Mengenal Kegagalan Bisnis Karena Sindrom “Shiny Object”

sindrom shiny object
Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash

Halo semua… Bagaimana kabarnya semua nih? Sehat? Alhamdulillah kalau sehat… Kalau lagi sakit, ada cobaan dan ujian, semoga segera diberikan keringanan dan kemudahan ya. Aamiin…

Kali ini mau bahas apa nih? Sudah masuk April aja kan? Sebulan lagi puasa. Oke, daripada ngelantur, saya mau bahas sedikit lika-liku terjebaknya hidup di dunia cari duit online. Kali ini saya mau bahas tentang sindrom “shiny object” atau dikenal sindrom gagal fokus.

Ini bisa dilihat di video lengkap dari Mas Bondan ya. Beliau teman dan kenalan seorang yang berkecimpung di dunia bisnis dengan perusahaan Inspira. Kalau kamu juragan di Jogja, pasti tau siapa beliau.

Sindrom ini akan dialami hampir semua orang. Tanpa terkecuali. Bahasa Indonesianya itu, “rumput tetangga jauh lebih hijau dari pada rumput di rumah kita sendiri.” Bisa juga dinamakan iri melihat hidup orang lain. Walaupun tidak seratus persen iri. Hanya saja merasa kalau “tetangga rumputnya bisa hijau dan bagus, kenapa punya kita tidak?”

Pernah ngalamin gak? Saya pernah. Sering. Sampai sekarang! Wah. Oke, saya beri daftarnya dibawah ini, pengalaman saya terjebak dalam sindrom ini. Benar-benar seperti lingkaran setan.

  1. Mencoba adsense. Merasa mudah dan murah. Setelah jebol dapat 1 juta rupiah, merasa melihat bisnis influencer menggiurkan, maka pindah haluan (padahal kalau tekun ya bisa juga dapat lagi). Belum lagi kena terjang hewan-hewan google mengakibatkan pendapatan terus menurun dan menguatkan untuk pindah haluan cari duitnya (maklum banyak alasan).
  2. Mencoba jadi influencer. Tepatnya di twitter. Berhasil dengan banyaknya promo iklan, buat buku, tapi sekali lagi, take down. Merasa tidak ada perkembangan signifikan bertahun-tahun, lelah (alasan lagi) dan berhenti. Mencoba bekerja masuk di perusahaan-perusahaan.
  3. Sembari kerja, tergiur lagi. Mencoba bisnis sendiri. Waktu itu lagi gembar-gembornya di Jogja startUp. Jadi buat kaos seperti Polo Shirt dengan nama merek dagang sendiri. Kandas baru 12 pcs, yang laku cuma 4. Ini juga terjadi dengan ikut program dropship dan reseller. Sama hasilnya, baru berhasil setengah jalan, ambil tikungan.

Pernah seperti itu? Bohong ya kalau gak pernah. Hehe. Sindrom ini adalah sindrom yang menyerang siapa saja yang memang tidak sabar menjalani hidup mencari uang. Karena tekanan lingkungan, keluarga, maupun karena internet. Mudahnya adalah kita mudah terpancing berpindah haluan karena internet menyajikan program-program kesuksesan yang terkesan instan (padahal tidak).

Contoh? Cek deh, sekarang mulai banyak lagi software-software editing video, template video menggunakan power point agar memudahkan kita bisa upload video ke Youtube. Terus dijadikan uang deh videonya. Tapi kebijakan baru Youtube malah menyengsarakan. Akhirnya? Pada pindah haluan lagi. Termasuk saya yang sempat buat channel gaming Youtube.

Lalu bagaimana sebenarnya agar kita tidak mudah terserang sindrom ini?

Bagi saya sendiri mudahnya adalah kita melakukan LEVEL UP.

TINGKATKAN KUALITAS DIRIMU, SKILL, RELASI, DAN WAWASAN BARU!

Tapi bukan untuk mencari produk baru, bisnis baru, bukan. Bukan untuk itu. Tujuannya dengan produk, model bisnis yang kita punya sekarang, kita naikkan kualitasnya.

Semisal kalau dulu jualan di Facebook itu cuma SPAM kesana-kemari dari grup ke grup. Maka sekarang belajar untuk Facebook Ads atau personal branding. Itu namanya naik kelas. Nah, kalau sudah berhasil punya produk sendiri dengan kapasitas produksi 100 pcs sebulan, maka bagaimana caranya agar bisa menghasilkan 1000 pcs sebulan? Itu adalah contoh bentuk dari LEVEL UP.

Seperti halnya bermain game, baik online di handphone, di komputer, kita akan merasa menikmati permainannya kalau kita berkembang, naik level, jadi lebih jago. Bukan sebaliknya yang mencoba berbagai macam game dan malah gak jago-jago. Kesenangan mencoba berbagai macam game cuma sebentar. Tapi kalau sudah ahli di satu game aja, bahkan bisa menamatkan game tersebut, bagaimana rasanya? Puas? Seneng? Di bisnis sama.

Itulah tabiat kita sebagai manusia dan kita tinggal pilih yang mana nih? Bahkan dalam game tidak sedikit pemain yang melakukan kecurangan, menggunakan cheat atau bot atau memanfaatkan bug atau yang lainnya. Nah, bagaimana menurutmu? Di bisnis juga ada kan yang curang? Tidak jujur? Banyak. Kita harus memilih jalan yang benar-benar bisa memberikan kita efek jangka panjang keuntungan yang nantinya bisa maksimal.

Kalau saya apa nih soal kualitas? Jujur saya masih suka nulis. Satu-satunya hal yang produktif dari saya yang tidak begitu terpengaruh oleh Sindrom “Shiny Object” itu sendiri. Mau iri sama penulis terkenal lainnya? Sudah gak masuk dalam pikiran saya. Tapi entah kenapa kalau di bisnis online masih suka begitu. Aneh ya? Ya, namanya juga terus intropeksi diri.

BUKANNYA SHINY OBJECT TAPI MERAIH PELUANG BARU!

Ini yang juga sering disalah artikan oleh banyak orang. Buru-buru menyimpulkan kalau sindrom “shiny object” sebagai cara kita meraih peluang baru. Bedanya gimana?

Pertama bedanya adalah terukur. Peluang baru harus bisa terukur. Bukan cuma terukur saat memulainya. Tapi sampai hasil dan evaluasinya juga harus bisa diukur. Peluang baru tidak berhenti ditengah jalan, harus tuntas dan dipelajari mengapa bisa gagal, mengapa bisa berhasil. Lalu dilanjutkan kembali dengan metode yang berbeda. Itu bedanya.

Kedua peluang tidaklah tergesa-gesa. “Eh, itu, ada mastah internet marketing lagi buka kelas online. Tapi biayanyanya setengah juta. Tapi aku masih ngerjain bisnis ini e. Ikut gak ya? Ikut aja deh, mumpung ilmunya ada. Toh siapa tahu berguna juga nantinya.” Ini disibut sindrom gagal fokus tadi. Karena ilmu berkembang, jadi jangan khawatir di masa depan tetap ada mastah lainnya yang juga akan membahas apa yang kita butuhkan. Fokus dulu yang sekarang.

Ketiga suka-suka gue dong, duit-duit gue. Ya, sindrom ini membuat siapa pun gelap mata dan hati serta pikirannya. Menganggap semua berada dalam kendalinya dia. Sehingga tidak mau dianggap gagal fokus. Jadi bagaimana? Ya, yang akan menerima resiko tetap masing-masing orang kok. Jadi tetap fokus saja dulu sebelum resiko besar tidak terduga nantinya muncul dan kita tidak bisa mengantisipasinya.

Oke, mudahnya gini, kalau kamu dapat tawaran, sebuah sofware, yang mana bisa riset keyword, cek kompetisi, mencari artikel, spin artikel, cari image, cari domain yang memudahkanmu memenangkan pencarian nomer satu di Google sepertiĀ eztools, kamu masih mau ambil? Apalagi bisa untuk ningkatin google adsense, jualan toko online, masih mau? Yakin? Nah, itu dia godaan-godaan yang bisa membawa kita ke arah sindrom “shiny object”.

Jangan kayak saya. Udah tahunan, eh sadar, udah gak bisa lagi dibilang muda. Hahaha. Dan mau bagaimana lagi. Harus kembali fokus pada yang telah menghasilkan.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

2 Replies to “Mengenal Kegagalan Bisnis Karena Sindrom “Shiny Object”

  1. Tul sekali ini mas. Sindrom yang sering dilakukan orang tanpa disadari. Saya juga pernah baca di blog luar, dia bahas seperti ini juga. Hanya karena ngelihat WOW nya lalu ikut…. terus gak lama pindah dan seterusnya. Ujung2nya ya jadi gak fokus dan gak ada satu pun yg berhasil.

    1. Bener, saya udah ngalamin juga, dan udah sampai di usia yang sulit jika kebiasaan itu terus dilakukan. Harus mulai fokus dan terus dikembangkan nanti hasilnya tetap akan kelihatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *