CerMin: Cerita Mini Ala A.S Laksana

Oke, karena fiksi The Brain Machine tidak sanggup saya hadirkan terus karena kurangnya waktu dan konsistensi, maka saya menghadirkan fiksi lainnya yang bisa teman-teman baca sebagai hiburan. Tidak mini-mini juga kok, paling tidak 1000 kata maksimalnya. Ini murni terinspirasi oleh penerbit Bentang Pustaka yang sering ngadain kuis CerMin (cerita mini) namun dalam Bahasa Inggris. Sedangkan ini versi saya yang berbahasa Indonesia. Beragam topiknya, jadi ikuti saja ya. Oia satu lagi. Karena saya juga sudah beli buku karya A.S. Laksana, maka cara pembuatan CerMin di blog ini mengacu pada tutorial disana.

Saya tidak membahas bagaimana cara menulisnya, itu tidak etis karena berarti saya melegalkan isi buku tanpa izin pemiliknya. Sehingga teman-teman tinggal membaca saja cerita jadinya. Selain itu ini dikarenakan ingin belajar. Setiap orang punya gaya tulisannya sendiri. Setiap penulis juga punya cara mereka mengajarkan cara menulis sendiri-sendiri. Saya mengambil cara A.S. Laksana, tapi dilain hal misalnya untuk koran, kolom, artikel, saya mengambil dari Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D. Namun dilain fiksi yang butuh konsistensi, saya mengambil dari Winna Effendy. Untuk cerita detektif dan kriminalitas, saya belajar banyak dari sastra inggris lama seperti penulis edgar alan poe (kisah auguste dupin) dan sir conan doyle (sherlock homes).

Intinya tetap pada tekhnik ATM (Amati Tiru Modifikasi). Karena hampir tidak ada ide orisinal dan gaya orisinal tersendiri. Jadi tidak etis juga jika tidak belajar dari banyak orang jika ingin menulis dengan baik. Nah, berikut cerita mini yang bisa teman-teman baca ya. :) sekedar menghibur saja. Silahkan kritik dan sarannya.

Coffe Shop

Jam kantor sudah usai, setidaknya hampir satu jam berdiri di depan lobi. Sambil menanti hujan mereda. Sedikit saja, agar ia bisa beranjak dan bergegas menepati janji dirinya. Prestasi kenaikan pangkat hari ini tidak membuatnya gembira. Sudah bisa ditebak, tersurat dari senyum di bibirnya. Ia adalah orang terakhir di kantor yang mendapatkan kenaikan pangkat. Itupun tak membuatnya sedih. Biasa saja semua baginya.

Awan mendengar keluhnya. Hujan perlahan mereda dari tangisnya di sore itu. Ia langsung menuju parkiran. Sepeda motor dinyalakannya, lalu bergegas menuju coffe shop tempat yang sudah dijanjikan.

“Maaf aku terlambat, hujan, ya lupa juga bawa jas hujan,” permohonan maafnya disambut senyum hangat. Wanita itu telah lama menantinya.

“Tidak masalah, lain kali kujemput saja pakai mobil, tidak ada lagi menolak kebaikanku,” ia membuat syarat. Ia tidak bisa menolaknya lagi. Walau sudah hampir sepuluh kali tawaran itu ditolaknya.

“Ya, aku menyerah, lain kali aku ikuti saranmu, sudah pesan?” Ia tak ingin larut dalam perdebatan. Ia membenci hal-hal merepotkan.

“Sudah, punyamu juga sudah, maklum lagi rame, pegawai baru juga sepertinya, mereka kurang luwes,” melirikkan pandangan ke salah satu pegawai baru. Ia mengangguk setuju.

“Bagaimana Bram dengan kenaikan pangkatmu? Seneng dong ya, kita rayakan nih sekarang,” Ia tersenyum sederhana. Tidak banyak berkesan dari gestur tubuhnya. Tidak ada semangat disana.

“Biasa saja Yas, sudah kuceritakan kalau aku diangkat yang paling terakhir, percuma, sudah hampir enam tahun bekerja disana. Rasanya ingin pindah tapi tidak ada bedanya juga nanti,” ujar Bram dengan nada yang datar.

Tyas maklum, pria dihadapannya terlalu sederhana. Tyas hanya kagum, seharusnya dedikasi Bram dihargai lebih. Disaat teman-teman lainnya diangkat karirnya oleh perusahaan, malah kabur dengan berbagai alasan.

Kopi mocachino dan latte telah datang dengan dua cangkir berukuran sedang. Hangat dan aroma kopi kental membuat mereka kembali bersemangat. Bram tidak lagi gundah. Kesukaannya pada latte tidak bisa ditutupi. Sesekali Tyas tertawa. Bram menyeruput kopi tanpa mengangkat cangkirnya. Unik bagi Tyas. Bram ikut tertawa saat ada bekas kopi di bibir Tyas. Bahkan lipstik berbentuk setengah bibir juga menempel di cangkir. Mereka tertawa bersama.

“Bagaimana rencanamu setelah ini?” tanya Tyas meragu. Kegembiraan hening seketika.

“Hm… Entahlah, menikahimu mungkin?” Bram balik bertanya. Bibir Tyas memanyun. Rasa jengkel ditunjukkannya.

“Ini hampir setahun loh, tidak bisakah dirimu serius Bram? Sudah sepuluh kali tawaran menjemputmu kamu tolak. Sudah berulang kali kamu menolak juga agar aku bisa bertemu dengan orang tuamu. Lantas sekarang menikahiku menjadi kemungkinanmu?” tampak guratan emosi terlihat. Bram menghela nafas panjangnya.

“Ya, secepat mungkin aku iyakan semua inginmu. Kecuali satu hal. Tidak menjemputku di kantor. Ok?” Tyas kembali tersenyum. Bahkan kegembiraan yang telah sirna dalam sunyi kembali lagi.

Mereka bercanda kembali. Bram lalu protes soal pakaian Tyas yang cukup seksi, rok pendek, wangi parfum L’amour yang menyengat, baju kerja yang cukup transparan. Tyas cuek saja dengan itu. Malah balik menyerang Bram yang terlalu sederhana dengan celana licin obralan, kemeja lengan panjang yang memudar, dan sepatu pantovel yang mulai rusak kulitnya. Sore itu benar-benar bahagia bagi mereka berdua.

Bram mengantar Tyas hingga masuk ke mobil jazz merahnya. Dengan cepat Tyas memberi isyarat untuk segera menghubunginya setelah Bram sampai di rumah. Bram hanya tersenyum mengangguk pasrah. Tyas berlalu cepat, hujan sepertinya akan datang lagi. Bram tidak ingin tertinggal dan kalah dengan hujan. Ia mempercepat laju sepeda motornya. Kerlap-kerlip lampu jalanan, pertokoan, dikala maghrib mulai menemani perjalanannya. Pikirannya penuh sesaat kemudian.

“Sudah pulang kamu mas? Kok gak denger suara motormu ya? Abis dari Coffe Shop lagi?” cecar pertanyaan dari perempuan di dalam rumah.

“Iya sayang, aku baru saja pulang. Biasa, urusan bisnis.” jelas Bram sederhana pada perempuan itu.

“Huff… Kamu kapan mau cerita ke perempuan itu, Tyas, jika kita sudah berumah tangga? Hanya gara-gara dia anak dari Bos perusahaanmu, dan kamu lagi mengumpulkan keterangan, bukti, apapun tentang kecurangan perusahaanmu lantas bisa bersenang-senang bersama Tyas, jangan begitu Bram. Ini sudah setahun.” Perempuan itu memaksa, merajuk, agar Bram menyudahi peran gandanya untuk perusahaan.

“Sabar ya Sayang, Nita, pada saatnya kebusukan perusahaan akan terungkap. Aku bisa melaporkan segera pada pihak yang lebih bertanggung jawab. Lalu posisiku di perusahaan akan menguat. Perlahan menghilang dari kehidupan Tyas, dan kita bisa segera menunjukkan diri pada dunia tentang hubungan kita ini.” Bram memeluk perempuan itu dari belakang, Nita, istri Bram setahun yang lalu. Tidak sah secara negara, namun sah secara agama.

Misi Bram untuk menjatuhkan Bos perusahaan hampir berakhir. Dua sisi peran dengan Tyas juga akan segera berakhir. Ia hanya tersenyum puas. Rasa sabarnya setelah enam tahun diinjak-injak oleh atasan, akan segera menemui jalan terang. Setidaknya ia memikirkan tentang cara menikmati penderitaan atasan, bos perusahaan, setelah dulu, mereka menyiksa Ayah Bram dengan karir yang tidak pernah diangkat seumur hidupnya. Bram dengan penuh dendam.

Fin.

8 Comments

  1. Zizy Damanik 21/03/2014
    • Hanif Mahaldi 21/03/2014
  2. duniaely 22/03/2014
    • Hanif Mahaldi 23/03/2014
      • cumilebay.com 27/03/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *