First Day Syndroms! Semangat Aja!

Oke, First Day Syndroms! Apa artinya? Menurut saya sih ketakutan dan kecemasan berlebihan terhadap hari pertama bekerja. Lah arti secara ilmiah? Hehe, ini kan cuma opini yang saya kemukakan sendiri. Teman-teman bisa mencari lebih jauh di internet makna sebenarnya. Tapi yang saya sukai dari istilah itu adalah hampir kita semua merasakannya.

Hari pertama kerja ada semangat dan ada kesenangan namun ada kekhawatiran. Cemas nanti teman kerja tidak bersahabat, lingkungan dan fasilitas kerja mengecewakan, atasan yang serba otoriter, dan ketakutan-ketakutan lain. Seperti ketakutan teknis yaitu nasib menjadi karyawan kontrak atau tetap, takut gaji tidak turun, takut tidak ada tandatangan perjanjian kerja, dan sebagainya.

Oke, kita boleh merasa cemas dan takut. Namun lebih sering tidak terjadi. Anehnya, sebaliknya saat kita tidak memikirkan kecemasan itu, malah kadang terjadi. Aneh ya?

Intinya, kita harus siap untuk menerima pilihan hidup bekerja atau berwirausaha. Keputusan hidup itu sangat penting bagi kita berarti harus siap dengan segala kondisi. Persiapan itu perlu setidaknya meminimalisir kita dalam menanggapi miskom atau kesalahan. Bukan berarti kita tidak boleh salah kan? Ya, kita harus siap.

Ketidakmengertian terhadap ritme kerja, standar kerja yang berbeda dengan kuliah, atau teknis kerja yang tidak dipahami cukup kita maklumi. Artinya, pekerjaan tidak seperti membangun candi satu malam. Tetapi butuh bertahun-tahun untuk paham. Hari pertama tidak berhasil bukan berarti di hari kedua juga tidak berhasil.

Oke, sedikit cerita, saya hari pertama bekerja di PT ATOMA MEDICAL. Sebagai sosial media admin. Huehehehe. Bekerja mengantarkan tweet, posting facebook, linkedln. Atau setidaknya membuat draft yang nanti diserahkan ke atasan untuk disetujui harus direvisi. Ada masalah ritme bekerja saja sebenarnya yang harus diadaptasi secepat mungkin.

Yaitu, draft tweet hampir sebulan diselesaikan dalam 1 hari. Itu untuk satu klien. Cepat sekali ya? Padahal jadi buzzer twitter biasanya saya menset untuk 1 minggu itu diselesaikan 1 hari. Ini ritmenya 4x lipat. Sungguh suatu tantangan. Artinya apa? Saya bekerja ekstra. Namun menyenangkan. Selain memaksimalkan fungsi kerja tubuh dan otak, saya belajar banyak hal mengenai dunia kesehatan saat itu juga.

Nah, gambar kantornya sekiranya dibawah ini,

Kantor di Jogja Digital Valley

Diisi 2-3 orang. Kecil sih. Tapi ruang kerjanya di luar besar. Soalnya dipakai beramai-ramai dengan StartUp lainnya juga. Bisa mengunjungi juga portal kesehatannya di TanyaDok.com loh. Hehe. Kalau mau liat workspacenya, bisa ke JogjaDigitalValley.com.

Nah, selain StartUp perusahaan tempatku bekerja, ada juga StartUp dari Melon (langitmusik), lalu ada IpayMu. Lalu yang lain masih belum launching. Kemudian ada juga para freelancer yang datang disana. Mungkin teman-teman blogger jogja yang juga freelancer sering kesana bisa ketemu dan ngobrol bareng. Huehehe.

Demikian cerita singkat dariku. Semoga terhibur ya…

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

19 Replies to “First Day Syndroms! Semangat Aja!

  1. Selamat dengan pekerjaannya. Seharusnya fun ya karena sesuai dengan minat juga nih, secara yang dilakukan juga tidak jauh2 dari social media dan dunia digital.
    Kecemasan saat hari pertama, itu juga pernah saya rasakan, saat pertama kali masuk, saat pindah divisi, dst dst… hahah…

    1. Iya sih mbak. Masalah tetep aja deg2an di hari pertama kerja. Takut terlalu pasif atau terlalu aktif.

      Wah, kalau sudah pindah divisi berarti sudah naik jabatan dong mbak. Seru tuh… :)

  2. waaah lebih menantang dari jadi buzzer biasanya ya Mas hehe…semoga sukses dan betah dengan tempat kerja barunya ya mas…

  3. Menurut saya hal ini tidak begitu berbeda dengan menulis. Seusai satu buku sudah ditulis, untuk memulai menulis buku yang lain kadang seperti diri ini sama sekali belum pernah menulis. Tapi, bila sudah bismillah… kata demi kata pun akhirnya mengalir dalam kalimat dan alenia.

    1. Benar pak. Untuk memulai menulis saja, saya butuh waktu setidaknya 6 bulan untuk mencobanya lagi. Terlalu lama. Tapi perlu juga untuk evaluasi diri.

  4. Tetep aja, kerja di hari pertama dimanapun pasti bikin keder nan “ndredeg”. Tapi ya gitu, harus tetep semangat ^^

  5. Pas awal2 kerja di bali dulu juga gitu, bingung sama peraturan kantor haha. tapi lama lama ya paham juga.

    Selamat ya mas, semoga betah. Jangan memaksakan berwirausaha dulu kalau sudah nyaman kerja di sini ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *