12 Teknik Menulis Cerpen Untuk Pemula

Selamat datang di tutorial pertama. Blog ini sebelumnya sudah lama mati suri. Maklum penulisnya terombang-ambing dengan berbagai tuntutan materi dunia. Hehe. Oleh karena itu, blog ini sempat menganggur beberapa bulan. Kasihan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Oke, kali ini, setelah menghapus 99% tulisan yang ada di blog ini dan hanya menyisakan satu saja artikel paling lama yang terbit tahun 2013, saya akan mulai lagi dan yang lebih serius yaitu tentang dunia tulis menulis.

Saya menganggap, kamu yang sudah sampai di artikel ini adalah orang-orang yang sedang mencari tutorial menulis. Benar? Terutama menulis cerpen ya. Karena membaca banyaknya tutorial menulis cerpen kok kamu masih belum juga menulis dan menghasilkan karya. Berharap setelah membaca di sini, kamu bisa dapat pencerahan dan bisa segera menerbitkan karyamu. Kita mulai ya, dengan teknik yang pertama.

#1. Tentukan Dulu, Sastra atau Bukan

Jika tidak ditentukan diawal, maka kamu akan terjebak ditengah perjalanan.
Logikanya adalah jika kamu mau pergi ke surabaya dari jakarta, maka kamu tentukan mau naik mobil atau pesawat. Keduanya akan menghasilkan tujuan yang sama, namun caranya berbeda. Cerpenmu akan jadi juga pada akhirnya tapi apakah dia kategori sastra atau bukan itu harus ditentukan diawal.

Kok harus? Tentu. Pengalaman saya, jika tidak ditentukan diawal, ditengah menulis cerita saya terhenti dan akan banyak mengedit. Menulis sastra tentu lebih rumit. Pemilihan kata harus tepat. Adanya majas-majas seperti personifikasi, hiperbola, dan lainnya setidaknya harus masuk dalam cerita. Sedangkan menulis cerpen bukan sastra memiliki banyak kebebasan.

Lucu akhirnya kalau tujuannya menulis sastra tapi dalam cerpen tersebut tidak ada satu pun unsur-unsur sastra. Coba baca sebuah puisi terkenal mana pun. Saya yakin antara pemahaman kamu dan orang lain terhadap puisi itu bisa berbeda. Kenapa? Karena itu adalah sastra. Sedangkan karya bukan sastra, orang-orang lebih mudah menyimpulkan maksud dari penulisnya dalam karyanya.

Bagi saya sendiri, memilih untuk menulis cerita pendek bukan sastra. Lebih bebas dari banyak hal seperti bebas temanya, bebas pemilihan katanya, bebas latarnya, bebas apakah harus ada unsur pembelajaran moral atau tidaknya. Namun tetap berkualitas dan enak untuk dibaca.

#2. Cukup Satu Masalah yang Diangkat

Berbeda dengan novel, teknik menulis cerpen untuk pemula ini haruslah punya patokannya sendiri. Jika novel bisa kita hadirkan berbagai macam masalah, tidak dengan cerpen. Karena cerpen tujuannya adalah bacaan ringan, bisa dibaca 5 sampai 10 menit dan dalam satu kali duduk.

Contohnya nih, kalau cerpenmu dibaca oleh orang lain melalui hape mereka, dan mereka membacanya satu kali duduk maka kamu berhasil membuat cerpen. Tapi kalau tidak maka kamu bukan membuat cerpen. Bisa saja kamu membuat cerbung (cerita bersambung) atau bahkan novel.

Satu masalah dalam cerpen menjadikan ceritanya singkat, padat dan jelas. Tidak berbelit-belit, tidak juga menjadi kendor ceritanya. Kalau dirangkum dalam satu kalimat pun, orang-orang bisa menyimpulkannya dengan tepat. Seperti ini,

Seorang anak perempuan mencoba melarikan diri dari masa lalunya yang kelam, namun sayangnya gagal.

Contoh kesimpulan itu kalau tidak hati-hati bisa meluas kemana-mana. Untuk itu, penulisnya harus menuliskan spesifik masa lalu anak perempuan itu seperti apa dan itulah masalahnya. Lalu mencoba menyelesaikan masalahnya di masa sekarang dan kenapa dia gagal menyelesaikannya.

Jika melebar, tandanya akan ada cerita masa lalu yang ternyata dituliskan dan bukan menjadi masalah. Atau ternyata penyelesaiannya malah menimbulkan masalah baru. Atau ternyata tokohnya bertambah karena adanya masalah baru. Inilah mengapa dalam menulis cerpen pun, tetap harus bisa singkat, padat, dan jelas.

#3. Paragraf Pertama Harus Berupa Adegan


Tujuannya agar cerpenmu tidak terkesan klise, basi, dan biasa saja. Sekarang ada dua contoh yang saya akan berikan, silahkan kamu memilih yang mana.

Pagi masih belum beranjak walau ayam sudah bernyanyi ribut sekali. Aku mencium aroma telur dadar goreng khas buatan Ibu. Tapi, mata ini masih berat sekali kubuka.

Bandingkan dengan satu paragraf berupa adegan berikut,

Aku melempar gelas tepat pecah ke arah tembok. Berantakan semuanya di lantai. Aku sudah kesal dengan bunyi ayam tak tahu diri itu. Sedangkan ibu melihatku dengan tatapan matanya yang rancu. Seakan tidak percaya putranya bisa bertindak seliar itu.

Terasa berbeda ya? Adegan membantu pembaca sesegera mungkin memasuki cerita yang kamu buat. Paragraf pertama di bab awal memiliki nilai sampai 50% untuk bisa menjadi penentu apakah ceritamu akan dibaca atau tidak oleh pembaca.

Jangan heran kalau tulisanmu sebenarnya bagus tapi tidak dibaca karena masih mengandalkan cara menulis seperti pada contoh paragraf pertama. Terlalu bertele-tele. Saya juga pernah begitu kok. Terlalu lama memasuki adegan tokoh utama sehingga terkesan membosankan dan tidak menarik.

Masih sanggup mengikuti teknik menulis cerpen untuk pemula ini kan? Masih ya, kita lanjutkan.

#4. Pilihlah Antara 3, 5 dan 7 halaman Dulu

Bagi pemula, walau cerpen sekali pun, memaksakan untuk bisa menulis sebanyak mungkin. Kesalahan ini sering terjadi sehingga alur cerita akan kendor di pertengahan halaman. Misalnya, ceritamu sebenarnya bagus selesai di 3 halaman saja. Tapi diedit dan ditambahkan menjadi 7 halaman. Akhirnya, alur cerita melebar dan pembaca sudah tidak berminat saat sampai di halaman ke 5.

Tidak perlu terlalu ikut syarat-syarat dari penerbit atau kontes menulis cerpen. Kamu hanya perlu membuat sebanyak mungkin cerita tanpa terikat dengan jumlah halamannya. Sehingga kamu akan punya banyak cerita nantinya dengan beragam jumlah halaman.

Saya sendiri punya cerita pendek yang hanya tiga halaman sampai 20 halaman. Baik dengan ukuran kertas A4 sampai A5. Saya sendiri tidak mengejar target dari penerbit atau kontes menulis mana pun, karena kalau ada cerita yang saya buat cocok dengan syarat yang diberikan oleh penerbit atau kontes menulis, maka saya kirimkan. Jika tidak cocok ya sudah, saya bisa kumpulkan menjadi kumpulan cerpen.

Pemilihan jumlah halaman ini akan berkaitan dengan teknik menulis cerpen selanjutnya.

#5. Bagi Ceritamu Menjadi Tiga Babak

Teknik ini sudah usang, tua, tapi masih tetap powerful. Radityadika juga pernah membahas ini. Bahkan penulis terkenal lain pun demikian. Sehingga mereka yang sudah paham dan latihan dengan tiga babak ini mudah sekali menghasilkan karya. Baik novel maupun cerpen.
Tiga babak itu apa saja?

  • Intro/Prolog
  • Masalah/Konflik
  • Outro/Epilog/Penyelesaian

Bagi pemula tidak perlu keluar dari pakem yang sudah ada. Cukup diutak atik saja.
Bagi saya sendiri, setelah menentukan berapa halaman yang ingin saya buat untuk satu cerpen, misalnya 3 halaman, maka halaman pertama berisi intro atau adegan tokoh utama dengan tokoh lain dan lingkungannya. Dalam keadaan masih tahapan wajar. Tidak ada konflik rumit, tidak ada masalah besar, bisa berupa menceritakan masa lalu, atau kondisi baik dan buruknya saat ini.

Halaman kedua bisa langsung disuguhkan konflik tokoh utama dengan tokoh lain dan lingkungannya. Masalah disini haruslah menjadi pembeda yang sangat jelas dari babak lainnya. Ibarat seperti gunung, intro adalah jalan mendakinya dan masalah itu adalah puncak gunungnya. Sedangkan outro adalah jalan menurunnya. Mana yang lebih terlihat? Tentu puncak gunungnya.

Sehingga masalah ini setidaknya harus berkesan dibenak pembaca. Konflik tokoh itulah yang nanti akan dikenang oleh pembaca. Sama halnya saat kita sedang mendengarkan gosip. Yang menarik perhatian kita bukan awal mula gosip itu terjadi atau bagaimana gosip itu mereda. Tapi gosip itu tentang apa sih? Gosip itu masalahnya tentang apa sih? Benar kan?

Itulah mengapa, bagi ceritamu jadi tiga babak. Tidak harus sama persis hitungannya. Kalau halamannya ada 5, ya bagi saja 1,5 halaman pertama adalah intro, 2 halaman berikutnya adalah konflik, dan 1,5 halaman sisanya adalah outro.

#6. Jangan Mengedit Cerita Ditengah Menulis

Pernah merasa cerita yang sedang kamu tulis rasanya tidak menarik, jelek, pengen diganti? Setiap penulis merasakan hal itu. Sekali lagi, setiap penulis merasakan hal itu dan tidak terkecuali. Baik penulis pemula maupun berpengalaman memiliki perasaan kalau tulisannya tidak baik dan bagus. Apalagi saat ditengah menulis cerita itu sendiri.

Mengedit cerita saat menulis membuat kita tidak berhasil menyelesaikan satu cerita apa pun. Bahkan kalau itu cuma 3 halaman cerpen saja. Saya mengalaminya dan parahnya masih sering terulang. Cara mengatasinya sederhana. Selesaikan dulu tulisanmu, dieditnya nanti belakangan. Kapan? Kalau cerpen bisa dua hari berikutnya sampai seminggu kemudian.

Kenapa kita merasa begitu ya? Ingin sekali cerita kita edit terus dan terus. Karena kita ingin cerita kita sempurna mungkin. Padahal sempurnanya cerita tidak datang dalam satu hari. Jika satu cerpen kamu selesaikan dalam waktu satu hari, maka di seminggu kemudian, setelah kamu baca lagi ceritamu, kamu bisa mengeditnya lebih baik. Otak akan segar kembali dan melihat tulisanmu lebih objektif.

Bahkan beberapa kali saya tidak melakukan editing setelah selesai menulis selama seminggu itu. Pas dibaca, ternyata sudah masuk standar kualitas yang saya mau. Sedangkan kalau saya nekat untuk mengedit saat menulis, yang ada ide akan terganggu dan tulisan akan sulit sekali selesai. Tandanya yang paling sering ditemui adalah jalan cerita yang melenceng dari yang sudah kita rencanakan sebelumnya.

#7. Bacalah Apapun Saat Senggang


Teknik sederhana ini sering disepelekan. Saya akan tertawa jika ada orang mengaku suka membaca novel tapi tidak bisa menyebutkan novel yang terakhir dia baca. Atau mereka yang suka menulis tapi tidak menyukai membaca buku. Karena itu hal yang konyol.

Ide datang tidak selalu saat kita membaca karya fiksi berupa cerpen atau novel. Ide bisa datang dari bacaan yang tidak ada kaitannya dengan dunia fiksi. Saya ambil contoh seperti ini.

Saya mengalami kesulitan dalam menceritakan sebuah latar tempat rumah dalam adegan tokoh utama di dalam rumah. Lalu bagaimana saya mengatasinya? Ya, saya membaca majalah, website, apa pun yang berkaitan dengan arsitektur, desain interior, dan rumah. Hal itu tidak saya dapatkan dalam membaca novel orang lain.

Ini seperti riset ya, tapi sedikit berbeda. Artinya, jika kamu sudah menulis ceritamu, lalu kamu ingin agar dua hari kemudian atau seminggu kemudian kamu bisa mengedit dan naik kualitas tulisanmu, maka bacalah banyak hal. Dari arsitektur, ekonomi, budaya, hal yang aneh, sejarah, apa pun. Karena ingatan kita akan menguat nantinya dan akan menjadi sebuah ide.

Entah ide itu akan ditambahkan dalam cerita kita atau tidak, kita jelas akan lebih punya kendali. Bayangkan kalau setelah menulis cerpen dan tidak membaca. Ya, saat kita membaca ulang cerpen itu sama saja kita juga bingung mau mengedit ceritanya seperti apa.

#8. Ngobrol Dengan Orang Lain, Orang Baru, Topik Lain

Jujur saya sudah tidak pernah nonton televisi. Selain sudah saya jual televisinya, saya juga tidak berminat. Jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan menonton youtube. Hehe.
Satu teknik menulis cerpen untuk pemula adalah mereka-reka adegan atau membayangkan adegan dengan kejadian nyata untuk menjadi bahan menulis sebuah cerita.

Untuk itu, baik kamu sudah menulis atau belum, mengingat kembali obrolan dengan teman, dengan orangtua, saudara, atau bahkan kamu mewawancarai orang lain secara tidak resmi bisa menjadi senjata ampuh untuk memperkuat adegan-adegan dalam ceritamu.

Misalnya nih, kamu pesen gofood dan ternyata, abang gojeknya lama. Pas datang ada deh obrolan sebentar. Tentang tanya harga, bertanya kenapa lama, dan sebagainya. Sederhana, tapi kita bisa membayangkan sensasi adegan itu. Dalam cerita bisa kita pakai atau bisa kita kembangkan lagi. Semisal menjadi adegan obrolan penugang kuda yang membawa surat dengan orang kerajaan.

Bisa ya? Sudah delapan teknik menulis cerpen dan saya rasa sudah bisa dan tidak lagi kehabisan ide menulis.

#9. Menggabungkan Dua Topik yang Berbeda

Nulis cerpen cinta? Biasa. Tapi kalau digabungkan topik cinta dengan topik pembunuhan? Menggabungkan dua topik adalah teknik ampuh dan sederhana bahkan bisa dibilang menjadi senjata andalan untuk penulis mana pun. Artinya, dalam suatu konflik cerita, selalu ada berbagai macam topik yang dibahas silih berganti.

Ini berlaku juga untuk cerpen ya. Saya sering menggabungkan dua topik berbeda. Seperti topik persahabatan dengan topik horror hantu. Lalu topik cinta dengan topik thriller pembunuhan. Kemudian topik keluarga dengan topik fantasi. Topik ini bisa juga disebut genre. Setelah itu, tinggal buat komposisinya saja.

Semisal topik cinta dan topik fantasi. Ingin kita kedepankan apanya? Topik cintanya? Maka dari itu topik cinta 70% dan topik fantasi 30%. Jadi masalahnya tetap seputar cinta dua manusia namun fantasi sebagai bumbunya saja. Persentase penggabungan topik ini terserah padamu. Bahkan kalau pun cuma tempelan tidak masalah. Semisal topik cinta 90% dan topik fantasi 10%. Ternyata topik fantasinya hanya seputar tokoh utama yang merupakan jelmaan dari karakter game yang keluar mencari cinta sejatinya.

Mudah ya? Tidak sulit kok. Tinggal praktek saja. Masih kuat? Kalau sudah tidak sanggup, bookmark dulu artikel ini, dan bisa dibaca lagi nanti. Setidaknya 9 teknik menulis cerpen untuk pemula ini sudah bisa jadi andalanmu agar kamu bisa mencoba menulis fiksimu sendiri.

#10. Belajar Membuat Plot Twist

Plot twist sering saya gunakan untuk menipu pembaca. Kok gitu? Iya, tapi dalam artian yang baik.
Semisal nih, kita sudah pakai tiga babak, maka plot twist merupakan babak keempat atau penyelesaian yang tidak semestinya.

Mudahnya seperti ini. Tokoh utama akan mendapatkan masalah, karena masalahnya cukup besar, maka pembaca mengharapkan adanya happy ending atau berakhir dengan bahagia. Tapi faktanya, penulis malah menuliskan sad ending atau berakhir dengan kesedihan. Ini sering terjadi dan boleh untuk kita lakukan sebagai penulis.

Contohnya, seorang remaja jatuh cinta, setelah berjuang keras ditolak berkali-kali, dia menemukan penyelesaiannya yaitu dia sadar kalau cinta tak harus memiliki. Tapi ternyata diakhir cerita, dia malah mendapatkan kejutan kalau cintanya akhirnya diterima. Jadi pembaca sudah mengira kalau tokoh utama tidak mendapatkan cintanya, dari karakter si tokoh kedua yang berulang kali menolak tokoh utama. Tapi ternyata keadaan berbalik dan membuat pembaca akan berpikir sejenak dan melogikakan apa yang sebenarnya terjadi.

Plot twist ini sendiri saya pakai kalau ternyata, cerpen saya terasa hambar, kurang menarik, mudah ditebak akhirnya. Tugas penulis adalah membuat pembaca terhibur. Sehingga agar tulisannya dibaca dan disukai, dia harus bisa memberikan kejutan-kejutan pada cerpennya yang tidak bisa diduga oleh pembaca.

Plot twist ini juga bisa ditemui di berbagai cerita detektif, thriller, kriminal, percintaan yang saling memanipulasi, dan topik-topik yang biasanya untuk pembaca kalangan dewasa.

#11. Memilih Sudut Pandang Orang Pertama


Kenapa saya taruh sudut pandang ini dibagian teknik nomer sebelas? Agar kamu bisa segera menulis tanpa harus bingung soal sudut pandang. Karena sudut pandang orang pertama atau orang ketiga adalah yang paling sering menjadi beban bagi penulis dan tidak bisa menyelesaikan tulisannya.

Jadi, harapannya, kamu sudah punya satu cerita dan mulai mengira-ngira tulisanmu atau cerpenmu itu termasuk kategori sudut pandang orang pertama atau ketiga.

Dan, bagi pemula, saya pastikan untuk lebih mudah adalah sudut pandang orang pertama. Diri kita sendiri memposisikan sebagai tokoh utama yang berpetualang di dalam cerita yang kita buat sendiri.

Jadi, kamu belajar untuk menuliskan bagaimana sih diri sendiri kalau takut itu, kalau senang itu, kalau sedih itu, karena sudut pandang orang pertama membuat pembaca seakan-akan menjadi tokoh utamanya. Sehingga kita sendiri sebagai penulis pun harus bisa memposisikan diri sebagai tokoh utama.

Agar tidak gagal menggunakan sudut pandang orang pertama, usahakan kita selalu berada di posisi tokoh utama. Tidak boleh berpindah ke tokoh kedua, ketiga, dan lainnya. Sehingga kita tidak serba tahu. Kita berada di posisi terbatas. Kita tidak tahu maksud dan tujuan tokoh diluar tokoh utama. Contohnya seperti ini,

Aku menuangkan teh hangat pada cangkir dengan tangan bergetar. Aku mencuri pandang sesekali pada Tuan berkumis lebat di depanku yang tampak lebih sangar dari preman pasar. Aku masih menunggu-nunggu ucapan yang akan meluncur dari mulutnya.

Dari contoh adegan berupa narasi itu, kita bisa mengambil kesimpulan kalau sudut pandang orang pertama tidaklah serba tahu. Dia terbatas layaknya kita tidak pernah tahu isi pikiran teman-teman kita. Jadi sudut pandang orang pertama sangat cocok bagi penulis pemula untuk memahami cara mengembangkan karakter tokoh utamanya.

Bagaimana kalau sudah pakai sudut pandang orang ketiga? Tidak masalah, tapi lebih banyak hasil cerpenmu dengan sudut pandang orang pertama itu lebih baik sebagai bahan pembelajaran.

#12. Menyimpulkan Film-film Pendek

Teknik ini cukup rahasia bagi saya. Hehe, saya buka karena butuh diskusi lebih lanjut dengan kamu yang membaca artikel panjang ini. Sebagai penulis cerpen, kita setidaknya harus bisa menyimpulkan suatu hal yang kita lihat. Istilahnya adalah observasi.

Observasi bisa juga mengamati. Artinya kita melihat dan berpikir sejenak lalu merenung dan bertanya pada diri sendiri, sebenarnya apa yang terjadi. Seperti halnya kita mengamati sebuah film pendek. Ingat ya, bukan film berdurasi satu jam lebih, tapi film pendek berdurasi paling lama 15 menit.

Coba cari di youtube. Film-film pendek dengan berbagai macam genre. Dari menyimpulkan, kamu bisa menulis ulang film itu dalam bentuk cerita.

Apakah ini plagiat? Tentu tidak jika untuk pembelajaran. Artinya, kita harus paham dulu alur cerita film pendek yang baik itu seperti apa. Coba tentukan tiga babak dari film pendek itu, tentukan juga tokoh utamanya memiliki karakter seperti apa, dan adakah plot twist di akhir filmnya? Dengan begitu, semakin mudah menuliskan cerpen untukmu nantinya.

Oke, sudah semua ya, sebenarnya masih banyak dan masih terus berkembang teknik menulis cerpen untuk pemula. Setidaknya, 12 teknik ini bisa digunakan satu saja atau dua saja atau beberapa diantaranya. Sekarang, silahkan praktek. Kalau ada yang mau didiskusikan, silahkan di kolom komentar ya.

 

 

Share Ke Teman-temanmu Ya...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.