Masanya “One Man Show” Itu Sekarang?

One Man Show – Salah satu kalimat yang diceletukkan oleh sahabat karib semasa SMA di sebuah kedai kopi. Di malam itu, saya dan dia ngobrol ngalur ngidul. Kemana-mana tak juntrung arah. Kadang begossip, kadang mengkritisi. Unik dan lucu-lucu. Apalagi saat dirinya bilang, “aku heran banyak teman-teman yang selalu ingin, “one man show” atau seperti superhero sendirian, ya, akhirnya selepas kuliah kita ini banyak yang sulit ditemui untuk sekedar ngopi bareng, hahaha”. Itu obrolan lama dan sekarang coba saya opinikan disini.

Di Indonesia, lebih senang masyarakat melihat sosok tangguh sebagai panutan. Bukan lembaga yang jadi panutan. Akibatnya, banyak orang menghargai mereka yang hebat daripada lembaganya. Kok bisa? Jelas bisa dong, itulah produk media massa. Coba lihat profil gubernur kesayangan kita Jokowi Dodo, lihat juga profil walikota surabaya, Tri Risma Harini. Mereka sangat diagung-agungkan. Karena satu diantara banyak orang yang tidak mementingkan diri sendiri.

Akhirnya dalam kehidupan kita, selalu ada hal yang ingin kita tunjukkan pada orang lain agar dikatakan hebat. Baik sadar ataupun tidak sadar kita sekarang melakukannya. Dalam proses menuju kesana. Sayapun begitu. Masalahnya timbul saat masyarakat lebih banyak melihat sisi subjektif dibandingkan objektif seorang tokoh. Alhasil, apapun yang tokoh katakan, lakukan, salah benar, dianggap benar.

Kok bisa? Apa benar begitu?

Ya, memang waktu yang akan menjawabnya. Tapi nyatanya begitu. Seperti tulisan di impactfactory yang ditulis oleh Om Rene Suhardono, jaman sekarang, banyak pekerja, karyawan, lebih mementingkan transaksional dibandingkan kesabaran. Banyak yang turn over atau pindah kerja, pindah perusahaan agar mencari kenyamanan lebih baik dibandingkan bersabar dulu mengabdi pada perusahaan. Tidak salah, tapi rentan berantakan.

Sebenarnya tujuan tulisan ini cuma satu, saya rindu teman-teman lama. Dimana mereka sibuk dengan pencapaian hidupnya. Sibuk dengan bagaimana menjadi hebat antara satu dan lainnya. Hingga nanti saatnya kita berkumpul dalam reuni apapun, kita akan saling menunjukkan pencapaian diri. Padahal ingin rasa hati ini berkumpul bernostalgia tentang masa dulu. Tentang pertemanan sejati.

Seperti jauh panggang dari api. Ya sudah biarkan saja dunia bergulir. Tidak ada yang bisa aku lakukan toh aku salah satu dari One Man Show itu. Tanpa sadar pencapaian aku temukan, tanpa sadar juga pertemanan aku hiraukan. Oh, hidup, semoga pikiranku kembali pada nilai-nilai luhur nenek moyang. Dimana kehidupan sosial adalah kehidupan tentram keakraban tiada tara. Semoga mereka orang hebat, Pak Jokowi, Ibu Tri Risma, bisa tetap menjadi panutan kelak, saat jabatan tak lagi hangat ditangan mereka.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

10 Replies to “Masanya “One Man Show” Itu Sekarang?

  1. Indonesia butuh orang2 seperti mereka yang bekerja dengan cara mengajak dan menunjuukkan caranya, bukan sekedar memberi perintah…

  2. apa emang udah begitu kali takdir nya ya?
    tapi emang iya sih, kalau bicara in soal lembaga nya maka gak ada yang bisa dijual deh di media massa. Jadinya biasa saja, tapi kalau figur nya? Kan lebih menarik lagi jadinya gitu.

  3. sebagai manusia yang konon kata bu guru adalah mahkluk individu, One man show memang oke sih seperti saat mandi atau hal privasi lainnya. Tapi guruku juga mengajarkan jika manusia itu mahkluk sosial yang artinya we need a team juga :-). Jadi kesimpulannya menurut saya sih “empan papan (when need it, do it)”

    1. Nah, itu dia maswira, ada hal yg menjadi kepentingan kelompok yg benar2 bisa membahagiakan banyak orang yaitu masyarakat yg harus diraih dulu. Daripada kepentingan kelompok tertentu seperti parpol.

  4. Jaman sekarang, banyak pekerja, karyawan, lebih mementingkan transaksional dibandingkan kesabaran

    iye benar saya setuju kalimat diatas

  5. Mudah-mudahan saja lebih banyak yang one man show, sehingga jumlah figur-figur orang baik menjadi lebih banyak. yang pada akhirnya menjadikan figur lembaga yang lebih baik. positive thinking dan selalu punya harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *