CopyWriter Itu Apa Sih?

Apa Itu CopyWriting?

Lagi demam copywriter. Padahal ilmu itu udah ada sejak lama. Tiap tahun sebenarnya ada trend yang bisa kita lihat di jagad Internet Marketing Indonesia. Pernah ingat dulu demam Google Adsense? Sekarang mlempem. Lalu ada depam CPA. Kemudian ada demam bisnis online dan startUp digital. Semua ada demamnya sendiri-sendiri. Sekarang, ada nih demamnya copywriting atau penulisnya disebut copywriter.

Saya sendiri sebagai penulis hal tersebut bukanlah hal baru. Namun tekniknya, cara mengolah idenya, mendapatkan idenya, risetnya, itu yang bisa terus berkembang. Mudahnya begini. Bagaimana teman-teman semua menulis sebuah judul artikel di blog? Pernah merasakan judul artikel yang teman-teman tulis itu hambar? Kalau ya, maka itulah yang disebut butuh “polesan” dari copywriting.

Saya bekerja di bikinvideomarketing dot com, lalu di spiritUs. Saya pikir, membuat story board sebuah iklan itu bisa dipraktekkan membuat status atau postingan di fanpage. 11-12, bisa iya, tapi pengalaman saya banyak tidaknya. Akhirnya harus belajar lagi menulis copywriter. Kalau teman-teman mengenal kata AdCopy, ya itulah yang saya tulis. Besar kecilnya begitu. Bedanya dimana? Seperti dokter gigi dan dokter umum. Sama-sama dokter tapi tetap saja berbeda. Lalu saya dipertemukan oleh mas Bondan yang menangani CoverSuper dan MangrovePrinting oleh atasan saya untuk lebih kenal dengan copywriting.

Prinsipnya sama yaitu:

Bagaimana Menulis Sebuah Iklan yang Gak Berasa Ngiklan.

Bingung? Sama. Iklan ya ngiklan. Eh, taunya ada ilmunya. Contohnya begini. Kita pernah muak gak sama online shop di Instagram? Pernah kan ya? Tiba-tiba muncul di komentar foto kita lalu nulis, “kakak pembersih wajah 100% alami memutihkan kulit, lihat-lihat dulu loh.” Lalu kita cepat-cepat laporkan dan menandai sebagai SPAM atau BLOCK. Cara-cara iklan seperti itu, dan menulis iklan seperti itu, menandakan bahwa si pemilik online shop ingin dapat pelanggan dengan cepat tetapi tidak mau memahami kondisi pelanggannya sendiri.

Kalau kata mas Dewa Eka sebagai praktisi copywriting bilang, “siapa elo nyuruh-nyuruh gue beli.” dan itu yang harus kita ubah. Cara kita menyampaikan maksud dari yang kita mau pada pelanggan harus diubah. Apakah ada kaitannya dengan soft selling dengan hard selling? Ada. Copywriting lebih condong pada menaruh hard selling dan soft selling dengan tepat. Belum kenal jangan buru-buru hard selling. Itu maksudnya.

Lain pakar lain dong ilmunya. Jelas. Kalau mas bondan bilang, pahami sensasi 5 panca indranya. Teman-teman jualan parfum, pasti yang teman-teman tonjolkan adalah sensai penciuman kita. Harumnya, wanginya. Padahal bisa di tampilkan dari panca indra lainnya seperti perabaan, bagaimana diraba botolnya, bagaimana desain botolnya, bagaimana warna cairannya, rasakan sensasinya, dan tunjukkan pada pelanggan. Teknik ini disebut “show don’t tell”. Ajak pelanggan berimajinasi tentang produk anda, bukan cuma sekedar panjang lebar menjelaskan tanpa henti.

Lain lagi pakar lainnya yaitu mas Ava. Beliau menekankan adanya “awareness” dan “knowledge”. Seringnya produk online yang kita lihat dimana pun mengedepankan, “knowledge” tanpa memperhatikan “awareness”nya. Contoh nih. “Bu, blender ini multi fungsi loh. Bisa membuat gak hanya jus. Tapi juga selai, sampai bubur. Tingkat kehalusannya berbeda-beda. Tersedia 4 macam pisaunya. Bisa ini bisa itu, blablabla.” Itu yang disebut “knowledge” yaitu pengetahuan tentang produk untuk pelanggan. Terlalu banyak produk “knowledge” membuat pelanggan sudah paham bahwa kita mau ngiklan. Kalau terlalu sering juga pelanggan paham kita memaksakan fungsi dan keunggulan produk, padahal mereka belum tentu butuh. Untuk “awareness” kita bahas lain kali ya. Huehehe…

Dari 3 orang master itu, saya belajar banyak bahwa di dunia jual beli, harus ada kalimat yang menarik perhatian pengunjung. Layaknya novel, paragraf pertama harus NENDANG agar pembaca mau melanjutkan ke paragraf berikutnya hingga habis dibaca. Intinya, copywriting adalah cara untuk teman-teman mengenalkan ke orang lain produk yang teman-teman jual, semenarik mungkin, secerdas mungkin, tanpa ada unsur memaksa dan membuat orang lain rela membeli produk teman-teman dengan alasan apapun. Alasan butuh, alasan karena diskon, alasan karena terbatas, alasan lain yang bukan paksaan. Tanpa ada ketakutan. Tanpa ada rasa enak tidak enak. Nah, itu pekerjaan rumah teman-teman semua yang ingin mendalami copywriting.

Saran saya, praktek sebanyak mungkin. Baca juga referensi berbahasa Inggris. Coba ke marketplace luar negeri dan lihat judul / headline jualan mereka seperti apa, penjelasannya seperti apa, call to actionnya, jika membuat anda tertarik ingin beli, jangan beli dulu, copy dan paste saja ke notepad dan pelajari. Lalu coba dengan produk anda sendiri. Itu cara termudah. Tingkatan copywriting sendiri sama seperti kuliah. Semakin sulit dipraktekkan maka semakin ampuh caranya. Coba nonton the apprentice, itu reality show yang mengajarkan menjual kepada banyak orang dengan berbagai cara. Mirip seperti copywriting tapi dengan produk langsung door to door.

8 Comments

  1. yazidane 01/03/2017
  2. rahardjo 08/05/2017
  3. Anisah Ku 03/07/2017
  4. showcasemu 29/07/2017
  5. Berita Artis 31/07/2017
  6. adi pradana 04/09/2017
  7. Made Gelgel 16/09/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *