Bukan Semata-mata Soal Uang

Perjalanan hidup. Sederhana saja. Sebenarnya hakikat manusia itu mencari kebahagiaan. Pikiran terdalamku membawa pada kehidupan yang lebih hakiki. Ini bukan soal agama kok. Jadi santai saja. Ini soal pekerjaan atau berwiraswasta.

Oke, postingan artikel sebelumnya menjelaskan tentang begitu banyaknya orang menjadi jobseeker. Adakah yang salah? Jawaban pro dan kontra bermunculan. Hingga dititik yang saya perlu kritisi sebagai manusia pencari kebahagiaan. Titik itu adalah banyaknya sekarang ini wirausaha muda. Dengan jargon kemandirian dan percepatan kekayaan, program seminar wirausaha kini mengalahkan seminar tentang dunia kerja. Titik itu jugalah yang menciptakan pandangan hidup bahwa lebih mulia sebagai mereka yang berwirausaha dibandingkan dengan yang bekerja.

Siang tadi saat asyik-asyiknya nonton TV series Amerika yaitu Sherlock (2010), ada panggilan masuk ke hape saya. Nomer asing. Tidak kenal. Tapi ada kode depan itu kode wilayah. Kode wilayah kota solo. Panggilan untuk tes tulis tanggal 20 maret. Lowongan kerja sebagai editor di solo pos adalah minatku. Dengan penantian panjang hampir 5 bulan lamanya di kota Jogjakarta, akhirnya lowongan itu dibuka juga. Sempat terbesit untuk menyerah karena lama sekali dibuka. Belum lagi lowongan tersebut dibuka dari tanggal 4 hingga 7 maret. Lewat dari tanggal itu, pupus sudah harapan.

Pupus harapan sirna saat telpon itu kuterima. Semoga kekosongan kegiatan bisa segera dilalui. Lalu apa tidak mencoba berwirausaha. Sudah. Tentu sudah. Bukan panggilan hati ternyata. Gagal tidak, namun belum maksimal saja. Intinya bagaimana kita berkontribusi untuk diri kita sendiri dan orang lain. Fleksibel saja. Tidak perlu menghakimi mereka yang bekerja. Tidak perlu juga menghakimi mereka yang berwirausaha. Karena tanpa adanya transaksi jual-beli, tidak ada yang namanya karyawan. Tidak ada karyawan, transaksi jual beli juga tidak maksimal.

Bukan Semata-mata Soal Uang

Tidak untuk Uang Semata

Jika tidak disadari dengan hati dan pikiran, uang hanya menjadi satu alasan utama meraih kebahagiaan. Jatuhnya tidak bahagia juga nantinya. Sudah jadi wirausaha, uang puluhan sampai ratusan juta, tapi masih saja merasa kurang. Sudah jadi karyawan, di perusahaan bonafid, jabatan bagus, bahkan dapat bonus mobil dan rumah, masih saja merasa kurang.

Hidup berkarir sejatinya hidup untuk berkarya. Saya merasakan sendiri berkarya tidak terikat instansi. Kadang uangnya banyak, kadang benar-benar hemat dan terkesan pelit. Lalu ingin memacu karya lagi, saya coba untuk terikat instansi. Selain tentu di artikel sebelumnya karena tuntutan orang tua, juga karena ingin mendalami lebih jauh passion hidup saya, mendalami yang saya cintai tentang pekerjaan.

Apa Benar-benar Tidak Ingin Berwirausaha?

Itu rahasia hati. Apapun jawabannya bisa menjadi batu sandungan dikemudian hari. Pastinya ingin berkontribusi dalam hal passion saya. Tidak takut dalam ketidakpastian. Tidak juga jenuh dalam kepastian. Ah, senangnya menjalani hidup itu jika tidak melulu mikirin soal duit, ujung-ujungnya duit. Jadi nikmati saja posisimu. Semoga uang mengikuti kelak saat berkarya lebih baik lagi.

17 Comments

  1. Catcilku 19/03/2014
    • Hanif Mahaldi 20/03/2014
  2. cumilebay.com 19/03/2014
    • Hanif Mahaldi 20/03/2014
  3. ronal 19/03/2014
    • Hanif Mahaldi 20/03/2014
  4. duniaely 20/03/2014
    • Hanif Mahaldi 20/03/2014
    • Hanif Mahaldi 23/03/2014
  5. papapz 24/03/2014
    • Hanif Mahaldi 26/03/2014
  6. annosmile 27/03/2014
  7. ndop 04/04/2014
    • Hanif Mahaldi 04/04/2014
  8. chrisy 22/10/2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge