CerMin: Selongsong Peluru Berdarah

Ia terlentang menahan sakit. Dada kiri ditekan sekuat tenaga, peluru menembus dada kirinya. Hampir saja mengenai jantung. Ia mencoba bertahan dan tetap hidup. Mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak. Sesekali tersedak karena menyumbat tenggorokannya. Matanya nanar menatap angkasa. Awan putih seperti gulali bergerak lambat. Anyir darah dan bau matahari. Tiga gagak sudah mengincarnya. Bertengger di tiang listrik untuk menanti kematiannya. Makan mewah bagi gagak hitam.

“Sudah seharusnya kamu menyerah, katakan saja sejujurnya, dimana rancangan rahasia yang kamu sembunyikan?” seorang pria. Berbalut busana jas hitam. Dengan memegang pistol berkaliber 9 mm.  Dialah yang melepaskan tembakan. Pada sosok tubuh yang tergeletak menahan ajal.

Wajah putihnya mulai berkeringat. Dia mulai bosan dengan permainan ini. Menyisir rambut klimisnya yang mulai rusak, lalu mendekati sosok lemah itu.

“Baiklah jika kamu bersikeras untuk tidak berbicara tentang rancangan itu, aku akan memberikan satu lagi rasa sakit sebelum menemui kematianmu.” Pria itu menodongkan pistol, tepat di paha kaki. Satu lagi letusan senapan api itu dimuntahkan oleh pistolnya. Peluru melesat cepat. Teriakan sosok lemah tak berdaya mengudara ke angkasa. Membuat barisan gagak terbang berlarian.

Panas terik mentari tidak lagi mampu menahan emosi. Sakit yang teramat sangat. Sosok tubuh itu mencoba lagi bertahan. Kali ini dia mencoba meninggalkan pesan kematiannya. Tangan kirinya yang bebas meraih kunci. Keemasan di dalam saku celananya. Digenggam erah hingga menusuk telapak tangan. Hingga darah mengalir lagi. Ini kesempatan terakhirnya. Hidup bukanlah lagi yang dipikirkannya. Jika saja kunci itu nanti dilihat oleh pria itu, sang eksekutor, maka habislah perkara. Semoga polisi lebih dulu menemukan kuncinya. Saat tubuhnya ditemukan tergeletak disini dengan kematian.

“He…he… Kamu.. tidak.. akan.. bisa menemukannya kawan.. Kembalilah pada mother. Aku.. yakin.. dia.. akan.. membunuhmu.. gagal dalam tugasmu..” hinaan dilontarkan sosok lemah, dia menikmatinya.

Lain dengan pria berjas hitam. Naik pitamnya tak tertahankan lagi. Satu lagi suara tembakan dilepaskannya. Kali ini mengenai paha kaki lainnya dari sosok lemah itu. Tidak ada lagi teriakan. Dirinya telah lelah kehabisan tenaga. Sayang suara tembakan ketiga kali di kompleks pergudangan lama ini adalah kecerobohan. Seorang pemulung datang setelah yakin suara tembakan didengarnya benar-benar ada. Pemulung itu mendekati mereka berdua. Ini kesalahan besar.

“Ada apa dengan kalian? Bukannya ini daerah tertutup, dilarang masuk, aku saja tidak bisa masuk seenaknya jika tidak mengelabui petugas jaga, dari tampilan kalian, kalian orang kaya. Dan itu… Kenapa dia berdarah. Tergeletak disana. Kenapa kamu diam saja? Bawa dia ke rumah sakit.”

Pria itu tersenyum penuh arti. Kelicikan dan ketamakan. Satu lagi peluru dilepaskannya mengenai dahi pemulung itu. Tamat sudah hidupnya. Kesalahan kecil bisa merusak rencananya.

“He..he. Kenapa membunuhnya? Itu.. kesalahan.. besar kan? Ta..matlah.. kau.” ucap sosok itu sambil terbatuk-batuk. Darah telah menggenang, layaknya danau dibelakang punggungnya.

“Haha, masih saja mengoceh seperti biasa. Kau tahu, itu bukan kesalahan yang perlu dipikirkan. Jika ada yang mati disini selain dirimu, berarti perburuan mencariku oleh polisi akan berakhir. Kau lihat? Semua orang yang mati karena aku adalah yang memegang potongan-potongan rancangan rahasia dari bosmu. Tidak pernah sebelumnya aku menembak orang sipil, sekarang itu terjadi. Maka analisa kepolisian akan membuat mereka sendiri kesulitan mencariku.”

Pria itu dengan bangga menyatakan bahwa apa yang dilakukannya dengan sempurna.

Sosok itu tidak senang, perasaannya hancur, rencananya bisa gagal. Tidak mau kalah hebat, dia memasukkan kunci keemasan itu dalam tubuh yang tertembah. Di paha kirinya. Sambil menahan sakit.

“Baiklah, kuhabisi saja dirimu sekarang ini. Mother mengatakan kamu membawa suatu hal yang bisa berkaitan dengan rancangan rahasia itu. Cukup keras kepala ternyata. Padahal orang-orang sepertimu hanyalah pesuruh. Lihatlah pesuruh bosmu lainnya. Mereka mati tidak sia-sia. Aku menjanjikannya kehidupan setelah mereka mengatakan dimana rancangan itu. Hm.. Bagaimana denganmu? Ingin hidup? Katakanlah dimana rancangan terakhir yang kamu bawa?”

Sosok itu tertawa, mencoba mengambil sedikit upaya dan semangat dalam dirinya. Untuk menghina pria itu tentunya.

“Hi..dup.. kata..mu? Ak..u.. Sudah.. ta..hu.. teman..te..manku.. mati.. se..mua..” ia terbatuk lagi.

“Oh, ternyata kamu juga tahu itu ya? Ya, tidak ada yang hidup dari mereka. Itulah mengapa aku katakan bahwa hidup mereka tidak sia-sia. Setidaknya mereka telah berjasa pada pekerjaanku. Juga pada mother. Yasudahlah, lagipula kamu juga akan mati. Kupercepat saja.”

“Per..se..tan.. den..gan.. Mo..the..r.” peluru melesat lagi. Empat peluru kini tertanam di tubuh sosok mati itu. Peluru terakhir tepat mengenai kepalanya. Dahinya tertembus. Sudah berakhir hidupnya.

Pria itu membersihkan sidik jari di pistol itu. Dengan sapu tangan dan tak lupa membersihkan lumuran darah yang mengenai wajah dan tangannya. Dia merogoh semua saku sosok mati itu. Tidak ditemukan apapun. Hanya handphone, kunci mobil, dompet berisi beberapa kartu identitas dan uang.

“Halo, mother, saya tidak menemukan apapun ditubuhnya. Bagaimana?” pria itu menelpon motherSuara dari telpon itu menunjukkan seorang wanita dengan nada tegas dan berani.

“Tidak perlu, kembalilah, cepat sebelum ada yang mengetahui kelengahanmu. Aku sudah menyiapkan orang lain, yang lebih tahu tentang desain rancangan itu.”

“Baik mother.” Pria itu lalu bergegas meninggalkan sosok mati itu. Kini sosok mati ada dua. Burung gagak begitu perkasa. Terbang melingkar bersama diatas dua sosok mati itu. Siap untuk turun dan menanti anyir darahnya menjadi busuk. Daging lezat siap menjadi santapan mereka.

FIN.

16 Comments

  1. Raaifa 31/03/2014
    • Hanif Mahaldi 31/03/2014
  2. Idah Ceris 31/03/2014
    • Hanif Mahaldi 31/03/2014
  3. Sunandar 31/03/2014
  4. Linda 31/03/2014
    • Hanif Mahaldi 31/03/2014
  5. Naufal 31/03/2014
  6. cumilebay.com 01/04/2014
    • Hanif Mahaldi 04/04/2014
  7. farizalfa 02/04/2014
    • Hanif Mahaldi 04/04/2014
  8. ndop 04/04/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *