Kita Akan Baik-baik Saja

Sejenak mencari inspirasi, saya dapat dari Zen Habits. Ya, kita semua akan baik-baik saja. Ada benarnya apa yang dituliskan oleh blog tersebut. Kita cenderung cemas berpikir terlalu banyak. Cemas terhadap pandangan buruk orang lain pada kita. Sehingga kita terlalu cemas untuk bertindak. Bahkan sampai hal yang akut, parah, benar-benar tidak tertolelir (toleransi), kita merasa tindakan baik kita harus juga baik oleh orang lain. Saya juga mengalaminya. Cukup aneh sih. Tapi saya menyadarinya setelah membaca artikel di blog tersebut.

Saya pernah merasa tidak cemas. Rambut gondrong, saya cuek, padahal sudah banyak yang mengkritik. Kemudian dalam hati berpikir “ini rambut-rambut gue, kenapa masalah buat lo!” dan ternyata saya bertemu orang atau teman bertato, saya juga menilai buruk penilaiannya, “kok saya bisa menilai negatif sedangkan saya tidak ingin dinilai negatif”. Padahal belum tentu dia yang bertato juga melakukan tindak kejahatan terhadap orang lain.

Ya, kita selalu merasa cemas. Saat kita melakukan kesalahan, tidak lantas dunia berakhir. Ada hal lain yang perlu kita cermati. Kita salah menjalani ujian tes pekerjaan, kita berpikir kita telah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Lebih parahnya berpikir diri bodoh jika telah melakukannya berulang-ulang. Saya juga pernah begitu. Sampai sekarang.

Ya, kita akan baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan dan cemaskan. Saat kita salah, maka kita belajar bahwa salah itu tidak boleh terulang. Kita tidak mungkin menjaga sikap tanpa kesalahan semasa hidup. Kita hanya bisa belajar dari salah yang sudah berlalu. Itulah pengalaman berharga dan kita akan baik-baik saja. Tenangkan pikiran, cobalah hal baru, salah? Biarlah berlalu dan perbaiki semampumu, lalu cobalah lagi. Agar hidup kita tenang tidak terus memikirkan apa kata orang lain pada kita. Biarlah mereka berkata, kita yang ambil pengalamannya.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

8 Replies to “Kita Akan Baik-baik Saja

  1. Ya itulah manusia mas, suka merasa cemas duluan.
    Mikirnya udah terlalu panjang, “nanti kalo gini gimana….. Nanti kalo bla..bla..bla”.
    Kesannya udah parno duluan sama hal2 yang sebenarnya belum tentu terjadi :D

    1. Hehe, saya sering begitu sih mas, kadang untuk hal produktif saya terlalu visioner, hingga hampir mustahil dilakukan. Jadi perlu memendekkan pandangan pikiran ke depan, yang penting DO IT dulu. hehe.

  2. Saya juga begitu. Selalu merasa cemas.
    DUlu pernah belajar meditasi untuk menenangkan pikiran dan konsentrasi agar bisa membalance emosi…
    Sekarang? Balik lagi. hahaha..

  3. Orang yg cemas biasanya gak berani naik wahana ekstrim kayak megamix atau sepeda udara, soalnya yg dipikir ya itu tadi, ntar kalau jatuh gimana? Haha.. Padahal setelah naik, rasanya jadi tahu betapa hidup ini penuh adrenaline. Bahkan ketika kita marah, adrenalinenya lebih kuat dibanding naik megamix itu loh..

    1. Bener mas ndop, perlu belajar untuk resiko besar, tapi juga memperhatikan resiko kecil. Agar semua resiko bisa kita tangani, bukan malah diabaikan. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *