JobFair Itu Rasanya… Gatel!

[box type=”info”]

Tanya: Kok bisa sob…?

Jawab: Bisa dong, lah cuaca lagi panas begini. Di Jogja loh, ini hari rabu tapi kok ya panas dan tidak turun hujan. Apalagi disuruh sesumpelan bersama ratusan orang di JobFair. Wuihhh… Gatel!

Tanya: Ya, kok bisa gatelnya itu loh?

Jawab: Ya karena panasnya, debu, berdesakan, saling senggol dan sentuh, gatel deh. Keringat bercucuran. Huahaha…[/box]

Dialog diatas sebenarnya antara saya dengan seorang teman kost sehabis pulang hari ini dari arena bermain… eh, salah. Arena job fair… Hore…! Ini bukan kegembiraan. Tapi rasa gatal karena panas. Mampir di minimarket untuk melepas dahaga segera. Sesampainya di kos-kosan, lalu membuka baju… lalu… SENSOR. Hahaha.

Kemudian melihat brosur kembali untuk beberapa lowongan kerja dari beberapa perusahaan yang ditawarkan. Serasa tidak ada yang menarik. Sebenarnya tertarik dari Republika Group. Tapi kok reporter? Editor gak ada bu…? *kedip mata, ternyata yang jaga stand mas-mas.

Oke, skip, kalau pengen tahu jobfairnya apa, nih, ada linknya langsung lihat tinggal klik. Tenang bukan jebakan betman. Saya malah tidak suka superhero itu. Kurang “super”, *gak nyambung.

Job Fair Purna Budaya UGM 2014

Ini bukan galau… Bukan… Ada sih sedikit. Huhuhu. Ternyata tidak semua lowongan diminati. Ada beberapa lowongan yang penuh orang. Ada yang dilihat sambil lalu. Ada yang sepi nyet-nyet, *bunyi jangkrik dipencet.

Ok, seminggu yang lalu juga sudah kirim lamaran via online ke Solopos.co.id untuk editor yang baru dibuka. Tapi tidak ada balasan. Entah mungkin memang tidak menarik CVku. Atau IPKku yang tidak cantik? Bukan masalah *coba tegar. Walau bagaimanapun, tetap harus mencobakan? Soalnya orang tua adalah kalangan pekerja. Jadi tidak bekerja itu tidak afdol. Saya jadi ingat pesan bapak.

“Kalau mau jadi wiraswasta tidak apa-apa. Bapak dukung kok. Bapak sudah senang kamu lulus malah nulis buku. Nulis lagi juga tidak apa-apa.”

Kemudian beberapa hari setelahnya saya jahilin bapak.

“Pak, minta duit dong, buat dipakai modal buat buka usaha. Berapa puluh juta gitu…” sembari menongkrong di teras depan rumah saat aku pulang ke rumah.

“GUNDULMU! Cari modal sendiri sana.” terpingkal sudah aku sejadi-jadinya. Bapak serba plin-plan.

“Kalau bisa ijasahmu itu dipake. Sayang. Rugi.” Akhirnya fix cari kerja jadi urutan nomer kedua setelah proyek buku kedua. Mau dikata apa jika pekerjaan memanggil, disebuah instansi tertentu kelak. Buku jadi prioritas kedua. Fleksibel yang mana saja yahuddd…

Ini guyonan loh (becanda). Jangan dianggap serius. Sekedar artikel menghibur jika ternyata pencari kerja jumlahnya selalu melebihi dari pemberi kerja. Mau dikata apa. Semoga mereka, teman-teman pencari kerja di jobfair yang tidak bisa kusapa semua *siapa eloh nif!? bisa mendapatkan rizkinya dengan lapang. Aamiin… *suara keras pakai toa masjid. Sekian…

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

21 Replies to “JobFair Itu Rasanya… Gatel!

  1. Selamat berjuang mas, tapi kalau boleh kasih saran, bekerja itu ga melulu harus sesuai bidang studi, apalagi untuk yg fresh graduate.

    Saya dulu pernah jadi operator warnet, guru privat.. sebelum akhirnya ya jadi juga kerja di bidang teknik.

    Yang penting terus berusaha dan pantang menyerah! :)

  2. Baca komen atasku, kok gak sesuai konteks, ini postingannya khan disuruh bapak buat menggunakan ijasahnya. Bukan masalah “kerja apa aja gak papa”. Beda dong konteksnya.

    Jadi oeprator warnet khan gak perlu ijasah sarjana. Hahahhaa..

    Oke deh mas, semangat selalu dong! Ntar kalau memang sudah pantas bekerja, ya akan dapat sendiri kok pekerjaan yg sesuai ijasah.

    1. Hehe, mas ndop menangkap maksud saya. Ya itulah mas ndop, karena memang kadang masuk jobfair hati tidak ingin bekerja terikat instansi. Tapi gak begitu, ortu, orang terdekat, selalu mendorong untuk ikut dan bekerja. Harus selalu sesuai keinginan. :)

      1. Santai saja mas darin, semua berhak berkomentar kok, saya menanggapi semuanya. Tidak ada yang salah, malah inilah keragaman berpikir. :D mungkin saya yang kurang luwes dan to the poin. hehe.

  3. Dulu sewaktu lulus kuliah, agak ragu juga nantinya bisa cepet dapet kerjaan atau nggak, hahaha…
    Sayang kan udah kuliah tinggi2 tapi ijasahnya nggak kepake :D
    Tapi ya sekarang syukurnya udah kerja sih walau emang rada jauh dengan jurusan yang diambil sewaktu kuliah dulu.
    Intinya dapet kerja deh. Itu udah cukup, wkakakak…
    Semangat mas :D

    1. Hehe, begitulah mas zippy, saya juga sedang menjadi jobseeker. Eh, syukur tadi siang baru aja dapat panggilan tes kerja setelah lulus tahap administrasi.

  4. Orang tua pasti penginnya melihat anak turunannya sukses.. Mudah2an dengan usaha dan doa orang tua bisa menemukan jalan menuju kesuksesan entah jadi pekerja atau pengusaha.. Semangat terus mas bro..:D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *