Biarlah Jenuh itu Datang dan Berlalu

Saya merasakannya sekarang kejenuhan itu datang. Aneh tapi nyata. Bayangkan kita mencintai apa yang kita lakukan, kerjakan, usahakan. Tapi kita merasa jenuh dengannya. Pernahkah kamu demikian?

Saya mencintai dunia tulis menulis. Sudah sekitar dua puluh halaman berbentuk jurnal terbaru untuk saya persembahkan pada penerbit menjadi buku. Tapi ada rasa jenuh, padahal saya masih terus melakukannya. Seperti saya butuh makan tapi jenuh dengan makan. Aneh ya? Perasaan ini datang dari mana sebenarnya?

Tulisan sebelumnya pernah saya bahas tentang mood booster. Saya temukan ini cuma mood. Bad mood tepatnya. Tapi saya berhasil mengatasinya. Hal seru sederhana saya adalah membaca dan menulis. Baik offline maupun online. Tapi mengapa mood booster sudah bisa ditemukan dan dilakukan, saya lalu menjadi jenuh. Seperti ini-ini saja kegiatan saya mengalami jatuh bangunnya mood. Seperti menulis tidaklah begitu spesial bagi saya padahal hidup saya disana.

Banyak membaca dari banyak artikel online, mereka yang membagi pengalamannya tentang rasa bosan terhadap apa yang mereka cintai.

James Clear menulis dalam artikel blognya, salah satunya seperti dibawah ini,

If you want to be a great writer, then having a best-selling book is wonderful. But the only way to reach that result is to fall in love with the process of writing.

Ada benarnya. Cinta terhadap menulis saya masih transaksional. Masih seperti jual beli. Saya menulis jika memang ada kesempatan menang (jika dalam lomba). Saya menulis jika memang ada peluang laku keras (jika menerbitkan buku). Hingga saya tidak bisa mencintai apa yang saya hidupi itu dengan jujur dan tulus. Hati lelah dengan nilai, uang dan angka yang tidak kunjung diharapkan.

Akhirnya jenuh itu saya biarkan datang sekarang, sesuka hati, seenak hatinya, lalu saya biarkan pergi cepat. Secepat menarik dan menghembuskan nafas. Secepat berdoa saat mengetik ini dan mengaminkannya. Ya, biarlah jenuh itu tetap ada agar saya sadar bahwa ada yang kurang dari niat saya melakukan sesuatu. Semoga teman-teman yang jenuh segera hilang jenuhnya.

Yuk tarik nafas… Huppp… Lepaskan… Fiuh… :)

Hanif Mahaldi

Seorang laki-laki, usia antara 25 tahun sampai nanti, kriting dan berkacamata, kulit sawo gelap, baru saja lulus tahun 2013 dari dunia perkuliahan. Seorang blogger, buzzer, dan penulis.

11 Replies to “Biarlah Jenuh itu Datang dan Berlalu

  1. Postingan diatas menggambarkan dengan jelas bahwa penulisnya sedang jenuh :(

    Memang saya juga melakukan sesuatu yang saya cintai hanya kalo mood sedang baik mas :)

  2. memang terkadang kita juga merasa bosan mas kalo begini-begini saja tanpa ada nya perubahan.. tinggal nunggu mood saja mas nanti juga balik lagi gairah nya :D hehe

      1. haha emang apa salahnya ngobrol atau ngegosip mas :D kalo memang sekiranya itu membuat kita senang ya lakukan saja :D apalagi dengan sahabat dekat :)

  3. mungkin kita dapat jenuh menulis karena ngak ada yang menantang diri dalam menulis tersebut.
    coba cari tantangan dalam menulis itu, mungkin itu dapat meningkatkan gairah dalam menulis…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *