Berani Mencoba Hal Baru

Dunia semakin maju bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Belum lama kita memakai facebook dan twitter, sekarang sudah memakai path dan instagram. Telah banyak perubahan lebih cepat dari yang seharusnya. 100 tahun bisa disingkat menjadi 50 tahun. Perubahan dari tahun 1980 ke 1990 tidaklah banyak, tapi dari tahun 2000 ke 2010 sangatlah banyak. Seakan-akan hidup ini terlalu cepat untuk dilalui.

Semasa anak-anak, kita semua adalah manusia yang memiliki daya imajinasi yang tinggi. Tidak heran banyak pertanyaan diluar logika yang masih kita tanyakan pada orang tua kita. Hingga tumbuh menjadi remaja dan dewasa, belajar tidak lagi kita lakukan. Hanya belajar dalam hal yang formal, di sekolah atau di kampus. Tapi tidak belajar di kehidupan.

Rasa jenuh memang bisa datang dan pergi sesuka hati. Tapi yang penting, maukah kita belajar hal baru? Hal baru yang positif tentunya.

Tidak harus selalu hal baru itu menantang adrenalin. Tidak harus yang mengeluarkan biaya mahal. Tidak harus juga bepergian jauh dari rumah. Hal baru yang bisa kita pelajari sekarang ini. Di tempat kita sekarang ini.

Di rumah, tidakkah kita bisa berolahraga, atau mencoba memasak masakan baru. Atau belajar apapun dari internet. Di kantor, kita bisa belajar mengenai divisi lain yang ada di kantor. Di kampus atau di sekolah, kita bisa datang ke perpustakaan, sekedar ingin tahu jurusan kuliah lainnya mempelajari apa. Hal baru bisa kita lakukan banyak sekali. Kita hanya enggan mengerjakannya.

Banyak yang bilang, “untuk apa, buang-buang waktu, mending saya fokus pada pekerjaan saya,” padahal belum tentu yang berkata itu juga sedang fokus. Setiap orang butuh mood booster. Setiap orang pasti jenuh. Setiap orang butuh inspirasi lain yang dilihatnya dari buku, film, atau orang lain. Hal baru yang belum pernah kita lakukan membantu kita belajar. Otak setidaknya tidak berhenti berpikir kreatif.

Seseorang atlet tetaplah akan jenuh menghadapi hidup jika dia menang dalam kejuaraan dan tidak belajar lagi untuk berprestasi. Setidaknya hal baru yang dikerjakan atlet itu membantunya belajar menganalisa keadaan baru yang dihadapinya. Atlet yang cerdas setidaknya belajar dari luar lingkungan atletnya, terutama belajar memahami konsep kesabaran dalam bertanding. Pernah lihatkan seorang atlet yang kalah hanya karena dia salah langkah, terlalu emosi dari wajahnya, hingga musuh menang dengan mudah karena mendapatkan nilai dari kesalahan yang dilakukan oleh atlet tersebut?

Coba saja teman-teman cek di youtube, “fail in athlete”, maka akan didapatkan vidio dimana banyak sekali kesalahan dalam perlombaan karena tidak belajar hal baru dalam kehidupan. Sehingga terlihat aneh, konyol, dan lucu, padahal mereka athlete, bisa kalah karena kesalahan konyol, atau karena kegagalan mengatasi emosi dirinya sendiri saat bertanding.

Kita tidak ingin kalah? Menyerah pada rasa jenuh? Mari kita belajar hal baru dalam kehidupan kita.

13 Comments

  1. Dzaky Farras N 24/04/2014
  2. Putri 24/04/2014
  3. Riri 24/04/2014
  4. Sunandar 26/04/2014
    • Hanif Mahaldi 26/04/2014
  5. Hendrik 27/04/2014
    • Hanif Mahaldi 27/04/2014
  6. TONGKONANKU 29/04/2014
  7. Adi Pradana 03/05/2014
  8. Tahta Laksana D 12/10/2014
  9. Bams 13/01/2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *