    tapi gak papa deh, dapat list novel baru. kayaknya bagus nih novel Tere Liye.

  6. perkenalan saya sama Tere Liye cuma waktu berkunjung ke Malaysia, saya ketitipan buku dari seorang blogger di Jakarta utk disampaikan ke temennya di KL. Jadi saya sempat melihat judulnya saja. hahahaha

    next time harus baca nih

  7. Sering dengar namanya Tere Liye, kebetulan temanku ada yg jadi pembaca setianya. Tapi sekalipun aku belum pernah baca bukunya. Kalau filmnya sih, udah beberapa kali nonton.

  8. Teh Dee sama Kang Darwis Tere Liye sukses jadi penulis fiksi favorit saya. Kalau nulis fiksi jadi ada rasa-rasa hasil ketularan dari mereka.

    Sukses buat The Brain Machine.

    1. wah, sama-sama kegemaran menulis nih mas arip. :D iya, memang novelis jaman2 kita ini karyanya lebih asyik dibaca. :)jaman dulu sama asyiknya, tapi berat tata bahasanya, kadang saya tidak mengerti.

  9. kalo ter liye ini saya gak pernah baca bukunya cuma demen quote-quote di dalam bukunya yang sering dishare di tumblr

    huehehehe

Comments are closed.