Kita Pasti Merasa Tersesat

Tersesat bukan makna sebenarnya disini loh… Karena dalam kenyataannya, kita juga pernah tersesat. Di usia 24 ini, saya juga pernah beberapa kali tersesat di Jogjakarta. Apalagi kalau sudah malam tiba, salah masuk kompleks yang sebenarnya tujuan utama pengen ke kost teman kampus. Tersesat karena banyak palang besi menutup jalur masuk dan keluar komplek karena sudah terlalu malam. Muter-muter gak jelas, dan tersesatlah sudah. Wajar. Saya yakin kamu juga pernah kan… hehe,

Lalu tersesat selanjutnya adalah tersesat hidup. Ini bukan tersesat agama loh… Agama manapun pasti punya aliran sesat, karena logika dan emosi manusia menciptakan cara pandan baru yang menyesatkan. Bukan… Bukan itu sob… Tapi tersesat dalam hidup.

Pernah gak sudah dapat kerja, sudah bekerja selama 2 tahun misalnya, akhirnya hidup merasa gitu-gitu aja. Merasa gagal tidak, berhasil juga tidak. Padahal sesaat diterima bekerja, bahagia itu datang seperti keroyokan di dalam pikiran dan hati nurani kita. Tapi setelah dijalani, menjadi biasa saja. Why…!?

Jangan heran, itu dialami semua orang, dialami semua yang sukses maupun yang tidak. Mereka yang dianggap sukses pasti merasa, “apa lagi yang harus saya kerjakan?” sedangkan mereka yang merasa gagal pasti merasa, “bagaimana ini tidak berhasil juga?”. Hayo ngaku… kamu pasti pernah merasa demikian.

Saya sendiri mengalami hal itu. Merasa sukses mencetak buku, lantas apa selanjutnya? Menulis lagi? Hebatnya semangat, motivasi, untuk menulis terjun bebas. Hampir sulit merasa bangkit untuk menulis buku lagi. Jadwal ngeblog tiap 4 hari sekali juga terkendala. Apalagi blogwalking, haduh… nelat semua.

Bertanya-tanya dalam hati, ini kenapa sih? Banyak sebab, salah satunya tentu tersesat. Bahkan di blog-blog bahasa inggris tentang motivasi hidup dijelaskan kalau saya cenderung overthinking. Apa itu? Ya, mudahnya merasa ide banyak sekali didapatkan, bahkan sejak bangun tidur hingga tidur lagi, tapi tindakannya nihil. Merasa tindakannya sudah dikerjakan, tapi selalu merasa kurang, tidak sempurna, salah terus, dan sebagainya.

Tidak ada tips yang benar-benar membantu menurut saya setelah baca sana-sini. Akhirnya kembali “bermesraan dengan Tuhan” menjadi jalan akhir. Semakin meningkatkan amal ibadah. Karena saya muslim, berarti menambah sunnah yang tidak berkutat pada yang wajib saja. Demi apa? Demi tidak tersesat. Hati merasa tidak gagal, dan juga tidak berhasil itu rasanya… Aneh.

Sebab tersesat saya akhirnya ditemukan oleh diri saya sendiri. Bacanya gak bingung kan? hehe, begini. Sebagai penulis, selalu punya target, bahwa setelah buku naik cetak dan terbit, buku harus bisa best seller. Itu kepuasan hebat seorang penulis. Sayangnya, tidak semua penulis mampu meraih itu. Lihat saja di Gramedia toko buku. Setiap bulan hanya dipajang 10 buku terlaris. Lalu kemana buku lainnya? Tidak laris begitu?

Ironi, karena disukai penerbit, baik konsep, jalan cerita, isi buku, dan lainnya belum tentu juga dapat diterima oleh masyarakat. Itu masih dari saya, belum dari teman-teman yang baru sebentar, bosan bekerja, baru sebentar jenuh berwirausaha. Semua ternyata punya sebab menuju jalan tersesat.

Akhir kata, tenang, rileks, menyedikitkan berpikir, dan memasrahkan pada Tuhan itu jalan terbaik. Dekat denganNYA berarti yakin hidup diesok hari pasti lebih baik. Walau belum tentu besok seperti yang kita harapkan, setidaknya, besok adalah yang terbaik menurutNYA. Bagi kita? Santai saja, nrimo saja. Berdoa, semoga tidak tersesat lagi. Hehe,

41 Comments

  1. GoaGeol 14/12/2013
    • Hanif Mahaldi 15/12/2013
  2. Kang Jum 14/12/2013
    • Hanif Mahaldi 15/12/2013
  3. Ongki 14/12/2013
  4. dedekusn 14/12/2013
    • Hanif Mahaldi 15/12/2013
  5. indobrad 14/12/2013
    • Hanif Mahaldi 15/12/2013
  6. kang haris 15/12/2013
    • Hanif Mahaldi 15/12/2013
  7. Ikhwan 15/12/2013
    • Hanif Mahaldi 16/12/2013
  8. Yudi 15/12/2013
    • Hanif Mahaldi 16/12/2013
  9. Anggi Alfonso 15/12/2013
    • Hanif Mahaldi 16/12/2013
  10. bocah petualang 15/12/2013
    • Hanif Mahaldi 16/12/2013
  11. Hyu 16/12/2013
    • Hanif Mahaldi 17/12/2013
  12. tomi 16/12/2013
    • Hanif Mahaldi 17/12/2013
  13. Tiyo Kamtiyono 17/12/2013
    • Hanif Mahaldi 17/12/2013
  14. Yos Beda 17/12/2013
    • Hanif Mahaldi 20/12/2013
  15. giewahyudi 18/12/2013
    • Hanif Mahaldi 20/12/2013
  16. hlga 18/12/2013
    • Hanif Mahaldi 20/12/2013
  17. danyf5habibi 26/01/2014
    • Hanif Mahaldi 04/02/2014
  18. @hijriyan 15/02/2014
    • Hanif Mahaldi 15/02/2014
  19. Ade Widia 08/07/2014
  20. Horacio 18/05/2015
  21. doni 26/06/2015
  22. Dianisa 20/07/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *