Apa Saja yang Bisa Dijadikan Ebook?

Oke, pembahasan kali ini mengenai judul diatas. Kira-kira apa saja?

Jika menurut ketentuan, maka ebook sama halnya seperti buku fisik. Bedanya hanya dionlinekan saja. Padahal jika kita mau berkreasi, ebook bisa kita buat lebih berwarna dan lebih meriah lagi.

Mudahnya begini, jika kita mencoba membaca buku novel berupa ebook dimana tampilannya sama persis dengan buku fisiknya, apa yang terjadi?

  • Ngantuk bacanya?
  • Bosen bacanya padahal ceritanya bagus?
  • Cepat lelah?
  • Kurang greget? (seperti ada yang kurang tapi sulit dijelaskan)
     

benar demikian? BENAR!

Jadi harus bagaimana agar cerita yang kita buat misalnya, atau laporan investigasi kita (ceileh…), atau tips dan trik dari otak kita yang cerdas ini mampu tersalurkan sebaik-baiknya melalui ebook itu?

Saya menerapkan hal ini, bisa teman-teman kritisi atau komentari nantinya,

Gambar/Foto Come ON!

Nah, bahkan novel berbentuk ebook perlu sekali gambar. Memang tantangan novel adalah adanya imajinasi pembaca. Dimana penulis menciptakan alur imajinasi yang bisa direka-reka sesukanya oleh pembaca. Tapi hello… ini ebook. Lain buku fisik. Dimana adanya radiasi dari layar monitor dari hape, laptop, tablet, dapat membuat mata lelah. Harus direvolusi. Caranya? Berikan gambar.

Gambar atau foto bisa diberikan di setiap awal bab. Mudah bukan? Setidaknya mampu memberikan warna tersendiri yang dapat membuat pembaca tidak jenuh dan mudah lelah. Hal ini tidak perlu dibahas jika ebookmu tentang tips dan trik seperti resep masakan, seputar teknologi, seputar traveling, atau seputar liputan terkini. Sudah pasti ada gambarnya.

Perjelas Jarak Baca!

Nah, pernah baca ebook jarak spasinya 1? Atau bahkan 0,5? Itu loh, jarak antara baris pertama dengan baris kedua dan selanjutnya terlalu dekat. Bedanya jika di blog itu sudah terdefault dari themenya agar jaraknya demikian. Sehingga kita cukup mencari theme yang mementingkan retina responsive. Sedangkan ebook?

Cukup beri jarak lebih besar. 1,5 sampai 2. Agar perhalaman cepat habis dibaca oleh pembaca. Fungsinya mereka tidak lelah melihat-lihat halaman yang terlalu banyak tulisan. Ini bisa mengakali juga jumlah halaman yang sedikit menjadi banyak namun tetap nyaman dibaca. Bukan sebaliknya, menulis cukup padat dan banyak halamannya. Alamat sudah tidak sampai habis sudah ditutup itu ebook. (bukan alamat palsu ya… :D)

Potong Perbab Agar Lebih Singkat!

Yups. Lebih lelah mana, membaca dengan bab sedikit misalnya sampai 6 bab tapi perbab sampai 20 halaman, atau membaca 30 bab dengan 4 halaman perbabnya?

Pembaca menikmati sensasi membaca dengan lebih nyaman saat dia tahu melewati 1 bab ke bab selanjutnya bukanlah perjuangan yang berat. Bagaimana dengan novel? Itu terlalu sedikit bukan babnya, karena perlu banyak ulasannya. Mudahnya, carilah novel kenamaan, terkenal, lihat berapa halaman perbabnya di buku fisik. Lalu kurangi saja 2-3 halaman untuk bab ebookmu. Ya, jika masih terlalu banyak 1 babnya, potong lagi.

Sudah jelas? Jika belum mari diskusi. Hehe. Mari, mungkin paparan saya malah terlihat salah dipengalaman teman-teman. Tapi ya inilah yang saya lakukan.

26 Comments

  1. ririn 14/08/2014
    • Hanif Mahaldi 14/08/2014
  2. Tiyo Kamtiyono 14/08/2014
    • Hanif Mahaldi 14/08/2014
  3. EventJogja Dot Com 15/08/2014
    • Hanif Mahaldi 15/08/2014
  4. Blogs Of Hariyanto 16/08/2014
    • Hanif Mahaldi 17/08/2014
  5. Volverhank 17/08/2014
    • Hanif Mahaldi 17/08/2014
  6. Dunia Ely 18/08/2014
    • Hanif Mahaldi 19/08/2014
  7. Oka Hyu 20/08/2014
    • Hanif Mahaldi 20/08/2014
  8. Zizy Damanik 20/08/2014
    • Hanif Mahaldi 21/08/2014
  9. Toni 20/08/2014
    • Hanif Mahaldi 21/08/2014
  10. ronal 20/08/2014
    • Hanif Mahaldi 21/08/2014
  11. Jas Pengantin 21/08/2014
  12. Fahmi Anhar 25/08/2014
  13. Kang Try 29/10/2015
  14. bayumayo 02/12/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *