Kesabaran Tanpa Batas

Limit… Limit… Di kost bisa teriak-teriak begitu kalau paket internet speedy mengalami puncak limitnya. Bahkan facebook langganan dibuka dan twitter cuma bisa muter-muter (proses browsing tak kunjung kelar). Sedangkan limit hidup? Kematian itu. Lalu limit yang lain?

Sabar bisa dibedakan menjadi dua hal. Sabar dalam susah. Sabar dalam senang. Terkadang, sabar dalam senang bisa kita temui dalam hidup. Lalu sabar dalam susah, malah lebih sering kita temui. Sampai ada celetukan, “masa cuma susah aja berdoa, bersabar dan pasrah, senang kita lupa?” Yup, ada benernya. Lalu bagaimana kalau sudah susah, sabar juga tidak? *Tepok Jidat*.

Perjalanan hidup yang harus bersabar adalah kunci kesuksesan. Ya, itu juga benar. Tapi kalau tidak disikapi dengan benar jatuhnya malah pasrah yang tak pernah mencoba. Misalnya, saya pernah alami saat pengerjaan skripsi, sabar terlalu sabar, pelan terlalu pelan. Hingga setahun berlalu dari seharusnya baru kelar. Salah siapa? Saya? Iya jelas. Itu dalam susah. Saat upaya dan usaha mengejar ketertinggalan, ada faktor X yang tidak bisa dilawan. Ada limit yang ternyata disebabkan oleh orang lain tidak bisa kita hindari.

Misalnya lagi. Dalam dunia kerja, kita bersabar dalam meraih pangkat selanjutnya. Jenjang karir bertingkat ingin kita lalui dengan cepat. Karena itu sebuah prestasi setelah lulus kuliah/sekolah. Tapi apa mau dikata, jika jenjang karir juga disebabkan oleh atasan kita. Sudah rajin bekerja, bahkan mencoba tidak ikut politik kantor, jujur, tepat waktu, kreatif, sumbangsih tenaga dan ide, eh, malah teman sendiri yang kita nilai lebih malas dari kita, naik pangkat lebih cepat. WHAT!? Salah siapa? Saya? Kita? Itulah mengapa ada faktor X, ada limit kesabaran.

Lalu Ada Kesabaran Tanpa Batas?

Ada dong. Internet saja ada yang kuota unlimited, buatan manusia, masa buatan Allah (Saya muslim), buatan Tuhan, tidak ada unlimitednya. Dalam diri manusia, unlimited inilah kesabaran. Sudah banyak teori unlimited sabar. Maaf ya, jadi campur aduk bahasanya. Hehe. Teori apa itu?

Pertama teori setengah isi setengah kosong. Dalam gelas berisi setengah air, hanya mindset dan sudut pandang kita melihatnya. Jawabannya selalu benar. Kita bilang gelang itu setengah kosong ya benar. Kita bilang setengah isi ya benar. Lalu kita taruh makna syukurnya digelas itu. Setengah isi itu nikmat yang sudah kita peroleh, lalu setengah kosong itu nikmat yang belum kita peroleh. Mau tidak bersyukur? Lihat saja setengah kosong gelasnya. Hasilnya? Stress! Hehe, karena kita hanya fokus pada apa yang belum pernah atau tidak pernah kita miliki.

Kedua teori ikan dan kolam. Merasa kita berada di kolam yang kecil? Kurang puas dan ingin pindah ke kolam yang besar? Boleh, benar, lalu bersyukur atau tidak? Kolam kecil sempit, perusahaan lokal emang gajinya rendah, tapi jelas kan ada manfaatnya juga. Seperti kurangnya pesaing, dekat dari rumah dan keluarga, tidak pusing sama politik kantor dan jenjang karir bisa naik cepat. Tapi kan tidak selalu begitu? Iya, itu juga benar. Untuk itu, saat sudah berada di kolam manapun, sabar dulu dan syukuri dulu. Jika siap berpindah ke kolam lainnya, lakukan saja. Resiko pasti ada kan.

Dua teori itu yang membawa saya dalam kesabaran yang kadang hampir tersesat (tulisan saya tentang “kita selalu tersesat” bisa dibaca). Atau dalam keadaan sabar yang menenangkan sudah dilalui. Tinggal menunggu hadiah dari Allah berupa cobaan hidup lain yang butuh sabar. Dalam kasus saya, senang sudah lulus kuliah, sudah nulis buku, tapi belum bekerja, ya sabar aja, maklum masih mencari-cari disekitar Jogja saja. Belum mau berpindah ke kolam lain (cari kerja di kota lain). Itu cobaan dalam senang. Cobaan dalam susah, ternyata di sela senang, saya masih mengalami beberapa musibah misalnya saja rencana yang tidak kunjung berhasil, mau buka bisnis mentok ide dan aktualisasinya. Mau nulis buku lagi, eh buku pertama kurang menarik perhatian pasar. Ya, nikmatin saja.

Teman-teman bagaimana tuh pengalamannya tentang kesabaran? Pasti banyak kan, limitnya udah dinaikin belum? Kuota sabarnya dinaikin ya, kalau bisa sampai unlimited. Huehehe.

13 Comments

  1. ndop 15/02/2014
    • Hanif Mahaldi 17/02/2014
  2. Andhy 16/02/2014
    • Hanif Mahaldi 17/02/2014
    • Hanif Mahaldi 17/02/2014
  3. cumilebay.com 17/02/2014
    • Hanif Mahaldi 17/02/2014
  4. tomi 17/02/2014
  5. ibnu ch 01/03/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *