Cerpen: Musim Ke Tiga

Musim Ke Tiga

Hujan air sudah biasa. Bagaimana dengan hujan daun yang gugur? Aku berjalan diiringi gemulainya daun gugur musim ke tiga. Rimbunnya pepohonan yang hijau telah tiada. Meranggas perlahan dengan udara yang setengah hangat. Sisa musim panas sebelumnya, dan ini hampir mendekati musim dingin. Oktober hampir berakhir, menjelajahi negeri ginseng ini tidak bisa sering-sering. Aku harus berjaga. Tetap terjaga.

“Ru, gak kemana-mana?” Seorang teman dekat yang menetap tiga tahun di Ansan, Korea Selatan, bersamaku menanyakan hal yang tak perlu kujawab.

“Bukankah sudah tahu jawabanku apa?” Ledekku menaikkan sebelah alis. Dia tertawa menghina.

“Aku mau ke Istana Deoksugung, mau ikut?” Aku menggeleng dan membiarkannya berlalu cepat. Ritme yang sadis tak akan membiarkan siapa pun bernafas lega. Tidak bagi orang Indonesia yang punya kebiasaan santai. Andy memang lebih cekatan dari siapa pun yang kukenal di Ansan. Kami berdua cukup beruntung namun, Andy lebih beruntung.

Bekerja dengan majikan orang Korea asli yang beristri perempuan Indonesia banyak enaknya. Ya, tidak bisa disamaratakan semua sih, tapi nyatanya aku menikmatinya. Restoran dengan masakan khas Indonesia selalu diserbu oleh para pekerja dari Indonesia. Cukup banyak orang Indonesia di Ansan. Rasanya tidak seperti di Korea saja. Pekerjaanku selalu berakhir tragis di akhir pekan. Sebagian pekerja Indonesia biasanya akan mengambil lembur, tapi tetap saja banyak. Membuat lelah harus mengantar pesanan dan membersihkan meja sedangkan antrian di luar restoran tidak berkurang drastis.

Kuseka bulir keringat yang telah memenuhi dahi.

“Kau tidak sepintar Andy ya Ru.” Seloroh majikanku, Bu Sandra yang sedang asyik menikmati pemandangan restorannya yang penuh. Kupaksakan membalasnya dengan senyuman.

“Ya, segini saja harusnya sih bagiku cukup Bu Sandra.”

“Ya, jangan begitu. Untuk apa kamu sampai terbang jauh-jauh ke Korea hanya untuk jadi pramusaji? Heh! Jangan cuma mikir gaji saja. Sebenarnya gaji orang Indonesia di Korea tidaklah bagus. Korea hanya menang kursnya saja.” Aku mengangguk, sekali lagi kupaksakan. Benar, satu kali gaji di Ansan setera sebelas kali gaji di Yogyakarta. “Cobalah seperti Andy. Sekarang dia malah punya pacar orang Korea. Sudah tahun ketiga, dia sudah jadi manager restoran. Sudah bisa ongkang-ongkang kaki.”

“Nah, kalau begitu, kenapa Bu Sandra tidak menjadikanku manajer juga?” Ledekku yang mulai sebal dengan sindiran-sindirannya itu.

“Mau ditalak suamiku?! Enak saja! Makanya kerja yang giat! Katanya kamu ingin jadi penyanyi di sini. Kenapa tidak pergi ke Seoul?! Audisi menyanyi banyak sekali di sana setiap tahun. Jangan sia-siakan umurmu! Sana kerja lagi!” Bu Sandra menempeleng kepalaku. Beberapa pelanggan tampak tertawa melihatku dimarahi. Sepertinya suara Bu Sandra tadi terlalu kencang.

Aku membayangkan daun-daun berguguran di Istana Deoksugung. Andy pasti sedang menikmati daun ginko yang menguning, jatuh perlahan-lahan sembari berpegangan tangan. Sial! Aku jadi iri.

“Heru! Meja yang nomer delapan belum dibersihkan!” Teriak suami Bu Sandra. Aku membungkuk cepat dan setengah berlari untuk membersihkannya.

Ya, aku ke sini memang bukan sekedar mencari penghasilan. Umur juga belum genap 30 tahun. Masih ada kesempatan untuk memperjuangkan apa yang kulakukan. Setidaknya aku juga ingin membanggakan Indonesia. Setidaknya aku juga ingin mengharumkan nama bangsa.

Akhir Oktober, semoga negeriku baik-baik saja. Semoga sedikit pajak yang kubayarkan sebagai devisa negara ini mampu melepas sedikit dahaga. Ya, semoga harapanku sehangat musim ke tiga di Korea. Semoga saja.

Cerita pendek ini adalah partisipasi dari seorang teman yang bernama Hening. Untuk memeriahkan even yang diadakannya dan juga karena temanya sumpah pemuda, semoga tetap nyambung ya. Intinya adalah tetap berjuang meski di mana pun kita berada. Tidak sekedar menyerah karena telah mendapatkan penghasilan yang cukup, tetapi juga tetap berjuang meraih cita-cita. Selamat hari sumpah pemuda (telat yak.. haha). Selamat berjuang.

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

15 Replies to “Cerpen: Musim Ke Tiga

  1. Heru ini ada beneran?
    Yang pernah kubaca, tiap orang punya pengorbanannya sendiri2. Andy yang kelihatannya sudah mapan pasti ada pengorbanan yang diambil darinya, yang kita nggak tahu. Semoga Heru segera sukses ya hahahahha

    1. Yups, begitulah, Andy itu orang yang ada disekitar kita yg sering kita anggap lebih beruntung dari kita. Heru itu di korea gak ada kok. Cuma fiksi aja buat refreshing yang baca.

  2. Halo mas Hanif, salam kenal. Membaca cerpen ini jadi teringat sepupu saya yang kerja di sana. Bagaimana usahanya dia yang keras dan membuahkan hasil yang bagus. Tapi, dia justru milih balik ke indo, katanya seenak-enaknya hidup di negeri orang lebih enak tinggal di negeri sendiri, hehehe. Btw mas, menyenangkan jalan-jalan di blogmu, banyak ceritanya. Sukses terus!

    1. Salam kenal Kak Wisyesa, oh, malah ada yang sepupu kerja di sana? bener sih, tapi aku malah merasa pengen banget ke luar negeri ya kerja disana, sebagai penulis :D Terima kasih sudah mampir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *